
HAPPY READING . . . . . . :D
^
^^
^^^
*****
Gadis cantik itu tersadar dari pingsannya dan memutar kembali ingatan apa yang sudah terjadi sebelumnya. Dia melihat sekelilingnya namun tidak dapati orang yang sedang ia cari. Ia pun beranjak dari tempatnya dan celingukan ke kanan dan ke kiri mencari orang yang saat ini ingin ia temui. Gadis cantik itu menoleh ke arah jendela yang tertutup dan menyibaknya saat itu juga ia terkejut dengan langit yang sudah gelap belum lagi mobilnya yang ia parkirkan jauh dari rumah ini ternyata terparkir rapi di garasi rumah ini. Terdengar oleh gadis itu tawa seseorang yang membuatnya khawatir. Tawa itu menggema ke seluruh ruangan dan membuat gadis cantik yang penasaran itu mencari sumber suara. Terlihat olehnya pemandangan yang benar-benar membuat ia geram. Bagaimana tidak ?!? kedua temannya yang sangat ia sayangi dan cintai sedang menangis dengan mulut di plester serta tangan dan kaki yang di ikat belum lagi tikus-tikus putih yang menggelikan itu sedang berada di kaki dan juga di atas paha 2 sahabatnya. Sekelompok cowok yang terdiri dari tiga cowok yaitu Jevan, Tio dan Yuza tengah tertawa puas melihat tontonan di depannya. Gadis cantik itu semakin mendekat walau mereka semua belum menyadari kedatangannya. Belum selesai keterkejutan gadis itu dengan kedua sahabatnya kini di tambah lagi ia melihat empat cewek dengan sejuta pesona memandang bahagia kedua sahabatnya yang tersiksa.
"CUKUP!!!" gadis itu mulai bersuara dengan pembawaan yang tenang.
"Maura?" Jevan terkejut dengan adanya Maura karena setahu Jevan ia sudah mengunci pintu kamarnya yang sedang di isi Maura. Bukan hanya Jevan tetapi semua yang ada di situ juga kaget.
"Mmmm... mmpp.." kedua sahabatnya berusaha berbicara kepada Maura dengan mulutnya yang tertutup dan kedua matanya sudah berlinang air mata.
"Dasar bodoh !! haruskah mereka menangis di depan para bajingan ini!!" rutuk Maura dalam hatinya.
Dengan langkah tegas gadis cantik yang tak lain Maura itu mendekati kedua sahabatnya untuk membebaskan sahabatnya sementara yang lain masih terkejut dengan Maura tapi empat cewek dengan sejuta pesona itu memandang remeh Maura karena menurut mereka Maura tak mungkin berani membebaskan sahabatnya itu secara banyak tikus yang berkeliaran di dekat sahabatnya.
Sebenarnya Maura merasa geli dan jijik namun bukan hal itu yang harus ia fikirkan melainkan sahabatnya yag sedang tersiksa. Dengan beraninya Maura menyingkirkan tikus yang berada di paha sahabatnya lalu melemparkannya ke arah geng manja itu sehingga mereka terpekik ketakutan karena mereka tersudutkan oleh dinding-dinding itu.
"Maura makasih ng..hiks..hiks...hiks..." Ujar zoya dan acha di tengah isakan tangisnya dan mulut mereka sudah terbebas dari plester dan tangan mereka juga sudah terlepas dari tali.
"Kakak tolong aku !!" rengek manja dari salah satu cewek sejuta pesona itu siapa lagi kalau bukan Andin. Adik kesayangan Jevan.
Jevan menyingkirkan tikus-tikus itu dan kembali meletakannya di dalam kardus membuat empat cewek manja (panggilan yang lebih tepat) itu menghela nafas lega.
"Jevan dia juga harus di kasih pelajaran" Ujar Andin dengan sangat manja dan bergelayut di lengan Jevan.
"Siapa lo dan apa hak lo ngasih gue pelajaran !!! lo bukan orang tua gue! Dan lo bukan guru atau pun dosen gue yang memang bertugas mengajarkan gue!!!" akhirnya Maura memulai menerbitkan kemarahannya sedangkan kedua sahabatnya bersembunyi di belakang Maura meminta perlindungan tapi mereka juga turun tangan jika lawan di hadapannya mulai bertindak.
"Oooh jadi lo udah mulai berani lagi sama gue!!! Lo masih inget sama perjanjian kan?!!?" Jevan memperlihatkan ponsel Maura yang masih ia pegang dan Jevan berfikir Maura akan segera tunduk padanya.
