Jatuh Hati

Jatuh Hati
32. Awanfa Putri Jemara


__ADS_3

HAPPY READING :D


****


"Silahkan makan tuan putri..." Jevan menghidangkan nasi goreng buatannya di meja makan 2 piring, satu untuknya dan satu lagi untuk istrinya.


"Coba ya dan tolong katakan enak ya sayang" Ujar Jevan lagi dan memberikan sendok pada Maura dan Maura hanya mengangguk.


Satu sendok Maura memakan nasi goreng dan tiba-tiba ia merasakan sesuatu yang aneh dari masakan ini.


"Uhuk..uhuk.. minum Jev.. minum.." Jevan segera memberikan segelas air putih ke Maura dan Maura meneguknya lalu batuknya mereda.


"Kenapa?? gak enak ya??" Tanya Jevan yang juga belum merasakan nasi goreng buatannya sendiri.


"Enak kok.." Ujar Maura yang kembali memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya lalu berulang kembali sampai nasi goreng itu habis.


Setelah nasi goreng Maura habis, Maura segera meminum air putih beberapa gelas membuat Jevan cengok dan semakin penasaran dengan nasi goreng buatannya. Jevan memasukan sesendok nasi goreng ke dalam mulutnya dan Maura juga sudah menyiapkan segelas air untuk Jevan.


"uhuk... uhuk.." Maura segera memberi air itu kepada Jevan dan Jevan langsung meneguk air itu sampai abis.


"Nasi gorengnya asin tapi kamu abisin ??" Tanya Jevan yang heran melihat istrinya yang sanggup memakan nasi goreng buatannya yang sangat asin.


"Kan kamu yang bilang aku harus bilang enak..." Ujar Maura dengan santainya.


"Tapi kenapa kamu bisa habisin ??" Tanya Jevan heran.


"Kan kamu buatnya pake cinta jadi aku abisin" Ujar Maura membuat Jevan tersenyum lebar.


"Kamu mau aku buatin nasi goreng ??" Tanya Maura karena kasihan kalau Jevan menghabiskan nasi goreng asin seperti dirinya.


"Gak usah, aku makan buatan aku aja hari ini kamu gak usah ngapa-apain biar aku aja dan kamu duduk diam." Ujar Jevan yang menghabiskan nasi gorengnya dengan seteko air putih di sampingnya.


Maura tersenyum melihat suaminya yang sangat menyayanginya jadi apa salahnya ia berbohong demi melihat senyuman di wajah suaminya, toh suaminya lebih sering begitu demi membuat dirinya bahagia. Maura berharap sekali kalau di tengah-tengah mereka berdua muncul tangan-tangan mungil yang akan mengganggu acara romantis mereka berdua. Malaikat-malaikat kecil yang lucu-lucu cetakan mereka. Maka Maura akan lebih bahagia daripada saat ini tapi ia akan menghabiskan masa-masa kebahagian mereka berdua dulu dan bersabar menunggu waktu itu berdua dimana seorang anak akan memanggilnya mama dan menyebut suaminya papa. Maura terus menatap suaminya dengan senyuman sambil membayangkan hal bahagia itu.


****


Di kediaman Maura-Jevan mereka kedatangan tamu-tamu yang tak di harapkan oleh Jevan. Mendadak ekspresi Jevan yang sangat bahagia menjadi muram saat melihat kehadiran bunda ayah papa dan mamanya serta para sahabatnya ke rumahnya sore ini. Di rumahnya sangat ramai, apalagi Yuza dan Zoya membawa anaknya yang selalu rewel di tempat ramai.


"Duh sayang kamu kok nyantai banget hari ini ya.." Ujar mama Aulia yang melihat anaknya hanya duduk menyambut mereka.


"Maura lagi gak enak badan ma" Ujar Jevan mendahului istrinya yang baru saja membuka mulut.


"Oh gitu, kamu sakit apa ??" Tanya bunda Sandi yang ikut cemas sedangkan di belakang mereka Acha sedang cekikikan karena mengerti sakit apa yang sedang di alami Maura sekarang.


"Duh biasa tan, orang yang baru nyusul malam pengantin mereka ya kayak gini!!" ceplos Acha yang segera di tutup mulutnya oleh Tio dan itu juga membuat pipi Maura merona.


