JELMAAN

JELMAAN
Episode 12


__ADS_3

Aku duduk di dermaga sore ini memandang ke hamparan laut


luas sambil mengeringkan baju. Sesekali aku mengambil foto anak-anak pulau yang


melompat dari dermaga, berenang, dan berperahu sampan.


Aku masih menatap wajah wanita yang beberapa hari lalu aku foto, entah seperti ada


sesuatu yang menarikku untuk mendekati wanita itu. Sungguh aku tak bisa


melupakan wajahnya.


Matahari pun  mulai terbenam, anak-anak bergegas


meninggalkan dermaga untuk kembali kerumah. Mereka berbisik setiap sore mereka


harus kerumah apung untuk mengaji. Aku mengangguk mempersilahkan, aku masih


duduk sendiri di dermaga tersebut. Menyaksikan merahnya senja yang mulai


tenggelam berganti malam.


 10 Februari 1997


 Hari ini temanku akan tiba, Ahmad dia sama sepertiku mencari data untuk menyelesaikan tugas akhir. Setidaknya ada teman berdiskusi disini. Aku menunggunya di dermaga, tahukah untuk kesekian kalinya wanita yang ada di kameraku itu berjalan-jalan di pinggir pantai bersama anak-anak, ia bersenda gurau dengan mereka. Oh Tuhan kenapa aku sebahagia ini jika bertemu dengan wanita ini.


Aku memotret aksinya dengan anak-anak, aku mencoba untuk mendekati mereka. Awalnya


wanita itu tidak mengetahui keberadaanku yang terus mengikutinya. Namun ia


tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.


 Oh Tuhan sungguh sempurna makhluk yang kau ciptakan ini. Langsung aku mengulurkan

__ADS_1


tanganku kehadapannya tanda perkenalan, namun sayangnya tak di sambut dengan


baik. Ia malah melihat kalung salib yang aku kenakan. Di balik kerudung


putihnya dia menunduk  dan berpaling


dariku menjauh.


 Aku bingung sungguh, sebenarnya apa yang salah dengan diriku? aku memeriksa pakaianku


seketika, sepertinya tak ada yang aneh. Namun aku menatap kalung yang


menggantung di leherku.


11 Februari 1997


 Ahmad temanku baru tiba, aku biarkan ia istirahat. Ia sekamar denganku. Aku masih merenung


tentang pertemuanku dengan wanita itu. Oh Tuhan kenapa aku seperti ini? tadi


wanita itu adalah guru mengaji mereka. Oh Tuhan mungkin itu yang membuat wanita


itu bersikap seperti itu. Tuhan kenapa harus wanita itu? wanita yang taat


beragama, bagaimana mungkin?aku masih menatap foto wanita tersebut di kamera.


 14 Februari 1997


 Sungguh aku malu jika mengingat kejadian itu, Ahmad menepuk bahuku saat wajahku memerah


menahan malu. Entah ide gila dari mana yang menggerakkan hatiku untuk


memberikan setangkai bunga pada wanita itu. Respon wanita itu dingin, menoleh

__ADS_1


kearahpun tidak. Oh Tuhan tersiksanya diriku dengan perasaan ini? sungguh aku


belum pernah mengalaminya sekuat ini. dan lebih bodohnya lagi petua pulau


melihatku melakukan hal tersebut. Sepulang dari acara syukuran lahiran di rumah


penduduk pulau yang beberapa hari yang lalu baru melahirkan anak.


Petua pulau sempat menepuk bahuku dan berkata sesuatu yang membuatku masih bertanya-tanya


sampai saat ini. Jika aku akan menghadapi begitu banyak rintangan jika masih


ingin mendekati wanita tersebut.


   15 Februari 1997


Tanpa sepengetahuan Ahmad, aku menulis surat untuk wanita tersebut. Yang aku titipkan


pada anak-anak pulau yang belajar mengaji dengannya. Sungguh tak bersabar aku


menunggu balasan surat darinya. Kutuliskan semua perasaanku agar dia tahu akan


perasaanku ini yang begitu kuat untuk dekat dengannya


 16 Februari 1997


Masih tak ada balasan surat, aku menunggu wanita itu di dermaga


seperti yang aku janjikan di surat tersebut, namun tak ada tanda-tanda kehadirannya.


Baunya saja tidak tercium sama sekali. Aku menatap rumah apung tersebut dari


dermaga. Entah sudah beberapa hari aku menunggunya namun tak pernah ia datang

__ADS_1


menemuiku.


Bersambung...


__ADS_2