
Tak lama terdengar suara panggilan dari luar pondok perahu memanggil Emak Japo,
untuk membantu persalinan dipulau, malam ini ada yang melahirkan. Emak Japo dengan cermat merapikan kerudungnya dan membawa seluruh perlengkapannya yang ada di tas kulit yang kusam ia bawa.
Terdengar langkah kaki Emak Japo dipapan perahu dan tak lama ia menutup pintu pondok yang
terbuat dari anyaman bambu. Emak Japo melompat keperahu seberang dan tak lama
suara derikan perahu itu mulai menjauh bersama deru ombak yang terbawa angin
malam.
Aona bangun dari tempat tidurnya. Ia mencari buntalan kain yang pernah ia temukan sebelumnya, ia
yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan Emak Japo dari dirinya. Aonamerebahkan tubuhnya, ia menyingkap
lapisan tempat tidur Emak Japo.
Apa yang dicari ia temukan, buntalan kain
tersebut. Perlahan ia buka, tangannya menemukan beberapa surat yang pernah ia
baca sebelumnya, buku catatan kecil dan sebuah foto usang. Aona mendekatkan pelita tempel ke arah
foto tersebut, tampak jelas laki-laki dengan perawakan asing sedangkan foto
satunya adalah wanita muda yang berkerudung rapi. Umur laki-laki itu cukup dewasa
ia mengenakan kalung salib. Apakah foto
laki-laki ini adalah ayahku? Aonamemandang sekali lagi foto laki-laki tersebut.
__ADS_1
Ternyata apa yang dibicarakan orang-orang itu benar. Tanpa sadar tubuh Aonagemetar dan
entah apa yang terasa di dalam dadanya seperti terhimpit oleh isu-isu hubungan
gelap diluar sana.
Aona memberanikan diri untuk membuka buku catatan tersebut pelan ia baca tiap kata yang tertulis dikertas yang
menguning ditiap sisinya.
5 Januari 1997
Ini adalah perjalananku pertama kali seorang diri, menjadi pencari data untuk tugas
akhirku, keseluruh pelosok terpencil. Awak kapal saat ini fokus pada hamparan
laut yang terbentang luas dihadapanku, didepan sana ada sembilan anak pulau
pemandangan yang mempesona akan aku dokumentasikan. Butuh beberapa hari untuk
sampai kepulau sembilan tersebut.
8 Januari 1997
Tiba di dermaga, namun masih beberapa pulau lagi yang
harus aku lewati. Aku bersama penumpang lainnya masih duduk bersantai sambil
menyaksikan pemandangan yang terhampar indah dan mempesona, sungguh aku takjub
__ADS_1
pada dunia ini? entah tak bisa diucapkan lewat tulisan jika aku menggambarkan
tempat ini. Beberapa dermaga yang aku lalui, hanya mampu memotretnya dari atas
kapal sungguh pulau-pulau yang belum pernah aku lihat selama ini. Inilah
perjalanan kisahku dimulai.
15 Januari 1997
Sepuluh hari sudah aku melewati pulau-pulau untuk sampai di tempat ini tak mudah, kami
menghabiskan beberapa puluh liter minyak untuk sampai di tempat ini. Aku terpukau saat menginjakkan kaki pertama kali di pulau ini, pasirnya begitu putih. Sungguh begitu murni dan jernihnya
air laut hingga dapat menyaksikan kehidupan di bawah laut. Aku disambut Petua Pulau,
begitu hangat dekapannya, mengingatkanku pada sosok Ayah dan Ibu. Mereka tak
pernah setuju atas perjalananku ini. Di hari keberangkatanku, Ibu tak henti-hentinya menangis, aku memeluknya sekuat mungkin. Hingga mereka bisa melepaskan kepergianku.
16 Januari 1997
Puluhan pasang mata menatapku asing, setiap gerak-gerikku diperhatikan. Tak jarang gadis-gadis di sini
berbisik-bisik sambil menatap kearahku. Tak cukup di situ anak-anak pulau di sini
mengikuti tiap langkahku berjalan. Mereka sepertinya belum pernah melihat kamera yang aku bawa, akhirnya sesekali tingkah mereka aku dokumentasikan. Sungguh begitu lugu dan kaku gaya mereka.
Setiap kilatan cahaya menyilaukan wajah anak-anak pulau.
Bersambung...
__ADS_1