
HAPPY READING :D
*****
Drrrtt...Drrrrtt...Drrrtt
Sudah berkali-kali ponsel Maura berbunyi dan dia mengabaikannya karena sang penelfonnya tak pernah berubah nama, penelfon itu adalah Jevan. Maura menjadi kesal dan menyesal karena menerimanya menjadi pacar walau niat Maura hanya ingin bermain-main saja.
"Berisik banget sih nih orang! Ganggu aja!!! Eh kok beda?" Maura memperhatikan layar ponselnya.
Calling . . .
+62896xxxxxx00
Nomor yang tak di kenal menelfonnya dan Maura berfikir itu Jevan yang sedang mencoba menghubunginya dengan no temannya, mungkin ?. Maura mengangkatnya karena kesal sudah di ganggu di tengah malam seperti ini.
"Hallo!!!" ketus Maura saat menjawab telfon itu.
"...."
"Eh maaf saya kira temen saya"
"..."
"Ooh ini kamu"
"..."
"Harus sekarang ya ?"
"..."
"ya udah aku siap-siap dulu"
Maura segera bergegas untuk bersiap-siap saat telfon itu terputus. Entah karena apa Maura mau menerima ajakannya, orang baru ia kenal. Waktu menunjukan pukul 01.25 dan ini tengah malam Maura tak merasa curiga kepadanya dan memilih untuk menurutinya saja.
****
Wanita ini tersenyum senang saat mendapat kabar dari lelakinya. Sebentar lagi sesosok orang yang amat ia rindukan akan kembali ke pelukannya. Sudah bertahun-tahun lamanya wanita ini menunggu hari itu tiba dan malam ini lah saat itu. Saat-saat yang sangat membahagiakan untuknya.
"Dimana dia sekarang??" Tanya wanita itu dengan mata yang berbinar kepada lelakinya.
"Sebentar lagi, tunggu sebentar lagi sayang.. aku juga merindukannya.." Ujar lelakinya.
Keheningan pun menyelimuti ke duanya dengan rasa rindu di dada yang tak dapat mereka tahan lagi. Tedengar suara langkah yang mendekat ke arah mereka membuat mereka ingin segera melihat siapa yang datang.
"Papa..." Pemuda yang baru saja datang segera berlari memeluk lelaki itu dan tak lama muncul seorang gadis manis dari belakangnya yang juga berlari ke arah lelaki itu.
"Paa, maa aku merindukan mu" Ujar pemuda itu yang memeluk kedua orang yang sejak itu menunggunya.
"Aku juga" Ujar gadis manis yang penuh kelembutan itu.
Dan mereka menghabiskan malam ini untuk melepaskan segala kerinduan yang melanda hidup mereka.
****
"Kemana Maura?" Tanya Jevan saat menemukan zoya dan acha yang sedang menikmati waktu istirahatnya di kantin.
Ya!!! Sekarang Jevan sedang berada di kantin untuk mencari Maura. Namun sejak tadi pagi Maura tak tampak olehnya dan itu membuatnya khawatir. Jevan melihat zoya dan acha tanpa Maura di sudut kantin, tempat dimana mereka menikmati makan siangnya.
"tadi dia menelfon ku katanya ingin pulang ke rumahnya dan minggu besok dia akan ke sini lagi" Ujar acha dan kembali asik dengan makanannya.
Sejak Maura menjadi pacar Jevan di malam itu, zoya dan acha tak lagi ketakutan jika bertemu Jevan. Jevan mengernyitkan keningnya, memutar otaknya untuk mengerti ada apa sebenarnya. Apa lagi Marcell juga belum kembali saat dia pergi meninggalkan Jevan dengan kalimat-kalimatnya yang membuat Jevan kesal.
"Jadi dia pergi ? sendiri ?" Tanya Jevan lagi.
"Dia gak sendiri kok, dia pergi sama seseorang tapi kami tak sempat bertanya padanya.." Ujar acha dan zoya hanya mengangguk.
"Oke, terima kasih ..." Ujar Jevan dan langsung pergi meninggalkan kedua sahabat Maura yang sengaja mengabaikan Maura seperti rencana yang telah Maura buat.
*****
__ADS_1
Keesokan harinya dengan mentari yang belum sempurna memperlihatkan wujudnya, seorang pemuda sudah berdiri tegak di depan pintu appartement. Selang beberapa waktu pintu itu terbuka dan tampaklah gadis-gadis manis yang menjadi penghuni appartement itu.
"Hai" sapa pemuda tampan itu yang tak lain adalah Jevan.
"Hai" salah satu dari gadis itu menjawabnya, dia adalah Maura. Gadis yang paling di harapkan Jevan untuk bertemu hari ini.
Kedua sahabat Maura yang tak lain adalah zoya dan acha lebih memilih menunggu Maura di lobi daripada menjadi kambing congek.
"Aku mau ngomong.." Ujar Jevan dan Maura sudah mempersiapkan dirinya dari awal untuk melihat sikap Jevan yang seperti ini.
"Di dalam ?" Tanya Maura menawarkan.
"Boleh" Ujar Jevan dan mereka pun memilih untuk berbicara di dalam.
