
Mbah Suti mengamati Sekar yang sedang tertidur pulas di kamar.
Gerakan tangannya memperlambat kali ini takut menimbulkan ke berisikan bagi Sekar. Mbah Suti telah menyiapkan makanan siang, buah dan cemilan untuk sekar jika telah bangun. Semua telah rapi dan bersih.
Sekar membuka matanya setelah di rasanya Mbah Suti telah meninggalkan rumahnya. Dengan mengunci kembali ruangan belakang.
Sekar menatap ke luar jendela kamar, meski belum bangun dan keluar kamar. Ia menikmati kesunyiannya saat ini. Kulitnya kali ini pucat dan kaku, karna tak pernah mendapatkan sinar matahari. Sekar dengan segera meminum larutan tersebut. Ia ingin menemui suaminya segera mungkin.
"Apakah Kau baik-baik saja? kenapa Kau nampak lelah?"
"Aku harus ke mana lagi bersembunyi, setiap orang-orang yang berada di sekitar ku, lama-lama firasat batinku berkata mereka akan melukaiku atau bahkan membunuhku dengan diam-diam."
"Andai Aku bisa lebih lama di dekat mu, mungkin nasibmu tak akan selalu bersembunyi seperti ini."
"Apa lagi yang harus ku lakukan? Aku kehilangan akal jika merasa kesepian, bisakah Aku mendapatkan tempat yang memberikan ketenangan paling tidak sampai Aku melahirkan."
"Ku pikir tempat ini paling nyaman untuk dirimu saat ini, Mbah Suti tidak membahayakan sama sekali dia hanya melindungimu dengan ilmu-ilmu leluhurnya dulu, kepercayaan adat yang masih dia anggap ampuh."
Sekar mencoba menyentuh suaminya, namun percuma saja. Ia hanya membuat leburan asap hitam yang menggelap di sekitar suaminya.
Tak lama sosok Aryo melebur jadi asap hitam dan pelan-pelan melebur lenyap. Sementara larutan yang ada di botol itu hanya sedikit. Tak mungkin Aryo tiap jam ia panggil terus menerus sementara larutan itu sudah sedikit. Jika bukan tidak penting dan mendesak. Sekar untuk ke depannya mungkin tak bisa terlalu sering meminum larutan tersebut. Karna larutan tersebut tak akan cukup untuk di minumnya hingga waktu persalinan jika Sekar masih ingin melihat dan berkomunikasi dengan Aryo.
Tiba-tiba kulit Sekar melepuh dan gatal. Ia memandang langit di luar mendung dan gelap. Awan hitam mulai menyelimuti.
Sekar merasakan mual yang luar biasa, entah seperti sesuatu akan keluar dari perutnya. Menonjol kesana-kemari seakan ingin meledak dan keluar paksa dari dalam perutnya.
Sekar mulai berkeringat dingin dan kacau saat itu, ia bertahan sebisa mungkin hingga rasa sakit yang menggerogoti seluruh tubuhnya semakin besar dorongan sakit itu hingga tulang belakangnya seakan remuk dan hampir patah.
"Apakah bayiku akan keluar secepat ini? atau ini kontraksi palsu? bukankah masih dua bulan lagi?"
Sekar semakin tak menentu dan pasrah kali ini. Sekali pun ia meninggal tak ada yang menolong dirinya saat ini, ia sudah pasrah.
Di luar sana kilat-kilat terang saling memancar seperti kembang api yang beradu di antara langit hitam yang menggelap.
Sekar sudah terbaring pasrah masih di atas ranjang, dengan segala keterbatasannya. Hujan lebat mulai turun hingga bunyi letupan petir menggelegar.
Sprei kini sudah berubah warna, Sekar mengalami pendarahan. Tiba-tiba Mbah Suti sudah berdiri di ambang pintu kamar Sekar.
"Apa Kau melahirkan bayi jelmaan?"
Sekar menatap Mbah Suti meski dalam kesakitan. Sekar masih mendengar ucapan Mbah Suti.
"Bayi jelmaan tidak boleh hidup, akan mendatangkan petaka bagi Ibunya di kemudian hari." jelas Mbah Suti
"Jangan lakukan itu, karna itu telah perjanjianku dengan suamiku sebelum dia meninggal."