"Masih kok, aku gak gitu kok.." Ujar Maura membuat Jevan tersenyum lebar dan kedua sahabat Maura melebarkan kedua bola matanya karena sanga shock dengan perubahan Maura.
Perlahan Maura mendekat ke arah Jevan dengan wajah yang tetap menunduk. Jevan sangat menikmati saat lawannya terlihat tak berdaya di depannya, begitupun juga Andin. Maura terus mendekat ke arah Jevan sampai rasanya sudah sangat dekat bahkan tubuh mereka berjarak 1 cm dengan lihainya Maura merebut ponselnya yang ada di tangan Jevan berpindah ke tangannya. Lalu Maura berlari ke arah ke dua sahabatnya lagi. Seketika wajah marah Jevan tampak dan wajah berseri kedua sahabatnya juga muncul secara bersamaan.
"Aku inget dan gak bakalan kayak gitu kok tapi gue gak bego untuk terus mau lo kerjain!!! Lo urus aja tuh 4 cewek manja peliharaan lo..." Ujar Maura dengan nada yang sangat meremehkan membuat Jevan tak bisa lagi menahan amarahnya dan meledak.
"Sekarang lo siap-siap buat ngelawan 4 cewek manja, gue harap kalian bisa handle urusan Jevan pasti dia narik gue lagi!!!" bisik Maura kepada dua sahabatnya saat Jevan sedang berjalan ke arahnya.
"Ikut gue!!" seperti dugaan Maura dia di tarik kembali oleh Jevan.
"Dengan senang hati" Ujar Maura yang membiarkan tangannya di tarik oleh Jevan walaupun sakit dan Maura sudah mengikhlaskan tanda merah hasil tarikan tangan Jevan.
BUGH
Jevan baru saja mendorong Maura membuat Maura meringis karena punggungnya pun berbenturan dengan dinding dingin rumah Jevan.
"Mati gue..!!" entah kenapa kata-kata itu keluar dari mulut Maura karena ketakutannya pun memuncak. Di sini sangat sepi karena tak mungkin orang berlalu lalang di kamar milik Jevan yang sudah di kunci.
"Iya mati lo sekarang! Seenaknya udah ngomong kayak gitu sama gue berkali-kali!! Gue paling gak suka ada orang yang meninggikan suaranya apalagi meremehkan gue" Ujar Jevan tepat di depan wajah Maura dengan posisi Maura yang terkurung oleh ke dua tangan Jevan di kedua sisi tubuhnya.
"Emangnya gue pikirin!!!" Ujar Maura asal agar ia tak terlihat ketakutan ataupun gugup.
__ADS_1
"Yakin gak lo pikirin??" sepertinya Jevan punya hal licik lain yang terlintas di otak mafia nya.
"Menurut lo !! dasar banci! Beraninya lawan cewek!" ucapan Maura itu membuat Jevan tersenyum miring.
"banci ? tau dari mana kalau gue banci ?!? gue gak banci ya!! Atau lo mau bukti?" kata-kata Jevan mampu membuatnya sangat ketakutan namun Maura sangat hebat bisa mengendalikannya dan menghasilkan ekspresi meremehkan yang terlihat oleh Jevan.
"Mau gue hamilin lo?" tantang Jevan sambil menatap lekat wajah Maura yang terlihat sangat menarik hatinya.
"Emang lo bisa hamilin gue ?" Maura merutuki kebodohannya karena sudah mengeluarkan kata-kata bodoh itu, ya jelas saja Jevan pria sejati secara dia player kelas kakap.
"Kenapa gak bisa ? kayaknya lo pengen bukti.." lagi-lagi ketakutan Maura bertambah saat mendengar jawaban Jevan dan Maura harus benar-benar kuat untuk menghadapi cowok gila di depannya ini.
"Gue ragu kayaknya lo belok" Ujar Maura yang benar-benar di luar fikirannya sendiri sepertinya otaknya sudah di ambil alih oleh mulutnya.
"Maksud lo?" Tanya Jevan bingung.
"Gue kira lo maho."
"sok tau banget lo."
"Udah deh jangan bohong buktinya lo nolak cewek cantik yang namanya andin buat jadi tunangan lo dan muka lo gak ada nafsunya sama sekali kalau tuh cewek gelayutan di tangan lo, apalagi pakaiannya udah mancing gitu."
"Urusannya apa sama lo kalau gue nolak pertunangan itu dan masalah nafsu itu urusan gue."