"Ada apa ?" Tanya Maura saat Jevan sudah terdiam lebih lama.
"Kemarin kemana ?" Tanya Jevan dengan ekspresi datar sekarang.
"Pulang." Jawab Maura seadanya.
"Sama ?"
"Temen."
"Namanya ?"
"Kepo"
"Kepo ? Jadi aku gak boleh tau pacarnya sendiri pergi sama siapa kemarin..." Ujar Jevan yang memandang Maura tajam.
"Berarti kalau kamu bukan pacar aku, kamu gak bakalan kepo?" Tanya Maura.
"Iyalah kalau kamu bukan pacar aku ngapain aku kepoin..." Ujar Jevan.
"Ya udah kita gak usah pacaran aja" Ujar Maura santai membuat Jevan terdiam di tempat.
"Apa ? oh itu hanya ada di mimpi lo, jangan pikir gue mau ngelepas lo dengan mudah" kini Jevan kembali seperti Jevan dan itu membuat Maura terkejut.
"Maksud kamu ?" Tanya Maura yang masih bertahan untuk tetap lembut karena aslinya Maura adalah seorang gadis yang lembut.
"Tunangan ?" Tanya Maura bingung.
"Udahlah, gue udah tau kalau lo tunangan Marcell jadi gak usah pura-pura lagi tapi lo jangan berharap lepas dari gue!!" Ujar Jevan dengan sorot matanya yang mengerikan.
Maura teringat kata-kata kakaknya saat ia bertemu di rumahnya. Kemarin malam saat Maura pergi dan yang menjemputnya itu adalah kakaknya. Kakaknya sudah memberi beberapa peringatan dan suatu rencana yang akan mereka jalankan.
"Tetaplah seperti yang dikatakannya"
Kata-kata kakaknya selalu diingatnya karena kini Maura akan bergantung dan merasa terlindungi saat dia bertemu kakaknya.
"Oh lo udah tau berarti lo cowok yang gak tau malu dong..." Ujar Maura yang kembali menantang Jevan dengan berani ia berdiri sangat dekat di hadapan Jevan.
"Dan lo pacarnya cowok yang gak tau malu itu..." Ujar Jevan yang tangannya sudah melingkari punggung Maura.
"Apaan sih peluk-peluk, lepas!" Ujar Maura mengalihkan pembicaraan.
"Emang kenapa ? Lo kan pacar gue dan biar aja tuh si Marcell tau kalau gue gak akan ngelepas lo" Ujar Jevan.
"Rese tau gak sih lo!!" Ujar Maura namun Jevan tetap tak melepaskannya.
TING TONG
Bell berbunyi dan Maura masih berusaha melepas pelukan Jevan yang semakin erat saat ia terus memberontak.
"Gue mau buka pintu Jevan!! Lepas!!" Ujar Maura namun Jevan tetap pada pendiriannya.
"Janji dulu..." Ujar Jevan.
"Janji apaan ?!?" Tanya Maura kesal.
"Janji kalau gue lepas lo harus cium gue"
__ADS_1
"Iya, lepasin" Ujar Maura dan segera membuka pintu saat terlepas dari pelukan Jevan.
"Eh kak Marcell..." Ujar Maura saat melihat siapa yang datang dan Jevan kesal melihat wajah Marcell dengan senyum sok malaikatnya itu membuat Maura merona merah.
"Udah gak udah sok imut! Ngapain lo malu-malu gitu?!? Huh?!?" kesal Jevan dan Maura pun menatap Jevan tajam.
"Silahkan masuk kak.." Ujar Maura dengan sopan dan mengabaikan ucapan Jevan.
"Woi lo lupa janji lo tadi" Ujar Jevan pada Maura yang sedang tersenyum untuk Marcell.
"Nanti !!" ketus Maura.
"Woi Cell! Jadi lo balik ke indo Cuma untuk nikung gue doang" Ujar Jevan kepada Marcell yang terlihat tenang.
Memang begitulah pembawaan Marcell di berbagai waktu dan masalah yang ia hadapi.
"Santai Jev, kayaknya kemarin gue udah jelasin secara rinci sama lo" Ujar Marcell tanpa menatap Jevan.
"Oh lo mau cari masalah sama gue ! Apa sekarang lo udah males berteman sama gue! Yang pasti lo tau kan mana gue yang main-main dan mana yang enggak" Ujar Jevan dengan tatapan tajamnya yang ia lemparkan untuk sahabatnya itu.
"Gue tau kok Jev tapi menurut yang gue denger dari Tio, Yuza dan Aksa denger lo berbanding terbalik dengan yang sekarang" Ujar Marcell namun langsung di sela oleh Jevan.
"Terkadang perkataan dari mulut gak semeyakinkan tindakan dan hati, jadi cuma gue yang tau aslinya gimana!" Ujar Jevan yang menekankan ucapannya di setiap kata.
"Jadi ?" Marcell memancing Jevan untuk mengatakan yang sejujurnya di hadapan Maura.
"Jadi... jadi gue.."
