
"Maafkan Aku tak seharusnya membuatmu ketakutan begitu." Sekar kali ini kembali normal sedia kala.
Aryo terdiam mencoba bersikap tenang.
Aryo mengambilkan perban, mencoba menutup luka di tangan istrinya.
"Kau istirhatlah saja. Anggap Aku tak pernah berkata seperti tadi."
Sekar pergi meninggalkan Aryo yang masih diam mematung.
"Kenapa Sekar menjadi berubah? apa ada yang salah di dalam dirinya?"
Aryo melamun sendirian, di lihatnya lampu kamar yang sudah gelap.
Sekar sudah tidur. Aryo perlahan masuk ke dalam kamar menyimpan segala rahasia yang ingin cepat-cepat di ketahuinya.
Aryo menatap Sekar yang sudah tertidur pulas.
"Apa yang di sembunyikan istriku ini? kenapa ia menyimpannya dari ketidak tahuanku?"
....
Paginya mereka sarapan seperti biasa.
Sekar bangun terlebih dahulu, memasak dan menyiapkan sarapan.
Aryo mandi berendam dengan air hangat pagi itu. Hari ini begitu lembab dan mendung.
"Semalam apa Kau menutupi sesuatu dariku yang tiba-tiba berubah begitu saja, dari mencelakai diri sendiri hingga menghindar dan menyuruhku melupakan semuanya?" tanya Aryo pagi ini meminum susu hangat.
"Tak perlu di perjelas." bisik Sekar memberikan sepiring nasi goreng.
"Bolehkah Aku mengetahui segala yang Kau tutupi?"
"Ini menyangkut kehidupan pribadiku, belum siap menceritakan padamu, jikapun Aku ceritakan apa kau sudah siap menerima kenyataannya?"
Aryo terdiam tak lama berucap.
"Apapun itu kau telah menjadi istriku, siap ataupun tidak Aku akan menerima seluruh kekuranganmu."
__ADS_1
Sekar duduk di sebelah suaminya kali ini.
"Kami bukan manusia biasa, khususnya diriku. Darahku mengalir darah seorang jelmaan. Ibu ku manusia biasa sedangkan Ayahku jelmaan."
Suara Sekar kali ini terhenti mendadak meski sulit untuk melanjutkan ucapan itu.
Sekar berusaha jujur pada suaminya jikapun di tutupi akan terbuka juga jati dirinya.
"Kita sama, justru itu Ibumu memilih Aku untuk menikahimu." lanjut Aryo memegang tangan istrinya.
"Kita senasib, di lahirkan anak dari jelmaan."
"Dan kita akan memiliki keturunan jelmaan lagi?"
"Sebaiknya kita tunda? apa kau ingin anakmu dikucilkan kelak jika orang-orang tahu bahwa dia adalah keturunan jelmaan."
"Itu yang harus di pikirkan perasaannya setelah dewasa kelak."
"Kadang Aku bingung jika situasinya telah berubah."
"Kita akan menundanya sampai kapan?"
"Sampai Aku menemukan jalan keluarnya. Sampai Aku menemukan larutan pembeku gen jelmaan yang mengalir di tubuh kita berdua."
"Aku akan berusaha, kita tidak boleh sama dengan orang tua kita dulu. Cukup Aku saja yang di campakkan tapi tidak untuk anakku kelak. Aku tak ingin anakku mendapatkan perlakuan yang sama seperti Ayahnya dulu semasa kecil."
"Mungkin itu, alasan Ibuku telah mempersiapkan rumah kita yang terisolir dari keramaian. Ia pernah melewati masa-masa kita dulu. Aku masih menyimpan mayat Ibuku, katanya itu akan berguna untuk kita kelak. Karna dia adalah manusia murni."
Aryo terdiam menatap jam dinding.
"Apa kau sudah tahu lama rahasiaku ini?"
"Aku merasakan hawa tubuhmu yang amis. Kau mencoba menyetok darah bukan di lemari pendingin bawah tanah. Aku telah memeriksa itu semenjak Aku tinggalndi rumah ini."
"Kau cepat sekali menemukannya, padahal itu tersembunyi sangat rapat."
"Kita sama, tak ada bedanya."
"Cepatlah habisi sarapanmu! kita tak memiliki banyak waktu." bisik Sekar sesaat memecahkan suasana yang begitu serius.
__ADS_1
Aryo melahap nasi itu.
"Entah kenapa Aku tak nafsu, Aku harus meminta stokmu di lemari pendingi bawah tanah. Tubuhku terlalu lelah beberapa hari ini."
"Kau memaksa menjadi manusia biasa bukan? jangan persulit dirimu sendiri."
Sekar menuangkan cairan kental berwarna merah itu ke gelas.
Aryo menghabiskannya dalam dua menit.
"Aku merasa seperti hidup kembali."
"Apa Kau ingin menambah lagi?" Sekar menawarkan.
"Sudah cukup, Aku tak ingin terlalu memanjakan jelmaan di dalam tubuhku. Jika bisa Aku berharap dapat membuangnya. Namun tak bisa sama sekali."
"Kita akan berjuang, bagaimana kita mulai dengan mengurangi saja, menunggu saat tubuh kita benar-benar menginginkannya." usul Sekar.
"Apa Kau akan baik-baik saja? karna Aku telah terbiasa beberapa tahun ini telah Aku biasakan untuk tidak bergantung padanya."
"Aku akan mencoba berusaha."
"Demi memutuskan mata rantai kutukan jelmaan yang mengalir di tubuh kita."
"Boleh Aku meminta sesuatu padamu?"
"Apa itu?"
"Berjanjilah untuk tidak menutupi segala sesuatu apapun itu."
Sekar mengangguk mengiyakan kali ini.
Jauh dari lubuk hatinya sebenarnya ada ungkapan yang mesti ia ingin ungkapkan walau hanya terkadang belum berani mengutarakannya langsung pada suaminya kali ini. Takut melukai atau bahkan menyimpan beban yang membuatnya untuk sulit di jabarkan dengan perinci.
💞💞💕💝💝💝💝💝💞💕💞
Untuk pembaca setia JM yang baik hati dan rajin menabung poin/koin
Jangan lupa vote poin/koin, komentar positif tiap episodenya. like 5 boom rate. jadikan favorite
__ADS_1
follow ig: zuzanaoktober
salam JM