
HAPPY READING :D
*****
Byurrr...
Entah kenapa Maura berfikir kalau ia membuat andin teraniaya, Jevan akan marah besar padanya tapi kenyataannya lain.
"Heh?!? Maksud lo apaan nyiram gue gini...!!" kesal Andin dan melihat seseorang yang mendekat ke arah mereka.
"Kak Jevaaan... badan aku jadi lengket nih gara-gara nih cewek..." Ujar andin mengadu dengan sifat manjanya pada Jevan.
Jevan hanya menatap Maura tak percaya namun telah ia tutupi dengan ekspresi setenang mungkin.
"Ya udah balas aja kayak gitu lagi.." jawab Jevan dengan mudahnya tapi bukan itu yang Maura harapkan melainkan Jevan akan marah padanya dan mengusirnya dari party ini. Belum selesai dengan rasa cengonya, Maura merasakan sesuatu yang membasahi tubuhnya juga terasa lengket dan pelakunya adalah andin yang balas dendam padanya.
"Haha makasih ndin, gue pulang..." Ujar Maura dengan tawa hambarnya ia pergi meninggalkan party itu dengan semua mata memandangnya.
Jevan menarik pergelangan tangan Maura agar Maura berhenti dan itu berhasil. Maura memandang kesal wajah Jevan yang tenang. Entah makian apa yang pas untuk lelaki yang sangat ia benci ini.
"Lo pulang kalau party ini selesai dan lo gak ada pilihan lain untuk menolak apa yang gue perintah" Ujar Jevan dengan ekspresi datar.
"Gue gak mau karena badan gue lengket" Ujar Maura yang tak kalah datarnya dengan Jevan.
"lo ganti di rumah gue karena udah dari tadi gue nyiapin dress buat lo, gue gak menerima penolakan!" Ujar Jevan dan menyeret Maura kembali kedalam tanpa memperdulikan tatapan orang lain.
"Aduhh.. gak usah pake narik-narik gini kali.." Ujar Maura yang berusaha melepas pegangan Jevan namun yang ada Jevan mempererat pegangan itu sampai akhirnya mereka berhenti di kamar Jevan.
"Nih pake..." Ujar Jevan seraya memberikan dress cantik dan terlihat elegan jika melekat di tubuh Maura.
"Oke gue mau ganti.." Ujar Maura dan segera melangkah pergi namun lagi-lagi Jevan menghentikannya.
"Apa lagi sih ?" kesal Maura.
"Lo mau kemana ?" Tanya Jevan.
"Lo kira gue harus ganti baju di depan lo di sini ?!? gue mau ke kamar mandi!" Jevan yang tersadar akan kesalahannya segera membuang mukanya karena malu dan melepaskan pegangannya membiarkan Maura pergi.
"Gue tunggu di sini.." Ujar Jevan dan duduk di sofa yang ada di kamarnya sambil memainkan ponselnya.
15 menit kemudian ...
Maura keluar dari kamar mandi menuju meja rias yang ada di kamar cowok ini. Maura memandang ke kaca sebentar melihat penampilannya.
"hufft... sekalian aja deh gue make up biar dia tau kalau gue si Nandita yang cantik jelita walau Helena gak ada di sini.." Ujar Maura dalam hati dan melirik Jevan yang masih belum sadar kalau ia sudah di luar.
Maura berjalan dengan sangat pelan agar Jevan tetap tak menyadarinya karena Maura ingin ke mobilnya. Semua berjalan dengan mulus, sekarang Maura berada di dalam mobilnya, mengutak-atik alat make up nya dan memolesnya ke wajahnya. Dengan gerakannya yang cukup lihai, Maura selesai dengan waktu cukup cepat.
"Siap deh.." Ujar Maura.
Tok..tok..tok..
Seseorang mengetuk jendela mobilnya, Maura segera membukanya dan mendapati Jevan dengan wajah garang.
"Turun!!" Ujar Jevan dan Maura segera menutup kaca jendela mobilnya dan keluar dari mobil.
"Iya gue tau, gue juga udah siap! Yuk.." Maura mengaitkan lengannya dengan lengan Jevan tanpa memperdulikan Jevan yang cengo akan sikapnya dan juga pesonanya.
"Really? Ini benar kamu? Cantik." bisik Jevan di telinga Maura dan Maura hanya bisa tersenyum atas pujian itu.
Kini semua orang berdecak kagum melihat penampilan gadis ini. Gadis yang di berada di samping 'King bullyng' kampus. Dia adalah Maura. Junior yang mempunyai pesona lebih dari para cecunguk yang gak jelas itu siapa lagi kalau bukan andin and CS.
"Itu bukannya Maura..." Ujar Tio berbisik ke Yuza yang berada di sampingnya.
"Widiiih udah beda aja nih..." Ujar Yuza yang sebenarnya hanya berniat menggoda Maura tapi mendapat tatapan sinis dari orang yang mengaku sebagai 'PACARnya'
"Maksud lo ?!?" Jevan.