Jevan terkekeh pelan melihat perubahan ekspresi istrinya dan sebentar lagi sepertinya banyak ledekan-ledekan yang tak ingin di dengarnya bermunculan.


"oh gitu... jadi kalian udah..."


"Wah berarti sebentar lagi kita punya cucu nih yah.." mama aulia terlihat mengulum senyum di samping papa Andre dan bunda Sandi di samping ayah Rizal.


"Ih kalian bisa gak 'gak ngomongin hal itu' kan aku malu dengernya... sayang anterin aku ke kamar aja yuk, males dengerin orang dewasa.." Ujar Maura yang seperti anak kecil.


Sedangkan orang tua mereka hanya tertawa melihat anaknya yang masih terlihat lugu di umurnya yang sudah dewasa. Jevan pun mendekati Maura lalu menggendongnya seperti permintaan istrinya dan orang tua mereka hanya memaklumi sifat manja yang ada pada Maura karena sejak kecil sifat itu sudah berada pada diri Maura.


"Dia masih princess cilik kita yang manja zal" Ujar papa andre pada ayah rizal yang ikut mengembangkan senyuman melihat keharmonisan rumah tangga anaknya itu.


"Ya udah sekarang giliran kita yang mengacaukan dapur anak kita sandi" Ujar mama Aulia yang di balas acungan jempol oleh bunda sandi dan ibu-ibu ini segera bergegas ke dapur untuk memasak karena yang sudah mereka ketahui kalau anak perempuan mereka sedang sakit dan otomatis tidak ada yang memasak hari ini di rumah ini.


Acha dan Zoya ikut masuk ke dalam kamar Maura untuk menemani Maura bercerita tentang pengalaman yang baru saja Maura lakukan. Sedangkan suami-suami mereka berada di ruang tamu bercerita tentang para lelaki bersama papa andre dan juga ayah rizal.


"Assalamualaikum" tiba-tiba ada lagi yang bertamu ke rumah Jevan dan Jevan segera membukakan pintu untuk seseorang yang bertamu ke rumahnya.


"Eh sob apa kabar??" Tanya Jevan saat melihat Aksa yang berada di balik pintu rumahnya.


"Weeesstt sob baik dong, lo gimana??" Tanya Aksa sambil tersenyum.


"Sangat baik sob.." sahut Jevan.


"Kalau Maura?" dan Jevan terdiam lalu Aksa yang mengetahui kalau Jevan masih cemburu padanya segera menjelaskan apa yang perlu ia jelaskan.


"Tenang aja sob gue gak akan ambil Maura dari lo dan sebelum itu kenalin istri cantik di sebelah gue namanya Anggia.." Ujar Aksa mengenalkan wanita cantik di sampingnya yang berparas bule.

__ADS_1


"Anggia.." wanita itu menjabat tangan Jevan.


"Jevan.." Jevan menghembuskan nafas lega dan membuang fikiran negatifnya tentang Aksa.


"Maura baik kok tapi dia sekarang lagi gak enak badan, semuanya juga lagi pada ngumpul ada Tio sama Yuza yang juga bawa istri sama anaknya.. ortu gue sama Maura juga ada di dalam.."terang Jevan.


"Tapi lo tega banget sih sob" Ujar Aksa yang tak di mengerti Jevan.


"Tega kenapa sih Sa??" Tanya Jevan.


"Sementara semua orang di dalem dan lo biarinin kita lumutan di luar.."


"Eh iya sorry lupa, keasikan ngobrol nih.. ayok masuk Sa, gi.." tapi sebelum mereka masuk seseorang yang baru saja datang memanggil mereka membuat mereka menghentikan langkah mereka.


"woi! Kalian mau ninggalin gue!"


"Marcell! Mitha!" Ujar Aksa dan Jevan bersamaan.


"Wah kayaknya anak kalian nantinya jodoh nih, bapaknya aja kompakan gini ngomongnya.." Ujar Marcell dan mitha yang berstatus istri Marcell hanya tersenyum di samping Marcell.


"wah doa lu boleh juga" Ujar dikcy.


"heh kasihan istri kalian, udah yuk masuuk.." Ujar Jevan yang membuat mereka tersadar kalau lagi-lagi mereka mengobrol di luar tanpa mengkhawatirkan kaki pegal istri-istri mereka.