"Alaaah alesan lo basi! Tapi emang gue gak ada urusannya sama lo dan lo lebih gak ada urusan lagi narik-narik gue ke sini pake acara manfaatin ponsel gue yang tinggal buat jadi pembantu lo, emang lo gak ada duit buat gaji pembantu ? lagian udah gue bilang kalau gue gak pernah mau berurusan lagi sama lo dan geng kampungan lo itu tapi lo malah buat sahabat-sahabat gue kayak tadi dan itu udah kelewatan, seandainya cewek kesayangan lo itu yang gue gituin gimana ? lo gak mikir ??" Jevan terdiam. Mulut bawel Maura yang tiada tara ini mampu membuat Jevan gak berkutik.
"Terus gimana rasa sakit hati gue gara-gara nih mulut lo !! dan trauma cewek kesayangan gue seperti yang lo bilang" Maura tertawa sinis dengan pertanyaan Jevan.
"Trauma kesayangan lo itu udah impas dengan yang kalian lakuin ke sahabat gue, yaelah lo cowok tapi cemen banget Cuma gara-gara omongan yang gak penting dari mulut gue lo sakit hari kayak cewek lo, ah gue lupa lo kan maho?"
"Gue tahu kok sifat asli cowok ngondek kayak gimana... hahahahmmmppfftthh" dengan kasar Jevan ******* bibir Maura secara mendadak. Maura yang kaget hanya mematung dan tidak bereaksi dengan ******* bibir cowok yang menjadi musuhnya ini. Jevan menarik wajah Maura.
Perlahan lumatannya menjadi lembut dan Jevan menikmatinya. Dengan sadar ia menarik Maura mendekapnya lebih erat. Bahkan dengan sentuhan tangan di telinga Maura ia berhasil membuat mulut gadis cantik ini terbuka dan membuat lidah Jevan menerobos masuk ke dalam bibir mungil Maura. Maura yang sempat terbuai dengan sentuhan Jevan kembali tersadar dan mengigit kuat bibis bawah Jevan membuat Jevan meringis kesakitan.
"Awsssshh..." Jevan menatap tajam Maura yang tiba-tiba tertunduk setelah menggigit bibir Jevan.
"Bibir lo ini bener-bener harus di kasih pelajaran." Jevan menangkup wajah Maura dan kembali ******* bibir ranum itu dan Jevan membalas perbuatan Maura tadi lalu melepaskan ciuman itu yang berakhir Maura yang kehabisan nafas.
"Dasar GILA!!!" Maura mendorong dada bidang Jevan namun Jevan kembali mengurungnya dengan kedua tangannya.
"Lo nurut atau gue bakal ngelakuin lebih dari ini?" Jevan mengancam Maura membuat Maura menatap tajam mata Jevan yang menantang dirinya.
"Sial! Kenapa gue jadi candu sama bibir manis itu!!!" umpat Jevan dalam hatinya.
"Mau lo apaan sih?? Kenapa gue mulu !! emangnya gak ada target lo yang lebih asik gitu buat lo *****-***** haa!! gue bukan cewek murahan yang bisa lo giniin!!" Maura benar-benar sangat menarik di mata Jevan karena semakin Maura menantang Jevan maka Jevan benar-benar tertarik dengannya.
Biasanya semua cewek yang jual mahal bakan menolak Jevan di awal setelah Jevan mendapatkan bibir mereka maka dengan mudahnya cewek itu luluh dan bahkan bertekuk lutut dengan playboy yang sangat berpengalaman ini tapi tidak dengan Maura. Gadis itu berbeda, Jevan pun sudah beberapa kali merasakan bibir Maura dan bahkan bibir Maura sudah menjadi candu bagi Jevan tetap saja Maura tidak menunjukan ketertarikannya kepada Jevan.
"Siapa yang bilang lo cewek murahan ?" Ada rasa tidak terima di hati Jevan saat Maura menyatakan bahwa Jevan menyangka dirinya cewek murahan. Jevan sendiri menganggap Maura sebagai cewek yang sulit di gapai bahkan sangat mahal.
"Cara lo yang seenaknya ... seenaknya nyium gue itu!!! Udah lah Jevan kali ini aja gue mohon sama lo untuk menyudahi segala hal yang membuat kita jadi bermusuhan dan gue harap setelah itu kita gak ada urusan, gue janji sama lo kalau sahabat-sahabat gue gak akan ganggu cewek-cewek manja kesayangan lo itu dan gue gak akan cari masalah sama lo lagi, lo bisa pegang janji gue.." Ujar Maura dengan ekspresi yang benar-benar sangat lelah dengan segala keadaan, terbesit rasa kecewa dalam hati Jevan.
