
Sekar menemukan ruangan laboratoriumnya dengan segala macam cara ia menemukan bangunan itu.
Pintu terbuka tiba-tiba, laki-laki seumuran Aryo menangkap basah kedatangan Sekar yang tanpa di undang.
"Kau istrinya Aryo?"
Andre menatap curiga pada Sekar. Melihat barang-barang di sekelilingnya yang telah di kemas paksa.
"Aku hanya mengambil barang-barang peninggalan suamiku." jelas Sekar.
"Apa perlu di bantu untuk mengantarkan barang-barangnya sebanyak itu ke rumahmu?"
"Tidak perlu merepotkan. Aku membawa mobil sendiri." jelas Sekar terus membereskan seluruh buku-buku dan peralatan ke dalam kardus.
Sekar menggendong tas ransel. Kali ini ia tak ingin mengetahui jika ada orang lain melihat larutan itu di dalam ranselnya kali ini.
"Apa Aryo sudah di temukan?" tanya Andre kembali.
Sekar menggeleng. Dan tak lama terdiam.
"Apakah Aryo selama ini memiliki musuh? atau ada yang mengincar nyawanya dari dulu?"
Andre melemparkan tatapannya kali ini dengan santai.
"Aryo tak menceritakan apapun jika ia memiliki musuh, tapi ia orang baik. Bahkan terlalu baik jika untuk di manfaatkan."
Aryo tersenyum sinis saat itu juga. Memandang langit-langit ruangan saat itu juga.
Sekar masih menatap senyum Andre mengembang lima detik yang lalu. Sekar ingin cepat-cepat meninggalkan tempat itu ia tak ingin terlalu lama berada di dalam ruangan yang tiba-tiba memiliki atmosfer tak mengenakan saat itu juga.
"Apa Aryo meninggalkan sesuatu pesan sebelum ia tewas mengenaskan?" tanya Andre
Sekar bertambah curiga dengan sikap dan ucapan Andre sepertinya telah lama memendam hal yang tidak mengenakkan tentang suaminya.
Sekar menggeleng kuat.
"Sepertinya sudah cukup, Aku pamit dulu. Terimakasih." bisik Sekar berlalu pergi.
"Tunggu apa Kau melupakan sesuatu?" tanya Andre menghentikan langkah Sekar sesaat itu juga.
Langkah Andre mendekati Sekar. Seperti hendak mengambil sesuatu dari tas ranselnya.
Sekar justru tak memiliki kekuatan apapun jika saat ini ia mencoba memberikan perlawanan.
"Kau melupakan foto suamimu." bisik Andre memberikan bingkai foto itu ke tangan Sekar.
Sekar gugup, sama sekali tak mengira jika ia sampai ketinggalan foto suaminya. Padahal telah teliti jika meja kerja suaminya sudah benar-benar kosong saat itu.
"Terima kasih." ucap Sekar melanjutkan langkah kakinya untuk cepat-cepat keluar dari ruangan tersebut.
Sekar langsung masuk ke mobil dengan meletakkan seluruh barang-barang bawaannya dan menyalakan mesin mobil.
"Apa Kau mencoba menyembunyikan sesuatu dari penglihatanku?" bisik Andre menatap tajam ke arah Sekar dari belakang.
Andre telah merencanakan sesuatu dan menelpon seseorang di seberang sana untuk mengikuti mobil Sekar dari belakang.
.....
__ADS_1
Sekar menatap mobil belakang yang mencurigakan terus membuntutinya dari sepuluh menit yang lalu. Sekar mencoba mengalihkan perhatian dengan berhenti beberapa kali dan terakhir stop di sebuah super market.
Satu orang wanita keluar mengikuti Sekar ke dalam super market juga. Ia mengikuti langkah Sekar memantau dari sudut dengan mengintai pergerakan gerak-gerik Sekar sementara satu orang lagi mencoba mengobrak-ngabrik barang-barang yang ada di mobil Sekar dengan seluruh isi berantakan tak terkendali.
Sekar sudah menuju kasir untuk membayar seluruh barang belanjaannya, sesekali Sekar menatap mobilnya yang merasakan ada keganjalan.
Wanita itu keluar mendahului Sekar ia menelpon orang yang ada di dalam mobil Sekar untuk cepat keluar. Mereka dengan hitungan detik keluar dan masuk kembali ke dalam mobil. Dan meninggalkan tempat itu sebelum Sekar mengetahuinya.
Perlahan Sekar menyelesaikan belanjaannya dan membayar di kasir, ia keluar dan masuk ke mobil dengan cepat.
