
HAPPY READING :D
*****
4 tahun kemudian . . .
"Sayang~~"
Suara penuh kelembutan dan penuh kasih itu membelai telinga seorang pria yang sedang bersiap pergi ke kantor. Menyibukan dirinya dengan beberapa dokumen penting karena akhir-akhir ini banyak projek yang akan ia selesaikan sampai ia melupakan si punya suara lembut ini.
Ya! Maura baru saja selesai wisuda sebulan yang lalu tapi semua itu rasanya tak berguna karena suaminya tak mengizinkan Maura menggunakan sarjana nya itu untuk melamar pekerjaan. Jevan juga sudah memimpin perusahaan ayahnya dulu sejak dua tahun yang lalu, saat ia sudah menyelesaikan studinya dan kini ia hanya ingin melihat istrinya di rumah, menurutnya cukup dirinya saja yang bekerja karena keuangan tidak menjadi masalah baginya.
"Apa sayang???" balas Jevan dengan lembut dan menatap Maura yang sedang memakaikan dasinya.
"Aku mau kerja boleh ya.. ya...ya..." Ujar Maura sambil menyatukan kedua tangannya yang baru menyelesaikan ikatan pada leher Jevan.
"Apaan sih Maura, kan aku udah bilang berkali-kali sama kamu.. aku gak mau kamu kerja.." Ujar Jevan tegas dan Jevan segera mengambil tas kerjanya lalu meninggalkan Maura di kamar dengan kedaan kesal.
"Emangnya gak bosen apa di tinggal mulu!" dumal Maura yang mengekori Jevan dengan kakinya ia hentakan seperti anak kecil.
"Aku bosen di rumah..." Ujar Maura dan Jevan menatap istrinya yang lebih kecil darinya itu.
"Sayang... kalau kamu bosen, kamu bisa ke rumah mama atau bunda dan kalian bisa cari kegiatan kan, ya udah aku kerja dulu yah.." Jevan mengelus puncak kepala Maura lalu mengecup keningnya istrinya itu lalu masuk ke dalam mobilnya mengakhiri perdebatan mereka di pagi hari yang tak pernah absen dan juga tak pernah berubah topik.
****
Tiga wanita ini tak pernah berhenti berbicara sejak pertemuan pertama mereka setelah sekian lama mereka tak bertemu dengan kesibukan mereka masing-masing. Zoya yang terlihat sedang menenangkan anaknya yang menangis pun membuat kedua sahabatnya juga diam.
"Aduh mending lo pulang deh ya dari pada kasian anak lo nih..." Ujar Acha yang terlihat gemas dengan ibu baru ini.
Zoya menikah setelah pernikahan Maura berumur satu tahun bersama kekasihnya Yuza dan Zoya juga tidak melanjutkan kuliahnya lagi sejak semester 5 karena ia juga berfikir tentang pendapat Yuza yang tak mengizinkan Zoya bekerja seperti Jevan setelah kuliah. Zoya memilih untuk mengurus suaminya dan membuat eksperimen baru di kamarnya seperti hiasan yang bisa ia jual. Sedangkan Acha ia juga menyusul bersama Tio baru saja karena mereka memutuskan untuk menikah sesudah kuliah dan itu di setujui oleh kedua orang tua mereka. Tio juga tak seperti kedua sahabatnya yang lain, ia memperbolehkan Acha bekerja tapi hanya sebagai sekertarisnya di perusahaan yang sedang Tio pimpin.
Aksa, dia sudah terbang ke Swedia mengejar tunanganya yang sedang menyelesaikan studinya yang terakhir kalinya. Tunangan Aksa adalah Anggia Prananta yang juga berstatus kakak kandung dari kiran. Cewek yang juga salah satu dari geng wanita sejuta pesona itu dan kiran juga sempat menyukai tunangan kakaknya ini tapi Aksa selalu memberi nasehat kepada kiran agar tak lagi mengganggu hubungannya dengan kakaknya.
"Iya-iya gue maunya sih gitu tapi si Yuza gak jemput-jemput" Ujar Zoya yang terus menimang-nimang anaknya agar berhenti menangis.
