
Aku duduk di dermaga sore ini memandang ke hamparan laut
luas sambil mengeringkan baju. Sesekali aku mengambil foto anak-anak pulau yang
melompat dari dermaga, berenang, dan berperahu sampan.
Aku masih menatap wajah wanita yang beberapa hari lalu aku foto, entah seperti ada
sesuatu yang menarikku untuk mendekati wanita itu. Sungguh aku tak bisa
melupakan wajahnya.
Matahari pun mulai terbenam, anak-anak bergegas
meninggalkan dermaga untuk kembali kerumah. Mereka berbisik setiap sore mereka
harus kerumah apung untuk mengaji. Aku mengangguk mempersilahkan, aku masih
duduk sendiri di dermaga tersebut. Menyaksikan merahnya senja yang mulai
tenggelam berganti malam.
10 Februari 1997
Hari ini temanku akan tiba, Ahmad dia sama sepertiku mencari data untuk menyelesaikan tugas akhir. Setidaknya ada teman berdiskusi disini. Aku menunggunya di dermaga, tahukah untuk kesekian kalinya wanita yang ada di kameraku itu berjalan-jalan di pinggir pantai bersama anak-anak, ia bersenda gurau dengan mereka. Oh Tuhan kenapa aku sebahagia ini jika bertemu dengan wanita ini.
Aku memotret aksinya dengan anak-anak, aku mencoba untuk mendekati mereka. Awalnya
wanita itu tidak mengetahui keberadaanku yang terus mengikutinya. Namun ia
tiba-tiba sudah berdiri di hadapanku.
Oh Tuhan sungguh sempurna makhluk yang kau ciptakan ini. Langsung aku mengulurkan
__ADS_1
tanganku kehadapannya tanda perkenalan, namun sayangnya tak di sambut dengan
baik. Ia malah melihat kalung salib yang aku kenakan. Di balik kerudung
putihnya dia menunduk dan berpaling
dariku menjauh.
Aku bingung sungguh, sebenarnya apa yang salah dengan diriku? aku memeriksa pakaianku
seketika, sepertinya tak ada yang aneh. Namun aku menatap kalung yang
menggantung di leherku.
11 Februari 1997
Ahmad temanku baru tiba, aku biarkan ia istirahat. Ia sekamar denganku. Aku masih merenung
tentang pertemuanku dengan wanita itu. Oh Tuhan kenapa aku seperti ini? tadi
wanita itu adalah guru mengaji mereka. Oh Tuhan mungkin itu yang membuat wanita
itu bersikap seperti itu. Tuhan kenapa harus wanita itu? wanita yang taat
beragama, bagaimana mungkin?aku masih menatap foto wanita tersebut di kamera.
14 Februari 1997
Sungguh aku malu jika mengingat kejadian itu, Ahmad menepuk bahuku saat wajahku memerah
menahan malu. Entah ide gila dari mana yang menggerakkan hatiku untuk
memberikan setangkai bunga pada wanita itu. Respon wanita itu dingin, menoleh
__ADS_1
kearahpun tidak. Oh Tuhan tersiksanya diriku dengan perasaan ini? sungguh aku
belum pernah mengalaminya sekuat ini. dan lebih bodohnya lagi petua pulau
melihatku melakukan hal tersebut. Sepulang dari acara syukuran lahiran di rumah
penduduk pulau yang beberapa hari yang lalu baru melahirkan anak.
Petua pulau sempat menepuk bahuku dan berkata sesuatu yang membuatku masih bertanya-tanya
sampai saat ini. Jika aku akan menghadapi begitu banyak rintangan jika masih
ingin mendekati wanita tersebut.
15 Februari 1997
Tanpa sepengetahuan Ahmad, aku menulis surat untuk wanita tersebut. Yang aku titipkan
pada anak-anak pulau yang belajar mengaji dengannya. Sungguh tak bersabar aku
menunggu balasan surat darinya. Kutuliskan semua perasaanku agar dia tahu akan
perasaanku ini yang begitu kuat untuk dekat dengannya
16 Februari 1997
Masih tak ada balasan surat, aku menunggu wanita itu di dermaga
seperti yang aku janjikan di surat tersebut, namun tak ada tanda-tanda kehadirannya.
Baunya saja tidak tercium sama sekali. Aku menatap rumah apung tersebut dari
dermaga. Entah sudah beberapa hari aku menunggunya namun tak pernah ia datang
__ADS_1
menemuiku.
Bersambung...