JELMAAN

JELMAAN
Episode 4


__ADS_3

Episode 4


Di bawah terik matahari, dari kemarin tanaman ringkih itu terjemur, tak lama ia sayat-sayat dengan pisau tipisnya, dengan cairan dalam gelas kaca. Potongan dadu  itu ia masukkan begitu saja, kaca  pembesar siap menerawang. Nampak struktur sel, seperti sayatan gabus di bawah mikroskop, rongga-rongga yang dibatasi dinding  tebal  layaknya sarang lebah tersusun rapi.


“Prang...”


Ada seseorang melemparkan batu, hingga kaca jendela rumah gudangnya pecah.


“Siapa lagi yang buat keonaran?” gerutuknya membanting pintu dengan keras.


Dinding rumah yang terbuat dari papan, bergetar sesaat.


“Dasar anak-anak liar, pantasnya diberi pelajaran.”


Tak lupa laki-laki tua itu mengambil beberapa bungkus permen dan coklat dari laci meja kerjanya, sesaat ia merapikan wajahnya. Dengan memakai masker wajah dan topi, serta tak lupa kaca matanya.


Langkahnya kali ini sudah pasti, ia tahu betul. Anak-anak liar itu memang sering mengincar kebun belakang halaman rumahnya.

__ADS_1


 Mana lagi kalau bukan gudang tempat tanaman buah, hasil rekayasa yang sudah puluhan tahun ia bangun.


Disitulah incaran anak-anak liar itu, mengambil tanaman buahnya dengan sengaja.


Jelas bener sekali, segerombolan anak-anak  itu sudah melompati pagar belakang dengan tersenyum menyeringai seolah mengejek Kakek tua itu yang kalah cepat dengan kegesitan langkah kaki mereka, kali ini segerombolan anak-anak liar itu lebih cepat berlari dari dugaan Kakek itu. Sementara buah jambu itu sudah berjatuhan ke tanah, daun-daun berserakan, pot-pot bunga berjatuhan pecah terburai sungguh sudah tak ada yang karuan.


Kakek itu sudah jelas mengutuk perbuatan anak-anak liar itu. Tak akan pernah termaafkan. Gerutuknya.


“Lihatlah ulah anak-anak liar itu, sebentar lagi mereka akan bertemu dengan inangnya.”


Saat malam tiba, lenteranya mulai menyala.


Anak laki-laki itu menggeserkan beberapa tanaman yang akan dipindahkan dari pot ke tanah.


Seperti malam-malam sebelumnya, tiap malam Kakek  memperbaiki tanaman yang telah di rusak anak-anak liar itu.


            Namun tak dapat di pungkiri kali ini semakin hari anak laki-laki itu semakin layu, tubuh ringkih, tulang tampak menonjol dari kulitnya yang kotor oleh cipratan tanah basah.

__ADS_1


Kali ini tangannya yang mungil menjulur ke arah Kakek itu. Seperti apa yang dijanjikan Kakek sebelumnya, anak itu sudah kecanduan permen dan coklat buatan Kakek.


Saat ekor matanya tak lepas sudah mendelik menangkap bungkusan tangan dari saku celana Kakek itu, segenggam bungkusan dari tangannya itu membuat anak kecil menyeringai tampak deretan gigi depan yang menghitam nampak legam dan tak terawat, tangan ringkihnya semakin semangat menadah bungkusan tersebut.


Matanya makin nanar setelah apa yang didapatnya telah berada dalam genggamannya. Seperti biasa anak laki-laki itu masuk ke rumah, Kakek mengisyaratkan untuk menyuruhnya menemani nenek yang terbaring di kamar, karna biasanya ketika sore hari jadwal anak laki-laki itu mendampingi neneknya.


Jika Neneknya  memerlukan apa-apa, tinggal mengisyaratkan mata ke arah anak laki-laki itu, sementara jadwal paginya mengambil rongsokan dari para tetangganya ataupun ke perumahan sebelah.


Kakek tua  itu mulai menyuntikkan satu persatu larutan yang sudah ia masukan ke dalam jarum suntiknya, meski kilatan-kilatan pertir terus menyambar langit, dari satu awan gelap ke gumpalan awan gelap lainnya tak akan pernah mengurungkan niatnya.


 


Bersambung...


 


 

__ADS_1


__ADS_2