Mbah Suti langsung membantu Sekar.
"Tapi harus ada salah satu yang mengalah."
"Selamatkan bayiku ku mohon, jangan hiraukan keselamatanku. Jika terjadi apa-apa di kemudian hari berjanjilah rawat bayiku." pesan Sekar.
__ADS_1
"Bagaimana bisa Aku mengingkari janjiku, permohonanmu terlalu berat."
"Selamatkan bayiku."
Proses persalinan itu tak bisa di tahan lagi, dengan peralatan seadanya. Bayi itu memaksa keluar. Hampir dua jam Mbah Suti dengan keahliannya bertahun-tahun membantu persalinan itu. Dengan cukup menegangkan.
"Jangan biarkan orang lain tahu keberadaan bayi ku di ketahui orang lain."
........
Bayi itu telah keluar. Kini di pangkuan Mbah Suti.
"Biarkan Aku memberinya susu." ucap Sekar yang masih pucat.
Mbah Suti memberikan bayi itu ke tangan Sekar.
Mbah Suti ke dapur untuk mempersiapkan ramuan rempah-rempah untuk Sekar dan kebugaran tubuhnya setelah melahirkan.
Belum sampai empat puluh lima menit, Mbah Suti penasaran suara Sekar dan Bayinya yang begitu tenang di kamar seperti tidak biasanya.
Namun bertapa terkejutnya Mbah Suti melihat mulut Bayi itu yang sudah berlumuran darah di gendongan Sekar.
Sementara Sekar sudah tergeletak tak bergerak lagi. di sampingnya botol larutan itu tumpah dan pecah begitu saja belum sempat terminum.
Malam itu juga mayat Sekar di kuburkan, kini tinggal Bayi itu dengan Mbah Suti. Kematian Sekar telah menjadi buah bibir di masyarakat tempat tinggalnya. Malah Mbah Suti harus di keluarkan paksa dari tempat itu jika masih ingin merawat bayi tersebut.
Mbah Suti sudah terlanjur berjanji pada Sekar, akhirnya malam itu juga ia mengungsi malam-malam dengan membawa bayi itu. Ke daerah terpencil hampir satu jam dari tempat tinggalnya sekarang.
Bayi itu kini menangis karna lapar, Mbah Suti mencoba memberikan susu botol namun, bayi itu menolaknya. Berkali-kali seperti itu. Mbah Suti kini menyadarinya, akhirnya Mbah Suti memberikan jari telunjuknya. Meski perih ia menahannya. Sekuat mungkin di gendongnya dalam gubuk bambu peninggalan kebun almarhum suaminya.
Semakin lama semakin kuat sedotan bayi tersebut menghisap darah Mbah Suti.
Tubuh Mbah Suti kini setelah berjam-jam tak memiliki tenaga lagi, kini mulai melemah. Ia telah banyak kehabisan darah.
Ke esokan paginya oleh penduduk yang sedang melewati gubuk Mbah Suti, mendengar suara tangisan bayi yang tak berhenti-henti, mulutnya berlumuran darah.
Sementar tubuh Mbah Suti sudah terbujur kaku tak bernyawa lagi.
Mereka langsung membuka paksa gubuk bambu itu, spontan mereka terkejut melihat tubuh wanita tua yang terbujur kaku, sementara bayi itu tergeletak di sampingya.
Setelah mengurus pemakamannya Mbah Suti.
Akhirnya mereka membawa pulang bayi tersebut, timbul percakapan dua suami istri itu yang telah lama tak memiliki keturunan untuk mengambil bayi tersebut sebagai anak mereka.
Bayi itu tersenyum, ketika di angkat oleh sepasang suami istri tersebut.
__ADS_1
Selesai.......
Terimaksih telah menjadi pembaca setia novel jelmaan, jangan lupa untuk membaca novel lainnya menikahi cinta pertama dan cermin pasangan.
Jangan lupa vote koin, poin, like 5 boom rate, komentar positif tiap episodenya, jadikan favorite
follow ig: zuzanaoktober
__ADS_1