
Kini Sekar mengambil kendali mobil.
Aryo telah duduk di samping Sekar. Dengan mengeluarkan botol kaca kecil itu dari celananya.
"Larutan ini hanya ada dua, satunya telah Aku suntikan ke tubuhku. Dan ini sisa satu lagi. Simpan ini baik-baik. Jika kelak terjadi apa-apa pada diriku Kau harus menyimpannya suatu saat akan berguna untukmu kelak."
Aryo memberikan larutan tersebut.
"Kenapa Kau bicara seperti itu?" Sekar sesekali melihat Aryo suaminya dan kembali fokus pada jalan di depan.
"Semua akan baik-baik saja. Kau harus secepatnya melompat dari mobil ini sebelum masuk ke jurang."
"Apa Kau ingin mati sendiri hanya untuk menyelamatkan Aku?"
"Itu sudah keputusanku saat ini, Kau harus menurut apa kataku kali ini."
"Aku tak bisa meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini." ucap Sekar terus menambah kecepatan mobilnya.
"Aku akan baik-baik saja, percayalah!"
"Bagaimana Aku bisa percaya, tak mungkin meninggalkan suamiku seorang diri seperti ini."
Aryo mendorong tubuh Sekar dengan paksa keluar.
"Kau harus hidup, tapi inilah jalan satu-satunya." Aryo mendorong paksa tubuh istrinya kali ini setelah jurang beberapa meter lagi akan dekat.
Tubuh Sekar terjatuh di semak kali ini, terguling menggelinding di belukar yang rimbun. Beberapa kali bunyi dentuman bom rakitan di lemparkan ke arah mobil Aryo. Bunyi peluru bersahutan tak bisa menghentikan ban mobil tersebut.
Aryo menancap gas dengan liar dan tak terkendali lagi.
"Aku telah siap, jika ini jalanku. Tapi tak ku biarkan mati di tangan mereka."
__ADS_1
Mobil itu melayang bebas menabrak pembatas jalan dan meluncur dengan kecepatan tak terduga.
Dua mobil di belakang mengurangi kecepatan mereka. Berhenti dan menatap dari atas bubungan asap yang mulai mengepul ke udara. Tak lama terdengar ledakan mobil itu di bawah jurang.
"Apakah dia dipastikan mati?" tanya dua laki-laki bermasker hitam itu dari atas jurang.
"Dagingnya mungkin sudah terbakar atau malah hangus menjadi abu?"
Mereka berdua meninggalkan tempat itu.
.....
Di dalam tumpukan semak itu, nyawa Sekar sekarat. Mencoba menggapai-gapai menarik sesuatu untuk mencoba bangun. Namun luka-luka di sekujur tubuhnya begitu ngilu dan perih.
"Apakah Aku akan mati sia-sia di sini?" tak lama bayangan wajah Aryo berkabut di hadapannya.
"Kau berhak untuk hidup. Berusahalah untuk melanjutkan hidupmu." bisikan itu menggema di telinganya.
Malam itu dingin, hujan turun. Sekar terbangun dari tidur panjangnya.
Percikan air hujan menyadarkannya. Tubuhnya bertambah perih dan pedih.
"Di mana ini?"
Sekar mencoba memaksakan membuka matanya. Kali ini di sekelilingnya gelap dan basah.
Ia masih tertidur di semak-semak berduri. Seluruh tubuhnya memar dan terluka.
"Apakah ada yang bisa menolongku? apakah ada kesempatan untuk Aku hidup kembali?"
Ucap Sekar terbata-bata tak bisa bangun, tubuhnya kali ini begitu lemah dan tak berdaya.
__ADS_1
Tak ada siapapun di sana, hanya lolongan anjing dan kesunyian.
"Aku masih ingin hidup, paling tidak suamiku tak sia-sia memberikan kepercayaan padaku."
Sekar sama sekali tak bisa berbuat apa-apa hanya terbaring lemah, tubuhnya dingin menggigil.
Bayangan hitam itu mendatanginya, melayang mengelilingi tubuh Sekar. Seperti mengintai untuk mengamatinya dari atas pepohonan.
Sekar dapat merasakannya. Kehadiran sosok itu.
"Bantulah Aku, Aku sangat berhutang nyawa padamu. Ku mohon." bisik Sekar.
Bayangan hitam itu mendekati tubuh Sekar. Begitu harum baunya mencium di sekeliling tubuh Sekar.
Malam itu kegelapan yang sangat pekat dan menakutkan. Hingga bayangan itu menutupi seluruh tubuh Sekar dari kaki hingga ke kepalanya.
Bersambung...
Jangan lupa vote koin/poin, like 5 boom rate, komentar positif dan jadikan favorite
Salam JM
__ADS_1