
Episode 6
Episode 6
Tak ada yang ingin mengadopsi anak laki-laki berkaki palsu beserta nenek tua itu, tetanggapun tak ada yang berbicara sedikitpun mengenai itu, sudah tak ada lagi keluarga. Kakek dan Nenek itu memang selama tinggal di tempat itu, tak terdengar mereka memiliki keturunan ataupun sanak keluarga. Namun isu itu kian berhembus ada yang mengatakan Nenek itu menemukan Kakek itu terbaring di belakang rumahnya begitu kotor dan menjijikan.
Nenek itu merawatnya, hingga Kakek itu ditanya tentang dirinya, seperti hilang ingatan. Masa lalunya seolah tertutup awan kabut gelap yang sering menghantuinya. Hingga tak berani lagi ia mengingat kejadian masa lalu itu.
Karna takut prasangka buruk dari para tetangga, Nenek tua yang sudah lama menjanda menikahi Kakek tua itu. Asal muasal yang tak ingin ia ingat sama sekali. Sudah ia kubur rapat-rapat cerita kelam itu.
Anak itu tak menyetujui untuk tinggal di panti sosial, ia menggeleng keras tak menyetujui tawaran polisi itu, karna sangat iba dengan kondisi mereka. Meski pil pahit kehidupan mesti ia telan bulat-bulat untuk kali ini.
Kini tatapan Nenek itu beralih pada laki-laki muda yang masih berjabat tangan dengan sang profesor.
***
__ADS_1
Jika sudah malam, Nenek tak ingin keluar dari kamar. Entah laki-laki muda itu tak bisa tidur saat malam itu, hampir pertengahan malam. Langkahnya menuju kelantai atas, meski tangannya gemetar tak terkendali. Langkahnya kini memberanikan diri untuk membuka paksa kamar Nenek tua itu. Sudah tak ada jalan lain, sudah dua hari ini tubuhnya lemas. Kepalanya terasa sakit berat. Apa yang dilihatnya kini diluar dugaannya.
Nenek tua itu seperti kalong di malam hari berubah wujud jelmaan, terbang mencari mangsa, rambut panjang tergerai dengan seluruh organ dalam tubuhnya menjuntai kebawah.
Laki-laki muda itu hampir muntah-muntah menyaksikan peristiwa itu, kepalanya bertambah pusing berat. Hingga tubuhnya tersungkur kelantai. Hingga Nenek tua itu bergelantungan di udara mengetahui sosoknya diketahui.
Laki-laki muda itu sudah terbangun di lihatnya tangan dan mulutnya sudah berlumuran darah, apakah bermimpi atau bukan, organ dalam tubuh Nenek itu sudah terburai keluar, lalat mulai mengeruminu aroma amis yang semerbak dari tubuh yang kaku itu, begitu sangat menjijikan, ususnya terkeluar sia-sia seperti muntahan kucing yang berserakan, matanya melotot hampir keluar dari lobang kedua rongga matanya. Sudah nampak belatung busuk melanting-melanting di lantai ubin.
Begitu dingin hawa kamar tersebut, laki-laki muda itu tersenyum sinis dengan mencabik-cabik tubuh Nenek yang terkulai lemah tak berdaya dengan garpu tajam yang ada di kantung celananya, ia baru sadar jika semalam ia telah memakan hati segar Neneknya.
Ke esokan paginya ia bekerja seperti biasa.
"Aryo sore nanti aku akan mampir kerumahmu."
Rudi tetangganya itu menyapanya, sebelum ia masuk kedalam mobil.
"Ada hal yang ingin aku tanyakan pada Nenekmu itu."
__ADS_1
"Nenek sedang tak ada dirumah, ia menginap di rumah teman lamanya."
Sambung Aryo merapikan dasinya kali ini. Ia menghidupkan mobil tuanya peninggalan Kakeknya.
Mobil keluaran tahun 90 an namun mesinnya lumayan bagus.
"Kapan Nenekmu pulang?"
"Nanti aku kabarkan jika dia sudah pulang." Aryo tak memperdulikannya lagi tetangganya itu.
Wajah Rudi kali ini agak kecewa, namun ia dapat merasakan ke anehan di rumah Neneknya itu setelah kematian Kakeknya Aryo beberapa waktu lalu.
Bersambung...
__ADS_1