
Episode 5
Buah-buah yang ia suntikkan nampak mengkilat diterpa cahaya lentera tak butuh waktu lima menit suntikan larutan itu mulai bereaksi apalagi kalau bukan keahlian otak Kakek tua itu menciptakan larutan dari akar-akar orchid.
Batuk Kakek ringkih itu sesaat bergema menggelegar, berkali-kali bahkan tangannya gemetar merogoh gelas stainles di atas meja yang terjatuh seketika, dadanya makin gemetar dan sakit tak terkira.
Tepat di bubungan atap ruangan eksperimennya tampak sosok wajah menyerinai garang, rambut terurai panjang dengan organ dalam tubuh yang terburai di udara, tetesan darah menetes satu-persatu ke lantai.
__ADS_1
Gemetar tangan Kakek itu tak berdaya, tubuhnya kali ini tersungkur, beberapa larutan tertumpah menimpa tubuhnya yang sudah tergeletak, mulutnya sudah menyemburkan darah, sementara tangannya mencoba menggapai-gapai seolah meminta pertolongan, namun Kakek itu hanyalah seorang diri. Menggelepar-gelepar seperti ikan terperangkap jaring yang tak lagi menemukan air.
Dengan mudah makhluk itu menghisap darahnya, tidak butuh waktu banyak. Mata Kakek tersebut hanya melotot menatap bubungan atap dan makhluk itu melayang-layang memutari tubuh mangsanya.
Riwayat hidupnya terhenti, hingga sampai pagi tak ada yang mengetahui nasib Kakek itu sudah tak bernyawa lagi.
Tinggal anak laki-laki itu terpaku menatap tubuh kaku Kakeknya sudah terbujur, air matanya tumpah mengalir deras, mulutnya masih menjerit. Namun tak ada yang menolong untuk membantu atau hanya sekedar bertanya apa yang terjadi sebenarnya.
“Jangan bawa tubuh Kakek! jangan ambil, dia masih hidup!” Anak laki-laki itu terus menjerit, menarik-narik tubuh Kakek. Namun pihak polisi menenangkan Anak kecil yang masih meraung-raung.
“Jangan ambil Kakekku! bulir-bulir hangat itu meluncur deras menyatu dengan ingus yang terus keluar, tangannya berusaha melap cairan itu dengan bajunya yang kumal, rongsokan dalam karung tadi pagi masih berceceran. Pagi ini ia tak menemukan lagi Kakeknya, Anak laki-laki itu langsung melompat saat melihat tubuh Kakeknya terbujur kaku.
__ADS_1
“Anak laki-laki berkaki palsu itu bukan cucunya, Kakek itu memungutnya dari jalanan. Istri Kakek terkenal galak telah memperlakukan anak kecil ini dengan menganiaya kalau tidak memulung rongsokan, lihatlah sudah hampir lima tahun terbaring di kasur, Kakek dan anak itu yang bergantian menjaganya. Lebih baik titipkan saja nenek lumpuh itu ke panti jompo!”
Cerita para tetangga yang dimintai keterangan oleh polisi. Terlihat Anak laki-laki itu murung wajahnya berkabut duka yang mendalam duduk di samping ranjang Nenek tua yang sudah lima tahun terbaring kaku, matanya hanya berkaca-kaca. Tampak bulir-bulir itu meluncur begitu tajam menetes ke pipi. Dengan telaten Anak laki-laki itu melap dengan tangan mungilnya.
Gerakan mata nenek itu seolah menyesal atas perlakuannya selama ini kepada anak laki-laki yang pernah dia aniaya sewaktu dia belum mengalami lumpuh, siapa lagi kini tempat nenek itu bersandar jika tak ada seorangpun yang peduli padanya.
Tak ada yang ingin mengadopsi anak laki-laki berkaki palsu beserta nenek tua itu, tetanggapun tak ada yang berbicara sedikitpun mengenai itu, sudah tak ada lagi keluarga. Kakek dan Nenek itu memang selama tinggal di tempat itu, tak terdengar mereka memiliki keturunan ataupun sanak keluarga. Namun isu itu kian berhembus ada yang mengatakan Nenek itu menemukan Kakek itu terbaring di belakang rumahnya begitu kotor dan menjijikan.
Bersambung...
__ADS_1