
Meski tertatih langkahnya memasuki hutan belantara, ia sudah menaiki perahu seperti apa yang sudah di siapkan Emak Dato jika terjadi keadaan darurat.
Emak Dato berpesan kepada cucunya terus mengikuti arah arus sungai hingga ia bertemu sesorang diujung desa seberang dan minta bantuan kepadanya. Cucu laki-lakinya kini hanya seorang diri di dalam perahu, tak ada yang di temuinya sampai ia tertidur di dalam perahu dalam waktu yang cukup lama.
Hingga ada orang yang karna kasian melihat anak kecil, membawanya ke kota, mata sedih anak laki-laki itu hanya pasrah mengikuti orang asing yang mengajaknya itu. Entah kehidupan akan membawanya kemana dengan luka bakar yang terus membusuk.
Lelaki muda berkaki palsu itu dengan telatennya menyisir rambut yang terurai panjang, dengan memakai pakaian tidurnya. Aroma kebencian mulai terkuak di ruangan itu. Begitu hinakah seorang anak pungut? atau kaplingan neraka kutukan itu terus membanjiri telinganya dengan sumpahan atau kutukan yang bertambah murka.
Wanita tua dengan mulut iblisnya itu telah lama tak memiliki daya upaya apapun dengan setia mengajaknya bercerita setiap sore menjelang malam. Rutukan dari mulutnya terkadang membuat kesal tak jarang memancing untuk membunuhnya beberapa kali dengan racun serangga, tapi tak apalah simpanan asupan untuk tumbal.
__ADS_1
Suasana kamar itu terasa hangat dengan ditemani sinar bulan di luar jendela temaram, suasananya begitu kelabu bergelayut mendung.
Di luar sana sudah turun rinai hujan, menyapu kilau senja yang terus menghujam bumi dengan paksa.
Aroma tanah yang baru tersiram hujan menguap ke udara, tumpukan anggrek, melati, kenanga dan mawar berdesak-desakan di vas bunga dengan aroma terapi yang begitu menenangkan syaraf otak seolah hawa kamar makin semerbak. Untuk menyambut pembunuh bayaran yang menyelinap masuk dengan arogan.
Meski dulu tangan-tangan kasar itu pernah memukulinya, menampar ataupun kaki lumpuh itu pernah melayang menendang tubuhnya bertubi-tubi tanpa ampun, jika ia bangun kesiangan atau tak menuruti perintah wanita tua itu. Sekali lagi kutukan anak pungut telah tertanam kuat diliang telinganya.
Namun tak demikian laki-laki muda itu masih setia memandikan tubuh kaku dan pucat, sebelum berangkat bekerja mendorong dengan kursi roda dan menyuapi dihalaman samping.
Beberapa puluhan tahun yang silam, suaminya terlihat bosan menatap teman eksperimennya kali ini, memang namanya tak termasuk dalam deretan nama-nama ahli taksonom atau pakar botani yang pernah menempuh sekolah khusus.
__ADS_1
Pengetahuannya hanya bolong-bolong tidak runut sama sekali. Kali ini ia begitu suntuk mengamati tanaman unik itu, akarnya yang tumbuh menggurita mencengkeram tanaman inang. Hanya punya akar saja, begitu sangat menyedihkan.
Laki-laki tua itu memiliki ruangan khusus untuk bereksperimen dan berkebun tanaman uniknya. Guratan keningnya menjelaskan ia sudah bertahun-tahun menggeluti orchid, tanpa daun dan akar dengan akar udara menjuntai, mencengkram batang inangnya dengan aroma busuknya mengundang para serangga polinator.
Asian Ghost Orchid, penyuka kegelapan dan lembab layaknya, leafless orchid. Laki-laki tua itu menemukan tanaman unik itu seminggu yang lalu dihutan kota kunjungan yang sebenarnya tak disengaja dan tak pernah ia prediksikan sebelumnya.
Saat itulah ia menemukan anak laki-laki malang, salah satu kakinya pincang. Dan laki-laki tua itu berjanji akan membuatkan kaki palsunya untuk mempermudah ruang geraknya.
“Cantik, namun parasit.”
Umpat laki-laki tua itu, mencengkram dengan liar tanaman tak berdaya itu, dengan sengaja dilayukannya terlebih dahulu.
__ADS_1
Bersambung...