"Eh iya untung di ingetin, ya udah yuk" Ujar Aksa yang juga masuk mengikuti Jevan.


"yuk.." sahut Marcell dan juga mengekori mereka.


Sesampainya di dalam dua pasangan ini di sambut baik oleh semua orang yang berada di dalam. Anggia dan juga mitha juga bergabung di kamar Maura karena suami mereka menyuruh mereka dan mitha juga sekalian melihat keadaan adik iparnya yang imut ini begitupun anggia yang ingin melihat seseorang yang sempat di sukai suaminya ini.


Terlihat kebahagiaan di antara mereka yang selalu saling melengkapi dan menyempati waktu mengumpul bersama seperti ini walau mereka sudah menikah sekalipun persahabatan mereka tak akan pernah putus.


Rumah itu tak terlihat besar tapi hanya sedehana dan cukup menampung tamu sebanyak itu. Rumah itu terlihat sangat ramai dengan canda tawa, ledekan yang tak kunjung berhenti dan juga kasih sayang di antara mereka yang selalu di tampakkan dan semoga tetap seperti itu dan bertahan selamanya.


****


Kehamilan pertamanya yang sangat aneh yang di alami oleh Maura juga membuat suaminya ikut menderita. Trimester pertama kehamilan Maura, indra penciuman Maura sangat tajam jadi bau-bau aneh yang tercium di hidungnya akan membuatnya mual. Seperti menghirup aroma tubuh Jevan yang biasanya ia sukai tapi sekarang telah menjadi termasuk bau aneh di hidungnya. Entah mengapa setiap Jevan berada di dekat Maura, entah itu untuk memeluknya, duduk berdekatan saja atau berciuman seperti biasanya, Maura akan langsung mual dan muntah. Sehingga membuat Jevan tidak seranjang dengan Maura karena itu untuk kesehatan Maura dan bayinya.


"awsss.. aaarrgggtthhh sakit Jevaaan... sakit.." rintih Maura saat sesuatu menyakitkan di bagian perutnya, Jevan hanya dapat memperhatikan Maura dari kejauhan jika satu langkah saja Jevan mendekat maka Maura akan berlari ke wastafel seperti sekarang ini karena Jevan tidak bisa hanya melihat Maura kesakitan.


"Ueeekk... ueeekk..." Maura kembali memuntahkan cairan putih yang membuat Jevan semakin cemas apalagi wajah Maura semakin pucat dan akhirnya Jevan menelfon mertua atau bundanya untuk menolong istrinya.


Terkadang hal itu menjadi bahan tertawaan di keluarganya maupun para sahabatnya tapi Jevan hanya bisa menerimanya dengan lapang dada. Maura juga membantu menyabarkan Jevan yang sempat tersulut emosi tapi masa-masa itu juga akan menjadi kenangan yang jika di ingat-ingat lucu juga. Apalagi jika di ceritakan pada anak-anak mereka nanti.


Kini kandungan Maura sudah 9 bulan 8 hari dan perkiraan 2 hari lagi Maura akan melahrikan anaknya. Maura dan Jevan tak pernah ingin mengecek jenis kelamin anaknya karena itu rahasia tuhan yang bisa di lihat ketika malaikat kecil itu sudah lahir dan mereka akan menerima apapun jenis kelamin anaknya.


"Wah tinggal nunggu hari lagi ya sayang ??" Tanya mama Maura yang sedang singgah di rumahnya untuk melihat keadaannya.


"Iya maa, udah gak sabar mau lihat wajahnya.." Ujar Maura dengan wajah yang berseri.


"Iya sayang, mama jadi gemes sendiri kalau bayangin cucu mama mau lahir kayak gini..." Ujar mama Aulia yang terus mengusap lembut perut besar Maura.


"Iya maa.. oh iya tadi kata mama ada yang mau di omongin, apa ya maa??" Tanya Maura yang menanyakan topik utama kedatangan mamanya ke rumahnya.


"Jadi gini selama seminggu mama sama papa mau pergi ke Jerman sayang dan kayaknya mama gak bisa nemenin kamu lahiran sayang... maafin mama ya padahal mama mau banget..." wajah muram dari ibunya membuat Maura menjadi sedih.


