
Ibu Bulanmenjerit-jerit histeris, mengetahui anaknya beserta cucunya tak bernyawa lagi. Ia meraung-raung terus meneriakkan nama Emak Japo yang mengakibatkan ini semua.
Beberapa sinar obor yang menerangi langkah mereka mengitari pulau mulai meredup.
“Jangan-jangan Emak Japo disembunyikan jelmaan?”
Salah satu dari penduduk pulau yang mencari Emak Japo ada yang komentar.
“Iya adalah jelmaan orang-orang mengatakan bahwa pada malam hari ia melahap isi perut mangsa-mangsanya”
“Pulau ini sudah tak aman lagi, Bulandan anaknya tewas mengenaskan terkubur, sementara Emak Japo menghilang? siapa pelakunya?”
Satu persatu orang-orang memutuskan untuk pulang kerumah, mereka sepakat untuk melanjutkan
pencarian Emak Japo besok pagi.
__ADS_1
Aona terduduk lemas, ia mengambil buntalan kain tumpukan surat tersebut masih rapi terikat tali biru. Matanya
menerawang ke langit, perlahan ia membuka satu persatu surat tersebut.
Maaf baru membalas suratmu, begitu banyak perbedaan, keyakinan pun berbeda. Maaf kali ini Emak belum bisa menerima kehadiranmu pada saat itu. Aku mematuhi Emak karna hanya dia yang aku miliki di dunia ini. Aku tak bisa memilih, dan pasti yang terpilih adalah keyakinanku. Tapi dalam situasi ini mungkin hanya dirimu yang bisa
membantuku dan Emakku. Temui kami di ujung pulau, di sana ada pondok di atas pohon. Kumohon rahasiakan ini dari orang-orang termasuk petua pulau. Jangan sampai ada yang mengikuti kalian.
Mata Aona membulat seakan penasaran dan akan terus menggali lebih dalam lembar selanjutnya ia buka. Gerakan
tangan Aonadipercepat membuka lanjutan surat berikutnya.
15 April 1997
Aku mendapatkan surat tersebut dari Ahmad, entah senang atau sedih menerima balasan surat itu. Aku tahu pasti mereka ketakutan saat ini. Malam itu juga Aku dan Ahmad membawa seluruh barang-barangku, kami meninggalkan rumah petua pulau dengan diam-diam. Di malam yang gelap kami mengendap-endap menuju ujung pulau.
__ADS_1
Wanita berkerudung setengah baya itu bersumpah tidak bermaksud membunuh, ia hanya membela diri untuk menolong anak gadisnya, yang akan diperkosa oleh laki-laki yang ditolak lamarannya karna berbeda keyakinan.
Gadis itu menangis sambil menunduk, sungguh ia begitu ketakutan. Aku membawakan makanan untuk mereka. Kondisi mereka begitu buruk. Ibunya menangis sambil memohon jika terjadi apa-apa pada dirinya ia menyerahkan anaknya kepadaku, dan berharap aku dapat membawanya menyeberangi laut, ia sudah persiapkan perahu di tepi pantai tak jauh dari pondok itu.
Aku keluar dari pondok untuk mencari solusi yang terbaik. Ahmad membisikkan sesuatu kepadaku.
Ali bin Abi talib mengatakan: Semoga jalan keluar terbuka, semoga kita bisa mengobati jiwa kita dengan doa. Janganlah engkau berputus asa manakala kecemasan yang menggenggam jiwa menimpa. Saat paling dekat dengan jalan keluar adalah ketika telah berbentur pada putus asa.
Tak lama dari kejauhan muncul cahaya obor-obor yang berduyun-duyun semakin banyak. Mereka terus mengepung pondok tersebut dan akhirnya melemparkan beberapa obor yang mereka pegang untuk membakar pondok
tersebut. Tampak kobaran api semakin membesar dan bertambah besar terlihat dari seberang sana.
25 Juni 1997
Sudah lama aku tidak menulis, sejak peristiwa di malam hari itu. Kehidupanku berubah beberapa derajat. Tak bisa aku bayangkan rasa ketakutan yang berkecamuk di jiwa. Sungguh ketakutanku begitu kuat saat laut di malam
__ADS_1
hari begitu ganas dan seolah siap menelan kami hidup-hidup menyedot untuk masuk ke dalam dasar laut. Kami terus mendayung sekuat dan semampu kami.
Bersambung...