JELMAAN

JELMAAN
Episode 15


__ADS_3

Suara itu begitu lantang di telinga Aona tidak hanya kedua temannya yang mendengarnya, namun beberapa orang yang ada di situ menoleh ke arah laki-laki itu.


******


Seperti biasa adzan magrib berkumandang, Emak Japo bersama Aonamenepikan


perahunya kelanggar. Belum sempat Emak Japo menaiki tangga langgar.


Aonamenahan langkah kaki Emak Japo.


“Aku menemukan buntalan kain itu Emak, Maaf aku telah membaca surat-surat itu?”


Emak Japo menoleh kearah Aona. Namun tak sempat mengeluarkan kata-kata, dari atas sana


berbaris para penduduk pulau bediri menghadang dengan membawa bambu runcing.


“Sebaiknya Emak Japo tidak usah menginjakkan kaki kelanggar pulau ini, kami tak sudi Emak menginjakkan kaki di tempat ini untuk beribadah, kami tidak ingin pulau ini tercemar hanya karna aliran sesat Emak Japo, dan kami tak ingin ada korban lagi di pulau ini.” Jelas laki-laki bertubuh besar itu.


“Langgar itu milik umum, siapa saja boleh beribadah di sana. Emak tidak memiliki Ilmu sesat, atau apa yang kalian


tuduhkan itu tidak benar.” Nishain membela Emaknya ia  berdiri seolah  menentang barisan penduduk pulau yang berdiri walaupun usianya masih muda.


“Bakar saja perahunya, mungkin di dalamnya ada kitab ilmu guna-guna, aku melihat Emak Japo mengeluarkan kitab tebal dari dalam tasnya saat membantu anakku persalinan, mungkin ia membacakan mantra dan menghilangkan anakku, dimana kau sembunyikan anakku dukun” Seru Ibu Bulan mengerahkan penduduk lain untuk menggeledah perahu tersebut.


Emak Japo menarik tangan Aona, dan memeluknya, berusaha mencoba mempertahankan diri,

__ADS_1


dalam sekejap segerombolan penduduk mulai membongkar perahu milik Emak Japo,


semua barang dilempar keluar dari perahu, hingga mengapung di laut.


“Kau telah membunuh anakku dukun, kau sembunyikan ke mana anakku?” Ibu Bulandengan geram hampir menarik


tangan Emak Japo namun  ditahan petua pulau yang langsung melerai mereka.


“Ini baru perahumu kami obrak-abrik, jangan sampai kami membakarnya.” ancam lelaki bertubuh besar


suruhan Ibu Bulan. Emak Japo hanya menangis memeluk Aona.


Setelah beberapa menit kemudian setelah semuanya habis barang-barang Emak Japo di dalam perahu, gerombolan orang tersebut meninggalkan Emak Japo dan cucunya. Dari dasar laut ada atmosfer yang


*******


Ombak kali ini tak begitu kuat hanya melemparkan beberapa kapal nelayan beberapa meter


dari pangkalan. Perahu Emak Japo menepi ia mengajak Aona solat subuh berjamaah di atas perahu, walau dengan keadaan tempat seadanya.


Aktivitas di pulau itu kini mulai sunyi dan tak terlihat lagi orang-orang yang pergi ke langgar,


beberapa penduduk lebih banyak melaut, sementara kaum wanita menunggu


suami-suami mereka dari laut untuk mendapatkan hasil tangkapan ikan.

__ADS_1


Beberapa hari kemudian, terdengar berita Bulandan Bayinya sudah ditemukan namun


sayang penemuan kedua jasad Ibu dan bayinya membusuk, ditemukan terkubur tak


jauh dari belakang rumahnya. Terjadi keributan masa berbondong-bondong


mendatangi tempat tersebut, namun saat bersamaan itu juga.


Dilanggar, pintu palang yang dipaku dengan sangat rapat tiba-tiba terbuka, Emak Japo menghilang secara tiba-tiba, tak ada yang tahu tentang keberadaannya. Aona berlari-lari menuju rumah petua pulau.


“Nenekku hilang...” tegas Aona kepada petua pulau


“Aku menunggunya di perahu, ia turun untuk mengambil


wudhu subuh tadi, namun hingga sekarang tidak muncul-muncul”


Langsung


petua pulau dan penduduk setempat mencari namun tak ada yang menemukan sosok


wanita berkerudung itu, di setiap sudut pulau, di laut sudah dicari namun hasilnya


nihil, kemanakah menghilangnya Emak Japo?


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2