"Gak apa-apa kok maa tapi mama harus janji sama Maura untuk cepat pulang" Ujar anaknya agar ibunya tak merasa bersalah.


"Makasih sayang... Kamu selalu ngertiin kita.." Ujar mamanya yang mengelus punggung Maura dan menatap wajah anaknya yang tampak cantik saat kehamilannya.


"Iya maa.. sama-sama nantikan ada bunda Sandi yang gantiin mama" Ujar Maura menghibur hatinya sendiri dan hati ibunya.


"Iya sih tapi kalau bukan mama kurang gimana gitu.. mm ya udah mama mau balik dulu ya sayang soalnya berangkatnya hari ini... maaf ya.. gak papakan mama tinggalin ? Jevan mana??" Tanya mamanya.


"Gak papa kok ma, aku udah biasa kok.. Jevan kerja maa" Ujar Maura yang membuat kening ibunya berkerut.


"Tanggal melahirkan kamu semakin dekat tapi dia masih kerja?!?" histeris mamanya entah karena apa yang jelas Maura tidak tahu.


"Iya tadinya sih dia mau bolos lagi tapi Maura suruh kerja dan katanya sebentar lagi dia pulang kok maaa.." Ujar Maura dan mama Aulia hanya mengangguk sekilas.


"Oh gitu.. ya udah mama pulang dulu ya.. hati-hati ya sayang.. kalau ada apa-apa telfon aja suami kamu kalau gak siapa kek yang bisa cepat di hubungi yaa.." Ujar mamanya yang bangkit dari sofa menuju pintu dan di antar oleh Maura.


"oke deh maa.. mama juga hati-hati di jalan sama papa ya maa.." Ujar Maura dan mama hanya menunjukan jempolnya lalu masuk kedalam mobil pribadinya.

__ADS_1


"Hati-hati maaa!!" pekik Maura saat mobil mamanya sudah keluar dari gerbang dan mama aulia hanya bisa membalasnya dengan klakson.


"Huh! Apa lagi yaa yang harus di kerjain?? Nonton aja deh" ucapnya lalu berjalan menuju sofa ruang tamu.


Saat ia baru ingin duduk tiba-tiba Maura merasakan mulas dan sakit di perutnya secara bersamaan. Ia terus merintih dan tak tahu dengan apa yang terjadi. Sesaat dia mengingat pesan mamanya, Maura segera meraih ponsel yang tak jauh dari tempatnya duduk. Ia berusaha menelfon suaminya tapi rasa sakitnya membuat dirinya semakin lemas.


BRUM...


Terdengar suara mesin mobil yang baru masuk garasi membuat hati Maura sedikit lega karena ia tahu itu pasti Jevan. Jevan melihat istrinya yang terduduk lemas sambil memegang perutnya dan merintih kesakitan.


"Sayang kamu kenapa ?? ya ampun kaki kamu!!!" Jevan langsung panik saat melihat darah segar yang mengalir di kaki (Maura).


Jevan segera menggendong istrinya menuju mobilnya lalu ia kembali ke rumah untuk mengambil tas yang sudah ia persiapkan untuk hari ini sejak lama. Jevan panik ia segera menjalankan mobilnya dengan sangat cepat sedangkan Maura hanya menjerit-jerit kesakitan membuat Jevan semakin panik. Sesekali Maura menjambak rambut Jevan yang sedang fokus mengendarai mobilnya.


"Jevaaaan!! Saaaaaakkkkiiiiittt!!!!" Ujar Maura saat sampai di rumah sakit dan di larikan ke ruang bersalin.


"Jadwalnya 2 hari lagi tapi kenapa sekarang kamu udah mules aja sih sayang??!?" Ujar asal Jevan yang sangat cemas melihat Maura yang sedang kesakitan.


"aaaakkkkkuuu gaaakkk taaahuu.. taaapi ini sakiiiit sayaang..." Ujar Maura dengan peluh sebesar jagung yang keluar dari dahi dan hampir seluruh tubuhnya.


"Kamu tahan ya sayang, kamu pasti bisa... kalau kamu gak kuat bilang aja nanti operasi aja.." Ujar Jevan yang sangat panik.


"Aku gaaak maauu operasi...!!" Ujar Maura, sedangkan suster hanya menggeleng melihat pasangan ini yang terus bercakap-cakap saat kondisi seperti ini.


