
Satu bulan sudah lewat.
Sekar mengetuk pintu, wajahnya tampak lelah sekali.
Kali ini tak banyak bicara. Langsung masuk ke kamar.
"Aku sangat lelah dengan pekerjaanku." ucapnya berjalan menyeret langkahnya masuk ke kamar.
Aryo dapat memahami keadaan istrinya. Ia tak ingin mengusik istrinya untuk saat ini. Meski banyak pertanyaan yang terus menggerogoti batinnya.
"Istirahatlah, apa Kau butuh air hangat untuk mandi?"
Aryo menawarkan.
"Terimakasih. Aku sangat membutuhkan itu." jelas istrinya.
Aryo menyiapkan air hangat dan langsung keluar kamar. Membiarkan istrinya berendam sejenak.
Aryo menuruni anak tangga. Ia membuka hordeng menatap mobil istrinya yang di luar sana sangat kotor dan tanah lumpur di mana-mana.
"Sebenarnya pekerjaan apa yang ia lakukan?"
Aryo menutup kembali hordeng rumahnya.
.....
"Sebaiknya tidak malam ini membicarakannya. Kondisinya tak mendukung."
Aryo duduk dengan masih menggenggam alat pelacak.
Ia ragu jika memasang alat pelacak itu di mobil istrinya. Takut ketahuan. Namun tak ada cara lagi.
Aryo kali ini memberanikan diri keluar rumah, selagi istrinya masih berendam di kamar mandi.
Dengan langkah pasti ia mengawasi menatap dari lantai bawah. Jika istrinya tiba-tiba turun.
Pergerakan tangan Aryo mempercepat. Ia menyembunyikan alat pelacak dan kamera tersembunyi itu di jok mobil istrinya. Aryo menutup kembali pintu mobil dengan pelan dan cepat-cepat meletakkan kembali kunci mobil ke dalam tas istrinya.
"Apa Kau mencoba menyembunyikan sesuatu?"
__ADS_1
suara sekar kali ini menggema.
Aryo hampir terkejut. Dengan memperbaiki rona wajahnya.
"Ini Aku menyembunyikan makan malam spesial menyambut kepulanganmu malam ini."
Aryo sudah menata meja makan dengan di temani lilin yang telah ia persiapkan sebelumnya.
"Terimakasih atas kejutannya."
bisik Sekar duduk kemudian.
Aryo menggeserkan kursi untuk istrinya.
"Nikmatilah malam ini? apa sebaiknya kita merencanakan liburan bersama?"
"Aku tak memiliki banyak waktu. Hanya satu hari saja. Apa itu sudah cukup?"
"Sebenarnya apa pekerjaanmu? bolehkan Aku tahu sebagai suamimu?" tanya Aryo kali ini .
Sekar diam sesaat mencoba memikirkan jawabannya.
"Apa Aku tak berhak mengetahuinya?"
"Bukan begitu, sebaiknya di saat yang tepat akan Aku jelaskan padamu. Ku harap Kau bisa memahaminya."
Aryo diam tak mengajukan pertanyaannya lagi. Wajahnya nampak kecewa.
Sekar memegang tangan suaminya kali ini. Namun Aryo melepaskannya tiba-tiba. Sorot matanya tidak senang sama sekali.
"Aku hanya belum siap menceritakanmu untuk saat ini, beri Aku waktu."
"Simpan saja, jika itu membuatmu nyaman." Aryo menyudahi makan malamnya.
"Pekerjaanku, merawat mayat ibuku."
Deg.
Langkah kaki Aryo tertahan kali ini.
__ADS_1
"Kau jangan terkejut ataupun meminta bercerai setelah mengetahui semua ini, Aku akan menceritakan semuanya tapi berjanjilah tidak akan meninggalkanku."
Aryo terduduk kembali.
"Aku hanya melaksanakan wasiat ibuku terakhir. Untuk mengawetkan tubuhnya setelah di nyatakan meninggal."
"Kau melakukannya?"
"Aku menemani mayat Ibuku."
Aryo terdiam memaksakan untuk menerima penjelasan istrinya.
"Aku kesulitan mengumpulkan darah."
"Untuk apa darah?"
"Membangunkan arwah ibuku, jika Aku merindukannya."
Kepala Aryo semakin sakit kali ini.
Mendengar cerita istrinya.
"Apa Kau boleh berbagi darah untuk memandikan Ibu?" Sekar menatap tajam ke arah Aryo.
"Apa mksudmu."
Sekar langsung menancapkan garpu ke tangan Aryo.
Darahnya langsung menetes ke lantai.
"Aku bisa mengambil darahmu untuk mayat ibuku. Kau harus menjadi tumbal kali ini, karna Kau sudah mengetahuinya."
Aryo berlari menahan luka di tangannya.
"Kau harus mati!" pekik sekar.
Jangan lupa vote koin/poin, komentar positif tiap episodenya, like 5 boom rate, masukkan favorite.
follow ig: zuzanaoktober
__ADS_1
Salam JM