JELMAAN

JELMAAN
Episode 7


__ADS_3

Kisah masa lalu Aona


Rumah Apung yang tampak ringkih usianya


lapuk terendam oleh air laut, deru ombak sudah ribuan bahkan jutaan kali


menghantam papan-papan tua itu. Kali ini tak adaSelagi dapat kokoh dan kuat


menopang hentaman itu, sekali lagi demi waktu yang termakan usia. Kali ini tak


ada yang mengetahui derikan pilu mulai merembes dari sela-sela papan tua.


Mungkin air laut tak kuasa untuk tergoda mulai malu-malu menyembunyikan hasrat


untuk melapukkan papan-papan tua itu hingga tergerus oleh sembilu deburan


ombak.


Jikalah  cinta laksana  laut di pasir


Tak  akan


menenggelamkan perahu apung yang menepi


Jikalah deru ombak menggantikan badai


Tak  akan menenggelamkan


matahari yang berbinar


Jika di tempat peraduan tak lagi berjumpa


Setidaknya pernah bertemu untuk bersama


Jika masih sulit untuk saling bersatu


Mungkin di tempat lain akan menyatu


Jika cinta mampu mengubah hitam menjadi putih


Mungkin cinta hanya untuk di ubah


Jika cinta mampu mengubah gelap menjadi berwarna


Mungkin cinta hanya untuk di rasa


Bukannya api takut air


Bukan pula hati takut akan takdir


Bila seruan tak mampu menyatukan umat-Nya

__ADS_1


Bukankah kiblat bukti nyatanya


“Saat


kau menyukai seorang yang hanya bisa ditahan dalam hati namun tak bisa diungkapkan


terkadang rasa sesak didada, tak tahu perasaan yang tertahan oleh keadaan


apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan secara


alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski


diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih melihatnya, untuk kau kagumi


secara diam-diam.”


Melalui


selembar kertas ini kuperkenalkan diriku pembuat surat yang dengan lancang


mengirimimu pesan. Surat ini kutulis mewakili keberadaanku, maaf jika hadirnya


surat ini mengusikmu. Terlebih dari itu pikiranku terus tertuju padamu, entah jika


tak kusampaikan mungkin aku sulit bernafas dan sulit tidur di malam hari atau


dadaku terasa sesak menahan perasaan ini.


Pemilik rinduku


Pemilik sedihku


Pemilik cintaku


Siapakah dirimu?


Yang selalu masuk ke dalam mimpiku


Apakah kau nyata bagiku


Atau hanya illusi yang tak bertuan


Pemilik hatiku


Lonceng hatiku tertinggal


Dipercikan air perjumpaan


Saat mozaik


Meramalkan ada pertemuan

__ADS_1


Tak seagung patung Columbus


Menunjuk kearah laut lepas


Menunggu


Di lonceng hatimu


Aku menunggu hadirmu di pantai sore ini…


menyembunyikan hasrat untuk melapukkan


papan-papan tua itu hingga tergerus oleh sembilu deburan ombak.


Aona menutup surat itu sesaat. Apakah ini adalah surat antar


kedua orang tuaku dulu? Aona menatap langit-langit malam sambil membaringkan tubuhnya


di tepian perahu dengan sesekali ombak malam yang kecil yang cukup


mengombang-ambingkan perahunya, ia buka kembali surat berikutnya.


Surat


keduaku terpaksa aku kirimkan kembali, kenapa kau tak menemuiku? aku menunggu sangat


lama, bahkan sang surya terbenam aku masih menunggumu tapi kau tak kunjung


datang.


Alunan


langkah mengitari bibir pantai. Sepanjang sosokmu belum nampak dari keramaian


dan merahnya senja saat kupejamkan mataku ingin kau hadir, kau muncul di hadapanku.


Dan kuberharap kau adalah takdirku. Teduh matamu dari balik kerudun. Air


perjumpaan menyatu dalam bayangan wajahmu. Gemericik lantunan deru ombak


menjadi saksi dalam beningnya sapuan bulir-bulir pasir.  Yang masih setia menunggumu di sore ini.


Ini adalah surat ketigaku, terpaksa aku kirimkan kembali,


kenapa kau tak menemuiku lagi? aku menunggumu sangat lama, apa aku tak pantas


untuk kau temui? aku mengharapkan pertemuan denganmu? apa kau sudah memiliki


pemilik hati yang lain? balaslah suratku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2