"Cepetan atau gue yang bakal ambil tindakan duluan.." kesal Marcell karena Jevan lama sekali dan gugup untuk mengatakannya.
"Iya bawel lo! Jadi gue sebenernya emang suka sama Maura walaupun perkenalan kita di awal sangat gak mungkin buat gue deket sama dia tapi dari pertama kali gue liat dia dan sampai sekarang gue emang beneran suka sama Maura dan gue ngerjain dia itu cuma alibi gue biar gue bisa deket sama dia, PUAS LO!!" Ujar Jevan sedangkan Maura yang mendengarnya sangat shock dan tak menyangka dengan apa yang dikatakan Jevan sedangkan Marcell berdiri dan berjalan mendekat ke arah Jevan.
"Gue belum puas tapi kata-kata lo tadi udah buat gue sadar kalau lo harus di kasih restu dan Maura itu bukan cewek coba-coba atau permainan buat lo karena gue selalu ada kalau dia kenapa-napa" Ujar Marcell sambil menyentuh bahu Jevan.
"Restu ? Emangnya lo mau batalin acara pertunangan lo! Gue emang bakal jaga Maura semampu gue dan gue gak akan pernah ngelepas dia dan Maura akan selalu gue bahagiain dengan cara gue" jelas Jevan dan Marcell hanya tersenyum memandang Maura yang memberinya anggukan.
"Gue gak akan pernah ngebatalin acara pertunangan gue karena gue juga sama-sama cinta dan sayang, apalagi orang tua gue juga niat banget jodohin jadi gue gak akan batalin tapi gue bakal langsung nikah dan lo tinggal tunggu undangan gue aja, ya udah gue pergi dulu" Ujar Marcell dan meninggalkan Jevan dengan kebingungannya dan Maura hanya tersenyum memandang keduanya.
"Sekarang tinggal gue yang belum ngerjain tugas gue" gumam Maura dan sekarang menarik Jevan untuk duduk di sofa.
"Kenapa kamu narik aku ke sini ? jadi maksud Marcell tadi apa ? dia ngasih restu ke aku tapi dia mau nikah sama kamu? Jadi sebenernya gimana dengan kita? Kamu udah tau kan perasaan aku yang sebenarnya?" pertanyaan Jevan yang sangat banyak itu hanya di balas senyuman oleh Maura sebelum ia memulai menjelaskan.
"Oke sebelumnya aku mau bilang 'JANGAN POTONG UCAPAN KU' oke ?" Tanya Maura dan hanya di balas dengan anggukan oleh Jevan.
"Jadi kenapa aku narik kamu karena aku mau jelasin semuanya, maksud kak Marcell tadi dia ngasih restu ke kita untuk boleh berpacaran, sebenarnya kemarin aku pergi itu sama kak Marcell untuk pulang ke rumah aku karena orang tua aku itu udah kangen banget –"
"Kan bener dugaan aku kalau kamu pergi sama dia ! kenapa kamu dak –"
"STOP! Kan aku udah bilang jangan di potong atau aku gak mau jelasin semuanya!" ancam Maura yang kesal karena Jevan memotong ucapannya.
"Maaf.." Ujar Jevan dan kembali diam.
"ya udah aku lanjut lagi, kak Marcell jemput aku karena dia dan ortu aku mau kasih tau semua yang udah di rahasiain dari aku, jadi kak Marcell adalah kakak kandungku yang udah pergi bertahun-tahun lamanya karena lebih memilih tinggal sama opa dan oma dari pada orang tua aku dan saat itu aku belum ada, aku sama kak Marcell beda 6 tahun dan aku juga baru tahu kemarin tapi kak Marcell bilang jangan kasih tau ke yang lain dulu karena dia pengen cari tahu sesuatu yang ada hubungannya antara aku dan kamu dan tadi dia sudah mendapatkan jawabannya jadi dia mengungkapkan semuanya, terus yang dia bilang mau nikah tadi... ortu gue jodohin dia sama teman kecilnya yang waktu dia tinggal di rumah oma&opa namanya mitha.. dan pada akhirnya semuanya happy ending tapi enggak dengan ku" Ujar Maura mengakhiri penjelasannya yang panjang kali lebar sama dengan luas.
"Ohhh jadi Mithana Asyara itu calonnya, Mitha itu juga temen kita kali dan gue doa in semoga longlast deh, terus kita juga longlast..." Ujar Jevan seraya meraih tangan Maura
dan menggenggamnya.
"Amin aja deh, tadi kamu ke sini mau ngapain ???" Tanya Maura yang tersadar kembali saat semua drama yang ada di hidupnya sedikit selesai.
"Mau jemput kamu.. yuk" ajak Jevan dan Maura kembali mengingat sesuatu.
"Terus zoya sama acha gimana ?" Tanya Maura
"Tio sama Yuza udah duluan nganter mereka ke kampus, tinggal kita doang yang belum" Ujar Jevan dan tersenyum bahagia.
"Ya udah yuk.." mungkin pagi ini awal baik untuk Maura dan Jevan. Semoga mereka bakal langgeng deh jalanin setiap masalah yang akan hadir di setiap perjuangan mereka.
.
.
__ADS_1
.
TBC