"Kenapa gue ngerasa sakit ya pas Maura minta untuk ngejauhin gue gini? Kenapa gue malah pengen di deket gue terus ya?"batin Jevan.
"Sayangnya gue gak mau" Jevan mengecup bibir Maura sekilas dan pergi menjauh dari Maura.
"Nih anak nyosor mulu!!! Duh gimana cara gue bujuk dia nih? Susah banget sih di bujuk nya!" kesal Maura dalam hatinya.
__ADS_1
"hufffffft~~~ Jevaaan..." entah kenapa Maura berbicara layaknya andin yang manja dan hal itu berhasil membuat Jevan menoleh ke arahnya dengan kening yang berkerut.
"lo pikirin dulu deh masalah janji yang udah gue kasih buat lo... yah...yah" Ujar Maura dengan wajah melas andalannya.
"Enggak!!" Jevan keluar dari kamarnya dan kembali ke ruangan di mana semua temannya berada tadi. Maura pun mengikuti Jevan.
"Kak Jev gimana ? udah kamu kasih hukuman juga buat dia ? kenapa dia gak kelihatan kayak orang nangis Cuma cemberut doang!!" Ujar andin membuat Maura kesal dan dia harus mengendalikan emosinya sedangkan kedua sahabatnya sudah duduk di sofa ruangan itu.
"Udah kok ! dia emang gak nangis tapi hukuman itu lebih dari yang tadi" Ujar Jevan sambil melirik wajah kesal Maura.
"Pasti dia udah nyiapin banyak rencana buat urusan gue dan dia di perpanjang.. arghht stress gue ngadepin dia!!!" Maura membantin dan tanpa sadar ia terus menghela nafasnya dan mengusap wajahnya dengan kasar.
"Gue pulang!! Yuk ca, zoy.." Ujar Maura yang memilih pulang lebih baik dari pada bertahan di sini.
"Kunci mobil sama Jevan" Ujar acha kepada Maura dan hal itu benar-benar membuat kaki Maura terasa lemas.
"eh... eh lo gak papa kan..." panik Jevan saat Maura hampir terjatuh untungnya acha dan zoya memegangi Maura.
"Kunci mobil gue mana?" pinta Maura lesu dan Jevan tersenyum licik baru karena baru mengingat kunci mobil Maura yang ada padanya.
"Yuza!!!!" pekik Jevan memanggil temannya.
"Apaan sih bis ? eh kok masih ada mereka kan udah malam bis.." Ujar Yuza yang heran karena semuanya masih di sini.
"lo anterin andin sama luna kalau Karin sama nadia mereka bawa mobil" Ujar Jevan dan membuat empat cewek sejuta pesona itu terkejut.
"Kak kitakan mau nginap di sini kak?" Ujar andin heran mewakili teman-temannya.
"kalian harus pulang dan gak ada bantahan!" Ujar Jevan tegas tak terbantahkan dan empat cewek itu hanya bisa menurut dan bergegas pulang.
"Gue ? kasih aja kuncinya susah amat !" kesal Maura karena dari tadi dia menunggu dirinya di suruh pulang juga.
"Kalian menginap saja karena udah malam banget, gak baik cewek-cewek keluar malam... tuh ada kamar tamu yang udah di siapin sama pembantu rumah ini..." Ujar Jevan membuat mereka bertiga menga-nga-nga-nga buanget.
"Nginap?" Ujar zoya dan acha bersamaan karena saking kagetnya.
Jevan hanya bisa membalas dengan anggukan.
"Pembantu ? di rumah ini ada pembantu ? tapi kemarin lo nyuruh gue bersihin ini rumah yang rumayan gede dengan tenaga gue seorang diri!" kesal Maura dan Jevan hanya terkekeh saat melihat ekspresi ketiga cewek yang membuatnya lebih merasakan hidup.
"Tio!!!!" panggil Jevan dan keluarlah temannya yang satu lagi dengan wajah yang sudah menahan kantuk.
"Apaan bis ? udah malem gue udah ngantuk!" kesal Tio.
"lo anterin nih tiga bocah ke kamar tamu, gue mau ke kamar dulu..." Ujar Jevan dan meninggalkan mereka berempat.
Tio hanya menuruti perkataan Jevan sedangkan Maura, zoya dan acha hanya mempunyai pilihan untuk menginap karena tidak mungkin mereka berjalan kaki menuju appartement.
.
.
.
.
TBC
__ADS_1