Jatuh Hati

Jatuh Hati
13. Nasi Goreng


__ADS_3

HAPPY READING . . . :P


^^


^^


^^


****


Salah satu dari tiga gadis cantik itu terbangun dari tidurnya. Gadis itu pun melirik jam dinding yang ada di kamar ini dan menunjukan pukul 05.35 pagi. Gadis itu berjalan ke arah kamar mandi yang berada di ruangan ini untuk mencuci muka dan juga menggosok gigi lalu kembali ke tempat tidur untuk membangunkan ke dua temannya yang masih berada di alam mimpi.


"Duh nih bocah-bocah masih nyaman aja tidur di rumah orang, ya udah deh biarin aja mereka puasin tidurnya, gue keluar dulu ah laper..." gadis ini berjalan ke arah dapur yang berada di rumah ini.


Sempat ia berfikir kalau tidak sopan untuk berkeliling bahkan memakan makanan di rumah ini tanpa sepengetahuan pemiliknya namun perutnya sudah tidak bisa di ajak kompromi dan dia mengabaikannya pemikirannya tadi.


"gmGue masak nasi goreng deh... bahan-bahannya juga lengkap, nasinya banyak.. gue buat porsi banyak aja deh, siapa tahu temen-temen gue juga laper.." gadis ini dengan lihainya memasak menu sarapannya pagi ini karena ia juga sudah terbiasa memasak saat di rumahnya dan belajar bersama ketua pelayan di rumahnya –Esmeralda– jadi dia cukup pandai dalam hal memasak.


Saat nasi goreng itu siap di hidangkan tiba-tiba seseorang memeluknya dari belakang dan meniup-niup tengkuknya. Gadis itu kesal dan memilin tangan orang yang berani memeluknya sembarangan.


"Aduh..aduh. woi sakit, lepasin..." gadis itu segera melepaskan pilinannya saat ia tahu kalau orang yang memeluknya seenak jidadnya itu adalah tuan rumah.


"Jadi cewek kok ganas banget!! Masak apaan lo?!?" Tanya tuan rumah itu yang tak lain adalah Jevan.


"Lagian jadi orang suka banget peluk-peluk sembarangan!!" kesal gadis itu seraya mengerucutkan bibirnya ala donal bebek.


"Ya elah gitu aja marah, maaf deh maaf asal lo gak marah lagi..." Ujar Jevan sambil memperhatikan gadis itu yang menyusun piring dan nasi goreng tadi ke atas meja beserta minumannya.


"iya iya..." Ujar gadis itu.


"Maura lo masak apaan nih?" Tanya Jevan pada gadis itu yang tak lain wanita yang ingin ia miliki. Maura.


"Emangnya lo gak bisa liat apa!! Ini namanya nasi goreng, sorry Jev gue udah makai dapur lo tanpa izin lo..." Ujar Maura saat mengingat ia belum meminta izinnya pada Jevan.


"haha dapet masakan gratis..." Ujar Jevan dalam hatinya.


"iya gue maafin tapi ada satu syarat.." Ujar Jevan membuat Maura menoleh dengan cepat.


"Apaan ? jangan yang aneh-aneh ya!!" Maura harus waspada dengan orang yang telah merangkap monster di depannya ini.


"Gak aneh-aneh kok, Cuma harus ada satu piring nasi goreng yang juga harus lo sedia in buat gue.." Ujar Jevan sambil nyengir kuda dan Maura hanya bisa menggelengkan kepala karena mendengar syarat Jevan yang terdengar aneh.


"Lo kalau mau minta bilang aja napa! Gengsi amat, pake acara buat syarat segala!" Ujar (Maura) yang sedang menyendokan nasi gorengnya ke piring Jevan.


"kan bahan-bahannya punya gue, kenapa harus minta!" Ujar Jevan yang masih mempertahankan gengsinya.


"Ya kan gue yang masak..."balas (Maura).


"Tetap aja lo yang minta sama gue" Jevan tetap tak mau kalah dengan gadisnya.


"Terserah lo deh.. gue bangunin temen gue dulu yaa... oh ya hati-hati masakan gue gak enak lhoo.." Ujar Maura sebelum pergi ke kamarnya tadi dan meninggalkan Jevan yang bergidik ngeri dengan ucapan Maura tentang masakannya sendiri.


"Bodo amat! Mau enak kek! Mau enggak kek yang penting gue makan masakan dia!" Ujar Jevan lalu menyendokan nasi itu ke dalam mulutnya.


"Masakan enak begini di bilang gak enak, gue tahu dia tkut gue abisin... tenang aja pasti gue abisin!!" Ujar Jevan yang terus menyendokan nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan lahap dan kembali menambahkan nasi goreng itu ke dalam piringnya.


"Jevaan!!! Kenapa tinggal dikit??" Maura yang tiba-tiba muncul kaget karena nasi goreng yang seharusnya menjadi jatah makannya dan teman-temannya jadi lenyap seketika.