"Nah tuh Yuza bukan..." Maura menunjuk seseorang di luar café yang baru saja keluar dari mobilnya.
"Eh iya.. untung dia datang.." Ujar Zoya dan mereka tiga menunggu kehadiran Yuza.
"Honey... yuk pulang, eh ada Acha sama Maura..." Yuza yang baru tersadar kalau yang menemani istrinya adalah sahabat istrinya sendiri pun ikut tersenyum dan bersalaman setelah beberapa waktu tak bertemu.
"Iya Za.. ya udah langsung bawa pulang aja tuh... si nathan udah nangis tuh.." Ujar Maura menunjuk jagoan kecil Yuza.
"Eh iya nih... ya udah kita pulang deh ya Maura, Acha.. titip salam buat suami kalian.." Ujar Yuza yang merangkul dan membantu istrinya untuk mendiami Nathan.
"Bye ca.. Maura" Zoya hanya bisa melambaikan satu tangannya karena sibuk untuk menenangkan Nathan yang terus menangis.
"Terus lo gimana? Lo di jemput sama Tio juga?" Tanya Maura setelah Zoya benar-benar pergi.
"Iya dan nanti gue mau pergi berduaan sama dia.." Ujar Acha dengan pipinya yang memerah karena ucapannya sendiri.
"Dasar pengantin baru!" tukas Maura lalu meneguk minumannya yang tadi ia pesan.
"Huuu bilang aja iri" Ujar Acha yang tak terima.
"Terserah dah terserah.." Ujar Maura.
"Kalau lo?" Tanya Acha.
"Gue mau ke rumah bunda aja karena tuh si Jevan lagi sibuk dan gue males di rumah.." Ujar Maura dengan wajah badmoodnya.
"Ya udah kenapa lo gak cari kegiatan aja gitu, kayak kerja mungkin apalagi lo pintar" Usul Acha yang membuat telinga Maura panas.
"Kerja kata lo? Yang ada gue di kurung sama dia dan gak boleh keluar-keluar" dumal Maura menceritakan kenyataan yang ada.
"Nasib lo kok samaan ya sama Zoya?? Tapi Zoya gak seburuk lo hahahaha" Acha menertawakan Maura yang semakin menekuk wajahnya kesal.
"Udah selesai lo ngetawain gue.." Acha terdiam kalau Maura memang benar-benar kesal seperti ini.
"Sorry eeee lah pemarah banget sih buk.. PMS yah.. haha sini deh gue kasih tau" Ujar Acha seperti menyiratkan rahasia.
"Apaan?" Tanya Maura yang berminat.
"Lo sama Jevan udah malam pertamaan, soalnya lo kan pernah cerita kalau Jevan rela nunggu lo sampai wisuda." Ujar Acha yang juga penasaran.
"Belum" jawab Maura polos.
"Aah lo lagi, wisuda udah lewat sebulan dan lo belom... huu ya udah lo pancing aja.." Ujar Acha yang memainkan kedua alisnya.
"Maksudnya??" Tanya (Maura) bingung.
__ADS_1
"Lo belum jadi istri Jevan seutuhnya dan gue nyuruh lo untuk jadi istri Jevan seutuhnya dari pada dia lari ke wanita lain dan bosan sama lo" Ujar Acha dan Maura mengangguk.
"Tapi gue takut..." Ujar Maura.
"Tenang aja kali, lagian lo milih takut atau bosan sih dan itu udah kewajiban lo sebagai istri.." Ujar Acha.
Setelah itu Acha membiarkan Maura melayang-layang dalam fikirannya karena ucapan dan usulannya. Setelah lama diam, Maura kembali berbicara dan menatap Acha dengan mata yang berbinar
"Gue pulang ke rumah aja dan di tunda ke rumah bundanya dulu.." Ujar Maura dengan wajah yang ragu.
"Ya udah gue balik duluan ya soalnya Tio udah nunggu di luar..." Ujar Acha yang membuat Maura merungut kesal.
"Huuu gak bilang dari tadi!!" gumam Maura.
"Eh Maura.. perasaan tuh Jevan deh yang di samping Tio..." Ujar Acha membuat Maura juga menoleh ke arah mata Acha memandang.
