Jatuh Hati

Jatuh Hati
4 : Kisah Ibu dan Ayah


__ADS_3

Selepas kejadian senja di Gombel kemarin, Keenan mengantarku ke indekosan Putri yang ada di dekat kampus. Putri adalah salah satu anggota SLSY yang lumayan dekat denganku. Itu salah satu alasanku memilihnya. Masalah motor yang kutinggalkan di depan sekretariat Keenan berjanji untuk mengurusnya. Aku berterima kasih sekali lagi kepadanya.


Dua hari aku menginap di tempat Putri dengan tetap memberi kabar pada Ibu. Kata Ibu, Ayah sudah lebih tenang. Setelah kepergianku kemarin lusa, Ayah sama sekali tidak mengungkitku atau berbicara banyak pada Ibu. Kusimpulkan mungkin penyebab pertengkaran Ayah dan Ibu memang aku. Ketika pulang nanti aku akan coba meminta maaf pada keduanya. Kuakui bahwa aku memang sudah tidak peduli pada mereka yang memulai pertengkaran karena perselingkuhan Ayah lima tahun lalu. Mungkin di situlah letak kesalahanku.


Biarlah. Urusan keluarga akan kuurus selesai kuliah nanti.


Lain halnya dengan hubungan keluargaku yang makin renggang, pertemananku dengan Keenan mengalami kemajuan pesat. Kalau dulu aku hanya bisa minum jus mangga bersama dengannya di sekretariat, kini aku bisa makan es  krim dengannya di minimarket dekat kampus. Semakin hari ada semakin banyak hal yang kuceritakan padanya. Aku bahkan bercerita soal perkembangan hubungan dalam keluargaku. Sampai dua hari ini, dia masih selalu mendengar dan menanggapiku dengan baik. Keenan benar-benar berlakon menjadi teman yang bisa kupercaya.


Selain itu, Keenan juga lah yang mendesakku segera pulang untuk bertemu Ayah dan Ibu. Katanya, bermusuhan sampai berdiam-diaman lebih dari tiga hari itu tidak diperbolehkan dalam agama. Katanya lagi, sungguh lebih mulia orang yang mau mengakui kesalahannya dan memaafkan kesalahan orang lain terlebih dahulu. Apa pun hasilnya nanti, ia sudah siap menemaniku menangis atau tertawa.


Keenan yang seperti ini malah mengingatkanku pada Jessie dan Keana. Dua sahabat baikku itu entah bagaimana kabarnya. Tidak seperti masa SMA, mereka jauh lebih sulit dihubungi. Bahkan grup obrolan online yang kami buat pun sepi seperti kuburan. Aku malah jadi ragu kalau mereka masih menganggapku sebagai bagian dari persahabatan itu.


Kepalaku menggeleng. Pikiranku sudah kacau kemana-mana. Perihal bagaimana aku harus meminta maaf saja malah membuatku berpikir yang macam-macam.


Selesai kelas, aku berpisah dengan Putri sambil mengucapkan terima kasih. Putri adalah orang kedua yang mengetahui masalah pelikku. Jelas saja, ia yang memberiku tumpangan, jadi aku tidak bisa memberinya alasan bohong. Di samping itu, aku sudah berjanji akan membuka diriku pada orang lain. Aku akan jadi diriku sendiri, tidak akan berpura-pura semuanya baik. Perubahan ini akan kumulai dari orang-orang terdekatku saat ini.


Sesampainya di rumah, sunyi menggantung. Perlahan kubuka pintu depan dan melangkah masuk. Sekali kuucapkan salam yang tak terlalu keras. Suasana rumah yang sepi tak begitu familiar di benakku. Dulu, hal semacam ini hanya ada dua sebab: Ayah sedang pergi atau tidur. Namun, sekarang sudah sore. Aku tahu sekali Ayah bukan tipe orang yang bisa tidur di sore hari. Semasa aku SD dulu, Ayah pasti akan membangunkanku yang masih tertidur di atas jam setengah empat sore. Dulu, ia suka sekali mengajakku bersepeda keliling kompleks. Sampai-sampai aku pernah sengaja tidur siang di bawah kasur supaya Ayah tidak tahu kalau aku masih terlelap.


Langkahku terhenti di pintu ruang makan. Ayah dan Ibu duduk dalam diam di sana, seolah sudah menungguku. Tanpa sadar kutelan air liur sendiri. Rasanya jantungku sudah berdebar tidak karuan. Seolah mendapat pertanda suatu hal tidak baik akan terjadi sebentar lagi.


“Duduk sini, Nak,” sapa Ibu lembut saat matanya bertemu denganku.

__ADS_1


Aku tidak punya alasan apa pun untuk menolaknya. Jadilah kakiku melangkah ke meja makan yang berada di tengah ruangan lalu mengambil tempat berhadapan dengan mereka.


“Aku dan ibumu sudah memutuskan untuk bercerai,” ucap Ayah memulai penjelasan. Aku terkesiap, tahu ini akan terjadi cepat atau lambat. Telingaku masih serius mendengarkan kelanjutan kalimat Ayah, “lima tahun ini sungguh terasa berat bagi kita, terutama aku sendiri. Aku sudah tidak punya sayang untuk kalian. Jadi aku bisa dengan mudah menyakiti kalian dan bahkan sekarang meninggalkan kalian.”


Kulirik Ibu. Matanya mulai berkaca-kaca. Sampai sini aku salah paham soal Ibu. Dia masih mencintai Ayah sebesar aku mengharapkan Ayah kembali ke masa lalu.


