
Ahmad, wanita itu dan ibunya terus melafaskan nama Tuhan mereka. Sungguh tak terpikir olehku di luar dugaan logika di malam hari dengan keadaan yang entah antara hidup dan mati kami bertarung dengan lautan yang ombaknya tak bisa diperkirakan namun, itu lah takdir kami terdampar di pulau seberang.
28 Oktober 1997
Aku menemukan sesuatu yang lebih dalam hidupku. Sesuatu yang amat mendalam terlebih Dia menghargai aku sebagai manusia. Saat tangan-Nya menarikku dalam gelap. Aku mulai menemukan kehidupan baru di saat kusadari skenario -Nya begitu agung untukku cerna cinta-Nya dan kasih-Nya. Saat kubutuh pegangan dia menghargai aku sebagai manusia Aku menemukan wanita berkerudung duduk wajahnya bersih dan suci. Air matanya bicara dia membimbingku dan mengajariku. Untuk menemukan Allah yang membuatku
hadir di muka bumi ini begitu dekat bahkan terasa dekat dan ku ucapkan Asyahadu an-laa ilaaha illallaah Wa
asyhadu anna Muhammadan Rasuulullaah.
Aona menutup mulutnya seketika, ternyata ayahku seorang mualaf? entah dadanya seakan bergetar, perlahan air
matanya menetes pelan. Ia begitu terharu, tangannya bergetar memegang kertas tersebut. Aonamelanjutkan kembali membaca deretan kata-kata yang tertulis di tiap lembar kertas.
28 Desember 1998
Wajahmu dibalik tirai membuka sinar beradu dalam cahaya tabir keramaian. Saat jemarimu kusematkan cincin wajahmu lugu. Terdiam…rasanya inginku berbisik lonceng hatiku terus mengalun berdebar berhadapan denganmu. Ku menatap wajahmu tersenyum menunduk. Kau adalah lonceng hatiku saat ini.
3 februari 1999
Kini diperut istriku tumbuh buah cinta kami. Aku membawa istriku menemui kedua orang tuaku. Mereka kecewa atas pilihan hidupku. Hingga kedatanganku di usir, Ibu hanya menangis melihat kepergian kami dan saat
itu kami tak pernah bertemu orang tuaku.
3 Oktober 1999
Aku terharu menyaksikan langsung proses persalinan istriku, anak perempuan kami yang sungguh kuat. Ku adzankan dirinya, aku menangis inilah penerusku kelak. Aku mendekapnya begitu erat. Akhirnya hati kedua
__ADS_1
orangtuaku luluh saat tangisan cucu pertama menangis di pangkuan ayah dan ibuku. Alhamdullillah ya Allah, sungguh indah skenario yang Kau tulis di kehidupanku.
12 Desember 1999
Menantu bersama keluarga kecilnya mengunjungi diriku, aku mengasingkan diri menjadi dukun apung. Selama ini aku tidak ingin meninggalkan pulau Namo tanah kelahirannya tersebut, aku masih harus mengabdikan diri untuk
menolong persalinan di pulau tersebu. Walau apapun resikonya, entah itu penolakan penduduk pulau atas kejadiannya beberapa tahun lalu.
Kecintaanku terhadap pulau tersebut, abdiku untuk membantu dan apapun itu yang ada di hati dan keyakinanku selama ini. Ingin membuktikan bahwa diriku tak pernah sekalipun sesuai dengan isu-isu dan perasangka bersalah yang dituduhkan pada diriku selama ini.
Dengan kecintaan yang tertanam dalam relung hatiku. Aku, anakku, suaminya dan cucu yang ku gendong menyeberangi laut di malam itu. Tanpa terpikir olehku ini adalah akhir dari perjalanan kami. Kami berbeda
perahu karna muatan perahu yang mengkhawatirkan. Aku masih menatap pilu saat badai itu menghantam perahu yang ditumpangi anak dan menantuku.
Sekuat aku mendayung sambil menggendong cucuku, untuk menyelamatkan mereka. Namun takdir mendamparkanku kepulau, hingga aku tak mengingat pasti kejadian tersebut. Aku membuka mata sudah berada di rumah petua pulau.
Keesokan paginya seorang nelayan yang baru pulang melaut menemukan jasad Emak Japo terkapar
di pantai. Tubuhnya lebam akibat benda tumpul yang menghantam kepala dan di beberapa bagian tubuhnya. Salah satu dari mereka menuju rumah petua pulau, ia melaporkan kepada petua pulau mengenai peristiwa ini. Selang beberapa menit kemudian terdapat gerombolan penduduk bersama petua pulau datang ketempat tersebut. Memang
benar itu jasad Emak Japo.
Setelah di selidiki suami Bulanpelakunya, ia mempelajari ilmu hitam, dengan menumbalkan anak dan istrinya, ia terus menanyai Emak Japo untuk berguru dan memintanya untuk mengajarinya, namun Emak Japo membantah tak
memiliki ilmu tersebut, akhirnya dengan kalap mata ia menghabisi nyawa Emak Japo.
Aona meneteskan air mata sambil melipat surat yang ditulis Emak Japo yang terselip di dalam buku coklat.
__ADS_1
Kapal yang ditumpangi Aona kini melaju pelan meninggalkan pulau tersebut, petua pulau itu menepuk bahu Aonapelan. Kini buku tersebut sudah berada ditangan petua pulau. Biarlah ia sendiri
membaca kebenarannya.
Cinta itu masih tetap akan ada
Selagi pemilik hati menjaganya
Cinta itu akan selalu mengiringi kemanapun kau
berada
Selagi pemilik hati tetap berlabuh di dermaga
cinta
Seandainya cinta bisa menggantikan nyawa di badan
Mungkin cinta dipuja setinggi awan
Seandainya hidup sebatas dunia dan angkasa
Mungkin cinta sampai ke biduk surga
Karna cinta-Nya tak
pernah berangan-angan
__ADS_1
Bersambung...