"Haa??? sejak kapan laki gue di situ?" Tanya Maura yang bingung dan darimana Jevan tau ia berada di sini.
Dua wanita ini segera keluar menemui suaminya setelah membayar makanan mereka. Suami mereka menyambutnya dengan senyuman dan dua wanita itu segera berlari ke pelukan suaminya masing-masing.
"Kamu kok bisa di sini sih? Ngapain coba??" Tanya Maura yang memeluk Jevan sedankan Jevan membalasnya dengan satu tangan dan tangan lainnya merapikan rambut Maura.
"Ya bisa lah kan aku mau jemput kamu" Ujar Jevan santa sedangkan pasangan yang di sebelahnya hanya tersenyum melihat keharmonisan pasangan sahabatnya ini.
"Dari mana kamu tahu aku di sini..??'' Tanya Maura lagi.
"Nih.." Jevan memberikan ponselnya membiarkan Maura membaca pesan dari bundanya.
"oh bunda yang ngasih tau..." Ujar Maura.
"Iya, kamu jadi ke rumah bunda?" Tanya Jevan.
Maura menatap Acha dan Acha hanya mengangguk pelan tanpa di ketahui lelakinya masing-masing.
"Aku pulang aja deh, ada yang mau aku omongin sama kamu" Ujar Maura dan Jevan hanya tersenyum berharap bukan perdebatan tadi pagi yang akan mereka lanjutkan.
"Ya udah kita duluan ya Jev, ra." Ujar Tio dan Acha hanya melambaikan tangannya dan berbicara isyarat untuk menyemangati Maura.
"Hati-hati yaa.." Ujar Maura dan Jevan membiarkan sahabatnya pergi terlebih dahulu.
Tin Tin..
Tio mengklakson mobilnya untuk pamit sekali lagi kepada sahabatnya dan Jevan hanya mengangguk membiarkan mereka pergi.
"yuk" Maura masuk ke dalam mobil Jevan yang pintunya sudah di bukakan Jevan. Kemudian Jevan memutarkan mobilnya untuk duduk di kursi kemudi lalu menghidupkan mesin dan menjalankan mobilnya menuju rumah untuk membicarakan sesuatu. Entah apa itu yang pasti mereka harus melalui dengan hati yang tenang.
****
Maura menatap Jevan yang sedang meletakan tas kerjanya di ruangan kerjanya, membuka dasi yang sedari tadi mengikat lehernya. Melepaskan baju kantor yang sudah membuatnya gerah tanpa Maura membantu suaminya ini sedikitpun.
"Sayang..." Maura mulai melancarkan aksinya sambil memegang teh yang baru ia buat untuk suaminya.
"Apa?? Kamu pengen apa lagi??" Tanya Jevan membuat Maura tersenyum karena suaminya sangat tau sifatnya.
"Hehehe kamu tau aja" Maura memukul pelan lengan Jevan dan Jevan hanya tersenyum melihat sikap manja istrinya.
"Ini minum dulu" Maura meletakan teh itu di meja kerja Jevan dan Jevan meraihnya lalu meneguknya.
"Kamu mau ngomong apa?" Tanya Jevan setelah meneguk habis teh buatan istrinya dan meletakan gelasnya di meja kembali.
"Mmm soal yang tadi pagi.." Ujar Maura yang langsung di potong oleh Jevan.
"Sayang aku gak mau kamu kerja dan sekali aku bilang enggak ya enggak, udah ah aku capek aku mau mandi terus tidur..." Jevan langsung meninggalkan Maura yang terdiam mendengar penuturan Jevan.
"Huft~~ kayaknya harus pakai cara Acha deh..." Maura juga berjalan ke kamar mandi di luar untuk mandi karena kamar mandi di dalam kamarnya sedang di pakai Jevan.
Seusai mandi Maura segera mengambil pakaian yang dulu di berikan sahabat-sahabatnya untuk kado pernikahan mereka. Maura juga telah menyiapkan dirinya untuk memutuskan hal ini. Lingerie merah yang benar-benar tipis kini telah melekat di tubuhnya dan sangat pas, menampakan kulit putihnya yang mulus tanpa noda sedikitpun. Maura juga sengaja menyelesaikan mandinya lebih dulu dari pada Jevan karena tidak ingin rencananya gagal.
