
28 Maret 1997
Genderang perangpun ditabuh saat itu, seketika ditemukan jasad laki-laki yang melamar wanita tersebut terkapar tak bernyawa di rumah apung, oleh penduduk suku Sanir, dukun beranak dan anak gadisnya itu melarikan
diri sampai tak ada yang tahu keberadaannya.
Seluruh penduduk pulau mencari keberadaan mereka, untuk mempertanggung jawabkan atas perbuatan mereka, namun sudah tujuh hari mereka tak berhasil ditemukan.
Tak lama Aona tertidur di lantai papan perahu. Terlelah membaca, hingga dinginnya angin malam membuatnya mengantuk.
*******
Amarah itu hanya berlapis tangis dan tawa
Mampu menenggelamkan dendam yang meluap tak tertampung
Bagai petir yang memuntahkan percikan api
Isu duka dalam dada
Entah kebodohan hati yang menjadi budak dendam
__ADS_1
Ombak laut malam ini cukup tenang.
Aona terbangun tangannya masih memegang lembaran-lembaran surat, ia masuk
kedalam pondok perahu. Namun Ia tak menemukan sosok Emak Japo. Keadaan di dalam
pondok tiba-tiba berantakan seperti di obrak-abrik.
Aona terkejut melihat isi perahunya yang berantakan, tak ada barang yang hilang hanya seperti ada seseorang yang mencari sesuatu di dalam perahu, tepatnya di bawah kain tempat tidur Emak Japo.
Cepat-cepat Aona mencari buntalan kain tersebut, ternyata buntalan tersebut di luar,
ia jadikan bantalan tempat ia berbaring saat terlelap tadi membaca surat sambil
apakah Emak Japo tadi sudah pulang sebentar? atau?
Dengan cepat Aona merapikan kembali surat-surat dan foto tersebut kedalam buntalan kain, ia meletakkan ke tempat semula.
******
Sudah larut malam tapi Emak Japo belum pulang, dari membantu orang melahirkan. Aona begitu khawatir, Aona duduk menunggu Emak Japo. Tak ada siapapun yang di milikinya di dunia ini kecuali Emak
Japo. Entah berapa lama Aona telah menunggu Emak Japo, ia semakin khawatir. Tidak biasanya larut malam seperti ini Emak Japo belum pulang? persalinan dalam membantu melahirkan tak selama ini, apalagi
Emak Japo sudah ahlinya, tak mungkin ia selama ini. Pikirannya begitu tak tenang. Tak lama tatapan
__ADS_1
dua orang laki-laki dari pulau yang dari tadi memperhatikan Aona menutupi tubuhnya dengan sarung dan tak lama mengendap-endap meninggalkan perahu Aona.
Malam ini begitu sunyi, angin laut begitu dingin. Aona mencoba keluar dari pondok untuk mendapatkan udara malam. Langkahnya ke sana ke mari, ada niat untuk menyusul Emak Japo, namun ia tak tahu di mana tempatnya. Bulan purnama malam ini memancarkan pantulan bayangan Aona. Kemana ia harus menyusul? Aona mulai menepikan perahu ke bibir pantai pulau.
Tak lama ada sinar lampu minyak dari laki-laki setengah tua dan empat orang lainnya berjalan tergopoh-gopoh menghampirinya Aona di pangkalan bibir pantai.
“Tepikanlah perahumu, malam ini Emak Japo belum bisa pulang, persalinan Bulan besok malam.” ucapnya
memberitahukan kepada Aona. Sambil membawa sarung yang di lilitnya di pinggang.
“Apa dia cucu Emak Japo?” tanya dua orang laki-laki lainnya.
Bajo dan Bahar menggangguk pelan, sambil menoleh kearah Aona.
“Apa dia sudah menerima ilmu sihir dari Emaknya?” ketus laki-laki itu memintal cerutunya.
Sorot matanya kali ini tertuju pada Aona yang baru menepikan perahunya.
“Ilmu sihir apa saja yang kau peroleh dari dukun beranak itu ha?”
Aona tak menjawab dia hanya menatap laki-laki itu dengan tatapan tajam.
“Tanyakan pada Emakmu, apa kau ini memang cucunya, atau hasil hubungan gelap dengan laki-laki asing yang menginap beberapa tahun yang lalu?”
Bersambung...
__ADS_1