
Bayangan hitam itu terus menutupi tubuh Sekar.
Sekar kali ini tubuhnya di selimuti bayangan hitam. Hangat terlindungi dan nyaman.
Kau harus hidup berjanjilah!
Paginya, terik matahari menyilaukan pandangan Sekar. Matanya pelan-pelan ia buka menatap sekeliling.
"Kenapa Aku masih di sini?" bisik Sekar.
Kau harus meninggalkan tempat ini! secepatnya...
Sekar menatap di sekelilingnya tak ada siapapun. Kecuali hanya dirinya sendiri.
bisikan itu terngiang beberapa kali di telinga Sekar. Entah kekuatan itu datang dari mana. Tubuh Sekar kali ini bisa menggerakkan tubuhnya perlahan duduk perlahan mengumpulkan tenaga dan bangkit.
Sekar memegang pohon besar untuk membantunya berdiri.
Berjalanlah menuju ke arah sumber suara mobil!
Bisikan itu seolah menuntun Sekar, meski tertatih dan berjalan pelan-pelan. Deru suara mobil mulai terdengar jelas, langkah Sekar melewati rumput, semak liar.
Setelah berjalan melewati sepuluh menit lamanya. Sekar menemukan jalan besar. Beberapa mobil yang membawa sayur lalu-lalang.
Tangan Sekar mencoba menggapai-gapai meminta pertolongan. Namun suaranya serak parau untuk menjerit.
Salah satu mobil berhenti sesaat, pengemudinya keluar menghampiri Sekar yang tersungkur di pinggir jalan.
"Ku mohon tolong selamatkan Aku, kali ini." ucap Sekar.
__ADS_1
Pengemudi pembawa mobil sayur-sayur itu mengangkat tubuh Sekar dan menaikkannya ke mobil.
"Bawa Aku kerumah sakit!"
ucap Sekar sebelum ia pingsan kembali.
.........
Sekar terbangun, tangannya sudah di infus kali ini. Ruangan putih identik dengan bau obat-obatan itu membuat perutnya makin mual-mual.
"Ternyata Aku masih hidup?" bisik Sekar menatap di sekeliling. Ia telah memakai pakaian rumah sakit kali ini.
"Di mana botol kaca berisi larutan itu?" Sekar panik mencoba melepaskan selang infus.
Perawat masuk mencoba menghentikan Sekar yang akan pergi meninggalkan ruangan tersebut.
"Anda sebaiknya masih butuh istirahat, jangan mencoba kabur." cegah perawat
"Apa Kau yang menggantikan bajuku? di mana botol kaca larutanku?"
"Aku masih menyimpannya di lemari samping ranjangmu."
Sekar langsung membuka lemari di samping tempat tidurnya. Ternyata benar ucapan perawat tersebut botol kaca larutan itu masih tetap ada terjaga.
"Kau harus menjaga kondisi fisikmu, jika tidak janin di dalam perutmu akan kembali lemah." jelas perawat tersebut.
"Apa Aku hamil?" Sekar terkejut.
__ADS_1
"Benar, makanlah!" perawat tersebut masuk dengan membawakan sarapan pagi.
"Apa Kau bisa membantuku? telponkan nomor ini, beritahukan jika Aku dirawat di rumah sakit ini, berikan alamat yang lengkap."
Perawat tersebut mengangguk, dan kembali meninggalkan Sekar seorang diri di kamar.
......
"Bagaimana Aku bisa melewati semua ini? seorang diri? Aryo apakah dia baik-baik saja? atau? Aku harus mencari informasi tentang keberadaannya." Sekar mencoba menyuapi sarapannya kali ini meski mual.
Tak lama perawat tadi masuk kembali.
"Nomor yang minta anda hubungi tadi akan segera kemari. Apakah ada yang di butuhkan kembali?" jelas perawat tersebut.
Sekar menggeleng.
"Tidak, terima kasih. Tapi berapa jarak jurang dengan rumah sakit disini?"
"Untuk apa anda menanyakan hal tersebut?"
"Suamiku kecelakaan, apakah ada yang masuk korban kecelakaan kemarin atau hari ini?"
"Tidak ada." perawat tersebut menggeleng pelan.
Bagaimana sesungguhnya keadaan suamiku?
Sekar makin gelisah, memandang jendela luar. Sarapannya kali ini tak habis sama sekali.
Aku harus mencari keberadaan Aryo, semoga ia masih dapat tertolong. Bantulah selamatkan suamiku siapapun itu.
__ADS_1