Setelah memakai lingerie Maura juga memakai piama tidurnya karena ia tidak ingin Jevan tahu kalau saatnya sudah tiba. Maura merebahkan tubuhnya di kasur milik mereka menunggu Jevan selesai mandi.
KLEK
Jevan baru saja keluar dari kamar mandi dengan air yang menetes dari rambutnya membuat dirinya sangat tampan. Jevan menatap istrinya yang sudah tertidur terlebih dahulu tanpa menghadap ke dirinya. Jevan segera memakai bajunya lalu meraih kembali laptopnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang harus di selesaikan karena memang Jevan sangat pekerja keras tanpa mengingat waktu yang seharusnya ia gunakan untuk istirahat. Maura menatap kesal Jevan yang semakin larut dengan pekerjaan.
"Sayang... kamu gak tidur?" Tanya Maura lembut.
"Eh kamu belum tidur? Aku kira udah, iya nih dikit lagi" Ujar Jevan yang hanya menatap Maura sekilas.
"Jevan masalah kerja itu kamu pikir-pikir lagi yaaah.. Acha aja boleh kok sama Tio kenapa aku enggak??" Ujar Maura yang ingin meraih perhatian Jevan namun Jevan hanya menatap laptopnya.
Perlahan Maura melepas piamanya dan menampakan lingerie nya namun Jevan belum melihat dirinya yang seperti ini. Saat Jevan menoleh untuk menyanggah istrinya Jevan kembali terdiam dan menatap penuh hasrat tubuh istrinya ini.
__ADS_1
"Ini mah lebih menarik dari pada laptop" Ujar Jevan dalam hatinya perlahan ia meletakan laptopnya di atas nakas.
Maura pun dengan sengaja duduk di pangkuan Jevan yang sedari tadi menelan ludahnya susah payah.
"Jevan..." Ujar Maura membuyarkan Jevan dari fantasi liarnya.
"Hmm... a..aku nanti aku pertimbangkan dulu" Ujar Jevan yang entah kenapa menjadi gugup.
"Aku akan memperbolehkan kamu kalau kamu juga memperbolehkan aku kerja..." Ujar Maura lalu mencium bibir Jevan sekilas membuat Jevan benar-benar terpancing.
BUGH
"can I ?" Tanya Jevan yang sudah menghimpit (
Maura.
Maura hanya mengangguk sebelum akhirnya Maura ******* habis bibir Maura. Malam ini Maura benar-benar memberikan madu termanis miliknya kepada suaminya yang sangat ia cintai tanpa keraguan. Jevan juga sangat bahagia saat penantiannya tak sia-sia dan akhirnya ia dapat merasakan malam yang seharusnya terjadi di saat malam pertamanya menjadi pengantin tapi demi istri yang ia cintai ia melakukan apapun.
*****
Jevan membuka matanya setelah lama tertidur karena lelah bekerja semalaman bersama istrinya yang paling ia cintai. Jevan menoleh ke samping mendapati istrinya yang masih terlelap dalam tidurnya. Jevan tersenyum menatap wajah polos istrinya yang sangat alami cantiknya, perlahan tangannya terulur untuk menyisihkan anak rambut Maura di balik telinganya agar terlihat sempurna wajah yang selalu Jevan jadikan sebagai semangatnya.
Jari-jari Maura mulai bergerak tubuhnya bergeser karena merasa terusik dari tidurnya. Jevan segera menjauhkan tangannya dan terus menatap istrinya. Pelan tapi pasti Maura membuka mata indahnya dan mendapati suaminya yang sedang memperhatikannya.
"Kamu udah bangun ??" Tanya Maura tanpa rasa kaget seperti pertama kali ia tertidur bersama Jevan di kamar Jevan dulu.
"Udah" sahut Jevan tapi matanya tak lepas memandang wajah Maura.
"Kenapa gak bangunin aku ? ya udah aku mau nyiapin sarapan dulu buat kamu.. argghtt" Jevan segera bangkit dari tidurnya untuk membawa Maura kembali tiduran di atas ranjang mereka bersama.