"Maksud gue, maksud gue penampilan Maura Jev, lo sewot amat..." Ujar Yuza yang heran dengan sikap temannya ini yang biasanya membiarkan target-targetnya di goda oleh yang lain tapi kenapa dengan targetnya yang satu ini ? Maura?
"Karena dia PACAR gue..." Ujar Jevan sambil menekankan kata 'pacar'nya dan hal itu mempu membuat Maura ingin berteriak dan memaki Jevan.
"Pacar ? Emang bener kamu mau sama Jevan ?" pertanyaan yang membuat Jevan kesal itu terluncur begitu saja dari mulut Marcell.
"Enggak kok kak! Aku gak pernah pacaran sama Jevan dan gak akan pernah mau kok.." Ujar Maura) seger kepada Marcell agar tidak ada permasalah antara dia dan fansnya Jevan.
"Ohh, aku kira kamu pacaran sama Jevan.." Ujar Marcell lagi.
"Maksud lo apaan ngomong gitu Cell ?!?" Ujar Jevan sambil menahan emosinya.
"Gue nanya kepastiaan aja karena gak mungkin aja cewek kayak Maura nerima gitu aja kalau lo jadi pacarnya.." Ujar Marcell dengan santainya dan itu membuat emosi Jevan memuncaknya.
"Jadi menurut lo ! gue gak mungkin jadi pacar Maura! Gitu !!! Jadi lo merasa diri lo lebih baik dari pada gue!!!" Bentak Jevan pada Marcell membuat banyak pasang mata memandang mereka.
"Gue gak bilang gitu lho... tapi kalau lo merasa gitu gue gak bisa ngomong apa-apa..." Ujar Marcell yang menatap Jevan dengan tatapan biasa saja.
"Gue harap lo gak bakal ngomong kayak gitu lagi di depan gue setelah ini!!!" geram Jevan sambil berusaha mengendalikan emosinya dan hal itu yang membuat Marcell tertawa di dalam hati karena Jevan selalu mengendalikan emosinya saat berhadapan dengan sahabat-sahabatnya.
"Emang nya gue salah ngomong ? Dimana salah nya ? Gue cuma nanya kebenarannya aja ke Maura kok, ya gak Maura..?" Ujar Marcell dan beralih menatap Maura.
"Iya kak.." Ujar Maura yang merunduk dan merasakan aura yang gak enak di sekitar Jevan.
"Stop! Gue rasa kita udahin dulu aja dan sambung nanti setelah party kita selesai dan lo ... ikut gue!!!" Ujar Jevan yang kembali menarik Maura ke dalam kamarnya.
'Sampe hafal gue kata-kata nih anak kalau narik gue'
"awasi mereka" bisik Marcell pada Aksa setelah melihat kepergian Jevan yang membawa Maura.
"Selalu boss... tapi gue dapet apaan nih??" Tanya Aksa.
"Mobil kesayangan lo bakal balik pagi ini di garasi.." Ujar Marcell dan pergi dari sana dan meninggalkan party yang ia anggap membosankan tanpa adanya Jevan.
"Hallo..." sapa pria itu saat telfonnya sudah tersambung.
"..."
"Ia ini aku.."
"..."
"Pasti dan bersama dia"
"..."
__ADS_1
"Aku selalu di sampingnya, ku mohon tenanglah"
"..."
"Aku sudah bertemu dengannya"
"..."
"Aku tahu siapa yang kau maksud"
"..."
"Nanti akan aku jelaskan"
"..."
"Aku terima dan ini sudah perjanjian kita dari awal"
"..."
"Ya benar sekali ! wanita mu menjadi saksinya..."
"..."
"Baiklah, aku tutup..." setelah berbicara tentang sebuah kesepakatan dengan orang yang ia telfon, ia segera masuk kedalam mobilnya. Namun saat di depan pintu mobilnya ia kembali meraih ponsel yang berada di sakunya. Mengetik sesuatu dan setelah itu tersenyum puas lalu kembali memasukan kembali ponselnya kedalam sakunya.
\*\*\*\*
"Maaf" lirih gadis itu yang sudah menahan ketakutannya mati-matian.
"Apa perlu kamu minta maaf pada ku lagi?!?" pria itu kembali membentak gadis itu. Gadis yang telah membuat pria ini jatuh hati.
Melihat kondisi gadis itu sang pria segera memeluk si gadis yang ia cintai. Mereka adalah Maura dan Jevan yang tengah membicarakan persoalan tentang hal yang sepele.
"Aku yang seharusnya minta maaf padamu" Ujar Jevan sambil mendekap erat Maura.
Maura yang tak mengerti maksud Jevan hanya terdiam dan menenangkan hatinya yang ketakutan.
"Seharusnya kamu mengerti kalau aku sudah terlanjur menyukai dirimu, maaf jika caraku menyakiti mu" Ujar Jevan lagi dan kali ini membuat Maura terkejut.
TING !
Sebuah pesan masuk terdengar dari ponsel Jevan. Jevan melepaskan pelukannya dan segera merogoh sakunya dan membaca isi pesan itu.
