JELMAAN

JELMAAN
Episode 10


__ADS_3

Tak lama terdengar suara panggilan dari luar pondok perahu memanggil Emak Japo,


untuk membantu persalinan dipulau, malam ini ada yang melahirkan. Emak Japo  dengan cermat merapikan kerudungnya dan membawa seluruh perlengkapannya yang ada di tas kulit yang kusam ia bawa.


Terdengar langkah kaki Emak Japo dipapan perahu dan tak lama ia menutup pintu pondok yang


terbuat dari anyaman bambu. Emak Japo melompat keperahu seberang dan tak lama


suara derikan perahu itu mulai menjauh bersama deru ombak yang terbawa angin


malam.


Aona bangun dari tempat tidurnya. Ia mencari buntalan kain yang pernah ia temukan sebelumnya, ia


yakin pasti ada sesuatu yang disembunyikan Emak Japo dari dirinya.  Aonamerebahkan tubuhnya, ia menyingkap


lapisan tempat tidur Emak Japo.


 Apa yang dicari ia temukan, buntalan kain


tersebut. Perlahan ia buka, tangannya menemukan beberapa surat yang pernah ia


baca sebelumnya, buku catatan kecil dan sebuah foto usang. Aona mendekatkan pelita tempel ke arah


foto tersebut, tampak jelas laki-laki dengan perawakan asing sedangkan foto


satunya adalah wanita muda yang berkerudung rapi. Umur laki-laki itu cukup dewasa


ia mengenakan kalung salib.  Apakah foto


laki-laki ini adalah ayahku? Aonamemandang sekali lagi foto laki-laki tersebut.

__ADS_1


Ternyata apa yang dibicarakan orang-orang itu benar. Tanpa sadar tubuh Aonagemetar dan


entah apa yang terasa di dalam dadanya seperti terhimpit oleh isu-isu hubungan


gelap diluar sana.


Aona memberanikan diri untuk membuka buku catatan tersebut pelan ia baca tiap kata yang tertulis dikertas yang


menguning ditiap sisinya.


 5 Januari 1997


Ini adalah  perjalananku pertama kali seorang diri, menjadi pencari data untuk tugas


akhirku, keseluruh pelosok terpencil. Awak kapal saat ini fokus pada hamparan


laut yang terbentang luas dihadapanku, didepan sana ada sembilan anak pulau


pemandangan yang mempesona akan aku dokumentasikan. Butuh beberapa hari untuk


sampai kepulau sembilan tersebut.


 


8 Januari 1997


Tiba di dermaga, namun masih beberapa pulau lagi yang


harus aku lewati. Aku bersama penumpang lainnya masih duduk bersantai sambil


menyaksikan pemandangan yang terhampar indah dan mempesona, sungguh aku takjub

__ADS_1


pada dunia ini? entah tak bisa diucapkan lewat tulisan jika aku menggambarkan


tempat ini. Beberapa dermaga yang aku lalui, hanya mampu memotretnya dari atas


kapal sungguh pulau-pulau yang belum pernah aku lihat selama ini. Inilah


perjalanan kisahku dimulai.


15 Januari 1997


Sepuluh hari sudah aku melewati pulau-pulau untuk sampai di tempat ini tak mudah, kami


menghabiskan beberapa puluh liter minyak untuk sampai di tempat ini. Aku terpukau  saat menginjakkan kaki pertama kali di pulau ini, pasirnya begitu putih. Sungguh begitu murni dan jernihnya


air laut hingga dapat menyaksikan kehidupan di bawah laut. Aku disambut Petua Pulau,


begitu hangat dekapannya, mengingatkanku pada sosok Ayah dan Ibu. Mereka tak


pernah setuju atas perjalananku ini. Di hari keberangkatanku, Ibu tak henti-hentinya menangis, aku memeluknya sekuat mungkin. Hingga mereka bisa melepaskan kepergianku.


16 Januari 1997


Puluhan pasang mata menatapku asing, setiap gerak-gerikku diperhatikan. Tak jarang gadis-gadis di sini


berbisik-bisik sambil menatap kearahku. Tak cukup di situ anak-anak pulau di sini


mengikuti  tiap langkahku berjalan. Mereka sepertinya belum pernah melihat kamera yang aku bawa, akhirnya sesekali tingkah mereka aku dokumentasikan. Sungguh begitu lugu dan kaku gaya mereka.


Setiap kilatan cahaya menyilaukan wajah anak-anak pulau.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2