"Masih sakitkan ? udah gak usah, biar aku aja yang gantiin kamu sehariin ini dan anggap aja ucapan terima kasih dari aku untuk semalam... mending tidur lagi yuk.." Jevan memeluk istrinya yang hanya bisa pasrah pada suami sahnya ini.
"Emangnya kamu gak kerja??" Tanya Maura)
yang berada dalam pelukan suaminya.
"Aku bolos sehari dulu deh hehe" Ujar Jevan sambil mengecup puncak kepala istrinya yang paling ia cintai.
"Terserah deh yang penting harus izin dulu walau kamu yang jadi boss nya ngerti??"
"Siap big boss" Maura tersenyum melihat suaminya yang tertawa kecil di kala pagi hari yang sangat santai untuk mereka ini.
Jarang sekali mereka memiliki wantu santai seperti ini, biasanya masing-masing mereka terburu-buru dan terlalu sibuk dengan kegiatan masing-masing yang mereka anggap penting tapi sekarang mereka menghabiskan malam dan pagi berdua.
"terus kita gini terus nih, udah jam 7 pagi tau gak.. aku mau keluar deh dari pada di atas kasur terus.. gak betah akunya sayang" Ujar Maura yang memang sudah gerah dengan tubuhnya yang terasa panas dan butuh air untuk membersihkan diri.
"5 menit aja, kita tidur lagi, okey?" Ujar Jevan yang langsung memeluk istrinya lagi dan memejamkan matanya tanpa menunggu jawaban istrinya.
Sedangkan Maura hanya diam dan ikut memejamkan matanya, mencoba untuk tidur lagi seperti yang di lakukan Jevan.
3 jam kemudian..
"hoaaaahhh..." Maura menguap dan mengerjapkan matanya yang lelah karena terus tertidur dan ia kembali melihat jam.
"Ya ampun udah jam 10 aja.. si Jevan iih ngajakin tidur mulu kayak penganten baru aja.. kan aku jadi ikut ketiduran juga..." kesal Maura dan menarik selimutnya untuk menutupi tubuhnya dan mencoba turun dari kasurnya dan rasa sakit itu kembali terasa.
"Arghhttsss aduhh gimana caranya.." Maura berpegangan pada meja di dekatnya sambil berusaha berjalan.
Jevan yang terbangun karena mendengar suara gaduh istrinya yang terus merintih kesakitan. Jevan melebarkan matanya melihat istrinya yang nakal lagi-lagi mencoba berusaha untuk berjalan.
Maura berhenti sejenak untuk meredam rasa sakitnya di bagian sensitifnya lalu tak lama ia merasa tubuhnya melayang.
"Jevaaaan" Maura baru tersadar kalau Jevan menggendongnya.
Selimut yang tadi menjadi penutup tubuhnya sudah terjatuh. Jevan yang juga tak mengenakan sehelai benang pun sama seperti Maura tak ada rasa malu dan grogi lagi pada istrinya, berbeda dengan istrinya yang warna merah sudah berseri di wajahnya karena menahan malu.
"Iih Jevaaaan..." kesal Maura untuk menutupi malunya saat mereka sudah berada di kamar mandi berdua.
"Emangnya kita udah nikah berapa tahun sih ? kenapa masih malu sama aku?" Ujar Jevan agar istrinya tidak seperti ini lagi tapi Jevan menyukai wajah istrinya yang merona terlihat menggemaskan di pandangannya.
"4 tahun sih, tapi ini kan pertama kalinya kita.."
"Mau pertama atau kedua yang penting sekarang kita mandi berdua dan izinkan aku memandikan mu tuan putri.." Ujar Jevan mendudukan Maura di bath up lalu mengambil sabun dan memulai membersihkan tubuh mereka.
Maura hanya bisa diam dan menuruti semua apa yang Jevan perintahkan terutama hari ini karena ia tak bisa berbuat apa-apa, karena berjalan pun susah apalagi melawan Jevan dengan kekuatan lelakinya.
.
.
.
__ADS_1
.
TBC