"SIALAN!!!" umpat Jevan ketika membaca pesan itu.
\*(penasaran sama pesannya ? pinjam aja ponsel Jevan hehe)
"Kenapa ?" Tanya Maura dengan lembut agar Jevan tak lagi membentaknya.
"Gak ada, aku gak papa kok Maura.." Ujar Jevan yang kembali melembut saat menatap mata Maura yang teduh.
"Mmm Jev maaf ya kalau ucapan Marcell nyinggung kamu gitu tapi sumpah aku gak bermaksud buat kamu jadi bertengkar sama Marcell kok..." Ujar Maura sambil memamerkan dua jari yang membentuk huruf V dan memakai wajah yang benar-benar lucu di mata Jevan, seperti anak kecil.
"Iya aku percaya dan aku gak akan marah sama kamu.. asal..." Jevan menggantungkan ucapannya membuat Maura harap-harap cemas.
"Asal apa ?" Tanya Maura yang benar-benar penasaran.
"Asal kamu mau jadi pacar aku dan aku gak akan pernah kasih kamu waktu, aku mau kamu jawabnya sekarang ... iya atau tidak ???" Ujar Jevan yang menatap intens Maura sehingga Maura perlahan mundur dan Jevan terus mendekat.
Jevan menaikan alis matanya dan terus maju sampai akhirnya langkah Maura terhenti karena tembok menghalangi ia untuk berjalan mundur. Jevan mengunci Maura dengan kedua tangannya di kedua sisi tubuh Maura.
__ADS_1
"Gimana ?" Tanya Jevan lagi.
"Kayak deal or no deal aja, deg-degan tau gak sih!" kesal Maura dan ia segera menutup mulutnya saat ia menyadari kalau ia keceplosan.
"Hahaha deg-degan ya ? ya biar asik aja..." Ujar Jevan yang menurunkan ke dua tangannya tapi tetap matanya mengunci mata Maura agar tidak mengalihkan pandangannya.
"Aku..mmm aku... gimana ya ? masalahnya aku gak pernah pacaran! Eh..." lagi-lagi Maura keceplosan sedangkan Jevan kembali di berikan kejutan dengan gadis cantik yang sedang ia hadapi ini.
"Gak papa biar aku bimbing" Ujar Jevan sambil tersenyum tulus.
"Bukan gitu! Masalah nya mm apa yah? Aku juga gak tau ??" Ujar Maura yang mulai ngaco karena terlalu gugup.
Maura seperti ini karena sebelumnya ia belum pernah berinteraksi seperti ini. Ingatkah kalian? Bahwa Maura baru boleh bebas saat ini dan itu pun masih dalam pengawasan papanya. Jadi salahkah Maura jika seperti ini? Tentu tidak karena ini pengalaman pertama untuknya.
"Kenapa gak tau ?" goda Jevan dan membuat Maura lebih panik dan semakin ngaco.
"Karena aku terlalu takut buat bilang iya! Itu semua karena sahabat aku bilang kamu itu harus di waspadai! Eh ? aduh salah lagi!!" Ujar Maura sambil menggigit bibirnya agar tak lagi salah bicara.
"Siapa? Zoya ? atau acha ?" Tanya Jevan yang membuat Maura ketakutan.
Saat Jevan ingin beranjak pergi Maura segera menarik Jevan agar Jevan menoleh kepadanya lagi.
"Kenapa ? Apa kamu udah punya jawabannya ?" Tanya Jevan sambil menyeringai.
"Huffft... ya, aku mau jadi pacar kamu.." Ujar Maura setelah lama memutuskan dan beberapa kali menghela nafas.
"Yakin ?" Tanya Jevan.
"Yakin" jawab tegas Maura.
"Mau jadi pacar aku ?"
"Iya!"
"Gak takut kalau gak tau gimana caranya berpacaran?"
"Gak takut!"
"Masih takut sama aku karena patut di waspadai?"
"Gak lagi"
"Terpaksa ?"
"Banget"
"Huh? Jadi kamu terpaksa ?" Tanya Jevan yang mengerutkan keningnya.
"Emang karena sekarang lagi di ancam, eh ? aduh bukan gitu Jev, enggak ! aku nggak terpaksa, aku ikhlas dan lapang dada... nih mulut keceplosan mulu.." Ujar Maura seraya memukul mulutnya pelan dan Jevan menarik tangan Maura yang ingin memukulnya lagi.
"Dari pada pukul, sini! Biar aku gigit aja karena bandel sih keceplosan mulu" Ujar Jevan
"Iya nih keceplosan mulu! Gigit aja biar tau rasa!" Ujar Maura tanpa sadar.
"Apaan?!? Gigit? Enak aja!!" Ujar Maura saat menyadari apa yang ia katakan namun Jevan langsung menariknya dan menyenderkan tubuh Maura di dingding dan setelah itu Jevan \*\*\*\*\*\*\* habis bibir Maura dan seperti yang ia katakan, Jevan menggigit pelan bibir Maura.
Tok...tok...tok..
.
.
.
__ADS_1
TBC