Betapa terkejutnya Sekar saat seluruh barang-barang suaminya yang ada di dalam kardus dan tas sudah berantakan. Sekar menatap keluar, mobil yang membuntutinya sudah tak ada lagi. Dengan cepat Sekar menyalakan mesin mobil dan pergi meninggalkan tempat itu.
....
Suara di seberang marah, melemparkan gelas.
"Kami tak menemukan apapun di mobilnya." jelas kedua orang penguntit tersebut.
"Bodoh, tidak becus..." geramnya memukul meja kali itu.
"Dimana ia menyembunyikan larutan itu? bisa-bisanya ia mulai bermain kucing-kucingan."
Laki-laki itu menelpon kembali dengan dua orang suruhannya.
"Culik saja wanita itu, bawa ke hadapanku saat ini juga."
Tegasnya menutup telepon dengan marah.
Dengan secepat kilat Sekar menggantikan mobilnya dengan mobil lain yang ia persiapkan sebelumnya. Dengan mengganti kostum dan membawa tas ransel di bangku sebelah mobilnya kali ini Sekar mengganti identitas dirinya dan membawa mobil itu menuju keluar kota.
Sekar membawa makanan dan minuman stok di perjalanan, mencari tempat tenang dan nyaman untuk menyendiri hingga bisa membesarkan anaknya.
Tak lama kemudian muncul bayangan hitam pekat, dengan bau wangi-wangian aroma bunga.
"Kau akan pergi ke mana?" ucap Aryo
Sekar menggeleng kali ini.
"Aku bingung? ke mana lagi harus menghindar dari orang-orang itu, sepertinya mereka terlalu mengincar larutan yang Kau ciptakan."
"Mereka serakah."
"Apa yang Kau sembunyikan dariku?"
Aryo menunduk sesaat.
"Apa Kau mau mengusahakannya untukku?"
Sekar mengangguk.
"Tentu saja."
"Tapi terlalu beresiko, akan mengkhawatirkan jika mengorbankan keselamatanmu."
"Ceritakan saja apa itu?"
"Jangan pernah menyuruhku untuk mendatangimu, mereka akan melakukan segala cara jika Kau masih berhubungan denganku, nyawamu terancam. Mereka tahu jika Kau meneguk larutan itu. Aku akan menemuimu. Bukan larutan ini yang mereka cari. Namun keberadaanku."
__ADS_1
"Bagaimana mungkin Aku tak mencarimu, hanya ini satu-satunya yang Aku bisa lakukan."
"Kau akan terbiasa tanpaku. Besarkanlah anak kita. Pergilah sejauh mungkin."
Blamm. Aryo membuyar dan menghilang begitu saja.
Sekali lagi Sekar kembali meneguk larutan itu. Air matanya menetes tanpa aba-aba.
"Kenapa Kau mempersulit hidupmu sendiri." ucap Aryo.
"Bagaimana Aku bisa menghidupinya sendiri, paling tidak Aku bisa melihatmu di sampingku
meringankan kekacauanku."
"Jangan pernah berkata seperti itu, anggap itu kewajibanmu seorang Ibu tunggal memang
demikian."
"Aku tak ingin berlama-lama seperti ini."
"Menahanlah untuk kebahagiaan."
"Dengarlah, Kau jangan berusaha menghindari takdirmu bukan? kalau tidak Kau akan menyesal!"
Sekar mencoba mencocokkan mimpinya semalam, ia bermimpi jam 3 dini hari. Ia sangat
yakini apa yang di mimpikannya akan menjadi pertanda untuk kehidupannya esok pagi.
"Aku berjanji jika Kau melakukan menentang maut, terpaksa Aku muncul."
Aryo menghilang kembali.
Sekar tak ingin mengingat mimpi itu lagi.
“Seharusnya Aku tak mengikuti arahanmu dari dulu.” bisik Sekar dalam hati.
Mobilnya kali ini perlahan berhenti melewati rumah Aryo dulu. Kini Sekar mesti harus meninggalkan kota itu untuk sementara waktu. Karna kota itu sangat tak bersahabat bagi anak dan dirinya. Semua tergantung ke mana arah langkahnya menuntunnya untuk memulai kehidupan baru. Dalam sekejap peristiwa-peristiwa yang tak ingin di harapkan dan di harapkan meski terkadang Sekar harus menahan seluruh perasaan yang ada di dalam dadanya saat ini.
Perjalanan itu berhenti di sebuah rumah tua, tempat di mana masa kecilnya dulu. Rumah nenek yang sudah lama tak di huni kembali. Berdebu, kotor dan berantakan.
Jangan lupa vote poin/koin, komentar tiap episodenya, like 5 boom rate, jadikan favorite dan follow ig zuzanaoktober
__ADS_1
Salam JM