__ADS_1


"Gue laper lagian lo lama banget sih jadi ya gue makan aja" Ujar Jevan dengan watados (Wajah Tanpa Dosa) nya.


"aah Jevaaan, gue kan juga laper..." regek Maura yang melihat nasi gorengnya sudah ludes dan hanya tinggal di piring Jevan saja.


"Duduk sini kalau lo laper.." Jevan menepuk bangku di sampingnya, mengisyaratkan Maura agar duduk di sampingnya dan itu di patuhi Maura.


"Gue suapin makannya biar cepet kenyang" ucapan Jevan ini membuat Maura bingung dan terlihat aneh.


"Enggak ah, biar gue makan sendiri.." Ujar Maura yang masih berusaha mengelak.


"Kalau gak mau gue suapin berarti gak usah makan.." ancam Jevan.


"iya deh gue mau.." Ujar Maura dan Jevan tersenyum senang.


Entah kenapa kelakuan Jevan bisa berubah menjadi lebih aneh seperti ini. Teman-temannya saja menatap Jevan dengan tatapan bingung begitu juga dengan zoya dan acha dan jangan lupakan Maura yang masih cengo di buat Jevan.


"Ngunyah aja kok rempong banget.." Jevan mengambil nasi yang ada di sudut bibir Maura dan itu membuat darah Maura berdesir aneh.


"Gue kenapa yaa? Kok jadi grogi gini sih??" Ujar Maura dalam hatinya.


"Duh efek nih anak gede juga buat gue.."Ujar Jevan dalam hatinya.


"Gue udah selesai Jev.." Ujar Maura karena memang sudah kenyang padahal baru beberapa sendok Jevan menyuapinya.


"Kan cepet kenyangnya... sering-sering aja gue suapin .." Ujar Jevan lalu berdiri dari tempatnya dan berjalan menuju kamarnya.


"Aneh" Ujar Maura dan menggeleng-gelengkan kepalanya pelan.





"Ngapain lo di sini!!" akhirnya zoya angkat bicara karena sudah muak dengan kebisuan yang menyudutkannya dan juga acha.



"Masih belum kapok lo!!" ucapan andin ini benar-benar membuat zoya ingin tertawa.



"Kapok ? sama lo? Ngapain?!? Yang ngerjain kita kemarin itu Jevan bukan lo! Yang ada kita yang nanya kayak gitu, gak kapok lo di kurung di gudang..." Ujar zoya sambil tersenyum sinis dan menatap penuh kemenangan saat andin terlihat memucat begitu juga dengan tiga antek-anteknya.



"Takut ?"ledek acha yang benar-benar merasa menang saat andin merunduk dan menatap mereka berdua pucat tapi detik kemudian dia menghela nafas lega dan tersenyum angkuh.



"Takut buat apa ? kenapa gue harus takut?" ucapan andin sangat menantang membuat zoya dan acha semakin jengkel.



"Karena lo itu lemah!" sahut acha.


__ADS_1


"Gue gak akan lemah karena ada kakak kesayangan gue Jevan yang pasti ngejaga gue.." Ujar andin yang sangat angkuh.



"Terus lo kira kalau ada Jevan kita bakal tunduk gitu sama lo?!? Sorry ya gak akan!!" Ujar zoya dan dibalas anggukan dengan acha.



"Yang bener?" suara itu sangat mengejutkan zoya dan acha. Suara itu adalah suara milik Jevan yang baru saja ia bicarakan.



Bayangkan saja betapa takutnya zoya dan acha sekarang karena kata-kata mereka seperti menantang Jevan tapi sekuat tenaga mereka tidak terlihat lemah dan berharap dalam hatinya agar Maura ada di sini.



"Bener! Dan buat apa kita tunduk sama mereka ha???" sahut acha ragu dan zoya yang ketakutan karena Jevan sekarang duduk di samping zoya.



"Berarti boleh di coba dong, masih mau main-main sama gue??" Ujar Jevan seakan mengancam dengan seringai jahat miliknya.



"Boleh, mau main di mana ?"suara lembut yang berasal dari belakang Jevan membuat zoya dan acha menghela nafas lega.



Zoya dan acha menatap Maura yang duduk di samping Jevan dengan senyuman yang sangat manis. Maura mengerti tatapan zoya itu hanya terkekeh pelan, tatapan zoya mengartikan 'untung lo dateng' membuatnya geli sendiri.



"Mau main apa ?" Tanya Maura dan membuat Jevan menjadi terdiam dan entah kenapa Jevan terlihat salting di depan Maura.



"Mampus lo ?" Ujar zoya lewat tatapannya yang ia tujukan untuk andin, Karin, luna,dan nadia.



'menarik' batin Maura.



.



.



.



.

__ADS_1



TBC


__ADS_2