"ya udah kamu bertahan ya aku akan selalu ada di sini.." Ujar Jevan.


Jevan juga ikut masuk untuk menemani istrinya berjuang antara hidup dan matinya. Berjuang untuk hidupnya dan juga anaknya. Berjuang untuk malaikat kecil yang akan hadir di hidup mereka. Dokter yang melayani Maura adalah dokter perempuan yang juga menjadi konsultan saat kehamilan Maura setiap bulannya jadi mereka tidak akan merasa canggung lagi.


"ayo kita mulai ibuk... tarik nafas..... buang.... Tarik lagi... buang dan ayo buk..." Maura mengikuti intruksi yang di berikan oleh bu dokter.


Jevan juga membiarkan tangan dan kepalanya yang menjadi incaran pegangan Maura yang menahan sakitnya yang luar biasa dahsyatnya. Terkadang kuku Maura menusuk ke dalam kulit Jevan tapi Jevan terus memberikan kata-kata penyemangat untuk Maura sampai suara bayi menggema di ruangan ini.


Eaaaakkkk eaaaaakkk eaaaakkk...


"Selamat ibuk bapak, anak yang perempuan yang cantik dan sehat.." Ujar dokter cantik itu sambil memperlihatkan bayi perempuan yang sangat menggemaskan itu.


Jevan menghembuskan nafas lega saat melihat kedua orang yang sangat ia sayangi sehat dan selamat. Jevan menangis bahagia menatap anak perempuannya yang masih menangis di gendongan dokter itu.


"Saya bersihkan dulu anaknya ya buk pak.." Ujar dokter itu untuk pamit.


Sementara Jevan mengecup kening Maura berkali-kali karena ia sangat bahagia di hari ini. Maura hanya bisa menutup matanya karena lelah, memejamkan untuk sesaat dan berdoa dalam hati karena semua yang ia harapkan terkabul dengan cepat. Jevan mengusap sayang kepala Maura dan menghapus peluh di kening Maura dengan tisu. Jevan membiarkan Maura istirahat sambil menunggu dokter membawa anaknya kembali di antara mereka.


"Ini buk anaknya, tolong di beri asi terlebih dahulu..." dokter menyerahkan anaknya pada Maura dan Jevan.


Jevan bersiap memberi adzan di telinga anaknya. Jevan mengumandangkan dengan sangat merdu dan entah kenapa anak perempuannya menjadi tenang dan memandang Jevan penuh binar. Selesai adzan Jevan memandang anaknya yang terlihat sangat menggemaskan.


"Paa siapa nama anak kita??" panggilan yang baru Maura ucapkan membuat senyum Jevan mengembang. Panggilan itulah yang sangat di tunggu-tunggu Jevan akan datang di hidupnya.


"Awanfa Putri Jemara, Awan putrinya Jevan tercantik kayak mamanya" Ujar Jevan seraya menoel hidung mungil anaknya.


"Awan ? kenapa nama itu yang kamu ambil??" Tanya Maura heran.


"Karena langit akan selalu ada melindungi awan dan aku mau anak kita akan berhati bersih seputih awan.." Ujar Jevan sambil memandang anaknya.


"Langit ? maksud kamu Adimas, Adimas Langit Prasetya ?? itu kan anaknya kak gia sama kak Aksa?" Tanya (Maura) yang tak mengerti.


"Emang kamu gak inget apa yang di bilang sama ponakan kesayangan kamu itu ? dia akan melindungi anak kita dan kebetulan anak kita perempuan..." terang Jevan memandang istrinya yang menyiratkan kebingungan.


"Jangan bilang kamu mau jodohin anak kita ?!? mereka kan masih kecil??" Ujar Maura yang tak terima.


"Aku gak akan jodohin dia, biarkan saja hidup mereka mengalir seperti air di pertemukan dengan takdir dan aku bukan tipe papa yang antagonis untuk anaknya, menjodohkan mereka bukanlah pemikiran ku" Ujar Jevan dan Maura menghembuskan nafas lega.


"Mama sayang awan.." Ujar Maura yang membiarkan anaknya meminum air yang ada di tubuhnya (ASI MAKSUDNYA).


.


.


.


.


.

__ADS_1


TBC


__ADS_2