“Aku tahu ini terdengar tidak masuk akal untuk kalian. Aku juga tahu aku ini egois, tapi aku menyayangi orang lain sekarang. Aku sudah punya keluarga kecil dengannya. Aku sudah jadi seorang ayah di keluarga itu. Anak itu masih berumur dua tahun. Dia gadis kecil yang imut, sama seperti kamu dulu, Ra. Tetapi sekarang, aku merasa … bersama kalian sungguh sangat memberatkanku.”


Rupanya ini buntut pertengkaran lima tahun silam. Aku terkejut ternyata Ayah seserius itu dengan selingkuhannya sampai membandingkan aku dengan anaknya yang lain. Penasaran mengusikku, bibirku terbuka tanpa kuminta.


“Apa yang kurang dari Ibu dan aku lima tahun lalu?” tanyaku menghentikan monolognya.


“Tidak ada,” jawabnya akhirnya, “kalian keluarga yang sempurna bagiku dulu. Tetapi aku merasa masih kurang diperhatikan. Aku merasa butuh perhatian lebih. Jadi, kucari orang lain yang bisa mencintaiku seperti kalian. Sampai aku—”


“Kapan persidangan kalian?” potongku cepat. Mau diceritakan sebaik apapun, jawabannya masih tidak masuk akal. Seharusnya, kalau kami sempurna, ia juga merasa begitu. Bukannya malah mencari kasih sayang lain yang tidak bisa dibenarkan oleh siapa pun, kecuali ia sendiri.


“Akhir bulan nanti.” Sekarang suara Ibu yang menyahut. Setelah lama diam dan mengusap air mata, ia memutuskan untuk terlibat, “kami pikir kami tetap harus bertanya padamu mengenai hak asuhmu.”


Aku menghela napas. “Bersamaku saja sudah memberatkan dia, mengapa aku harus mau menyiksanya? Aku akan ikut denganmu, Bu. Seharusnya ini tidak perlu ditanyakan lagi.”


“Setelah ini aku tidak akan tinggal di sini lagi. Aku akan meninggalkan rumah ini untuk kalian. Aku bertahan dua hari di rumah ini untuk menunggumu pulang dan meminta maaf atas tamparanku kemarin. Akan kuberikan kompensasi lebih untukmu atas perbuatanku kemarin,” sahut Ayah memberitahu.

__ADS_1


‘Kompensasi?’ cibirku. Dalam hati aku tertawa. Aku benar-benar telah menjadi orang asing bagi Ayah. Tak ada hal lainnya yang bisa kulakukan selain menyetujui semua hal ini.


“Aku juga minta maaf karena sudah menjadi bebanmu. Kuharap keluargamu yang lain tidak sesempurna aku dan Ibu sampai kau harus mencari kasih sayang lainnya,” balasku mencoba tenang, “kalau suatu hari kau punya rasa bersalah untuk kami, mungkin saat itu aku bisa kembali memanggilmu ‘Ayah’ meski pintu rumah ini sudah tertutup dan bukan milikmu lagi.”


Ayah berdeham. Laki-laki itu sudah sangat siap untuk meninggalkan rumah ini. Bisa kulihat dari dua koper besar yang berdiri di dekat kakinya.


“Baiklah. Sepertinya kamu sudah cukup mengerti,” ucap Ayah pelan. Sebentar ia melihat ponsel cerdasnya, memeriksa sesuatu lantas tersenyum. “Sinta sudah hampir sampai. Aku akan langsung pergi begitu ia sampai. Semoga kalian baik-baik saja.”


Belum ada semenit sejak Ayah selesai mengatakan itu, suara mobil berhenti terdengar dari luar. Wajah Ayah berubah lebih cerah. Sekai lagi ia berdeham lalu pamit pergi. Aku dan Ibu bergeming, sama sekali tidak sanggup mengantarnya keluar. Kami hanya saling lirik ketika Ayah mulai melangkah keluar sambil menyeret dua kopernya.


Dua menit kemudian, mobil di luar menderu lagi lantas menjauh dan menghilang sama sekali. Aku dan Ibu masih saja saling terdiam. Lalu sunyi pecah dengan isak tangis Ibu yang semakin lama makin kencang. Dari tangisnya aku tahu satu hal: Ibu masih sangat mencintai Ayah.


Ketenanganku goyah juga. Tangisan Ibu terdengar begitu menyayat hati. Aku beranjak, segera memeluk Ibu yang sebentar lagi jatuh ke lantai. Berdua kami menangis bersama-sama. Aku menangisi Ibu dan Ibu menangisi Ayah. Sesekali Ibu menyebut nama Ayah, mengatakan kalau ia masih sangat mencintainya entah bagaimana pun keadaan mereka. Begitu terus sampai mata kami lelah menangis.


Malam harinya, Ibu mengisahkan segalanya. Bagaimana kali pertamanya bertemu Ayah, kisah cintanya, hari pernikahan yang penuh sukacita, juga perjuangan mereka sampai ada aku. Ibu sangat berbahagia karena Tuhan memberinya kisah hidup yang bahagia saat itu. Sampai Ayah dimutasi ke unit kerja baru, dimana semua kesedihan ini bermula. Semuanya. Ibu bercerita sampai lelah, hingga kami beranjak tidur. Bahkan malam itu, kami memutuskan untuk tidur berdua di kamarnya. Sampai matanya terpejam karena kantuk, barulah cerita Ibu berakhir.


***


 


 

__ADS_1


__ADS_2