
Kisah masa lalu Aona
Rumah Apung yang tampak ringkih usianya
lapuk terendam oleh air laut, deru ombak sudah ribuan bahkan jutaan kali
menghantam papan-papan tua itu. Kali ini tak adaSelagi dapat kokoh dan kuat
menopang hentaman itu, sekali lagi demi waktu yang termakan usia. Kali ini tak
ada yang mengetahui derikan pilu mulai merembes dari sela-sela papan tua.
Mungkin air laut tak kuasa untuk tergoda mulai malu-malu menyembunyikan hasrat
untuk melapukkan papan-papan tua itu hingga tergerus oleh sembilu deburan
ombak.
Jikalah cinta laksana laut di pasir
Tak akan
menenggelamkan perahu apung yang menepi
Jikalah deru ombak menggantikan badai
Tak akan menenggelamkan
matahari yang berbinar
Jika di tempat peraduan tak lagi berjumpa
Setidaknya pernah bertemu untuk bersama
Jika masih sulit untuk saling bersatu
Mungkin di tempat lain akan menyatu
Jika cinta mampu mengubah hitam menjadi putih
Mungkin cinta hanya untuk di ubah
Jika cinta mampu mengubah gelap menjadi berwarna
Mungkin cinta hanya untuk di rasa
Bukannya api takut air
Bukan pula hati takut akan takdir
Bila seruan tak mampu menyatukan umat-Nya
__ADS_1
Bukankah kiblat bukti nyatanya
“Saat
kau menyukai seorang yang hanya bisa ditahan dalam hati namun tak bisa diungkapkan
terkadang rasa sesak didada, tak tahu perasaan yang tertahan oleh keadaan
apakah nyata yang dirasa atau tidak, namun itulah rasa yang diciptakan secara
alami tanpa ada yang memaksa. Kau akan terus menyukai perasaan itu meski
diacuhkan dan akan terus di jaga selama kau masih melihatnya, untuk kau kagumi
secara diam-diam.”
Melalui
selembar kertas ini kuperkenalkan diriku pembuat surat yang dengan lancang
mengirimimu pesan. Surat ini kutulis mewakili keberadaanku, maaf jika hadirnya
surat ini mengusikmu. Terlebih dari itu pikiranku terus tertuju padamu, entah jika
tak kusampaikan mungkin aku sulit bernafas dan sulit tidur di malam hari atau
dadaku terasa sesak menahan perasaan ini.
Pemilik rinduku
Pemilik sedihku
Pemilik cintaku
Siapakah dirimu?
Yang selalu masuk ke dalam mimpiku
Apakah kau nyata bagiku
Atau hanya illusi yang tak bertuan
Pemilik hatiku
Lonceng hatiku tertinggal
Dipercikan air perjumpaan
Saat mozaik
Meramalkan ada pertemuan
__ADS_1
Tak seagung patung Columbus
Menunjuk kearah laut lepas
Menunggu
Di lonceng hatimu
Aku menunggu hadirmu di pantai sore ini…
menyembunyikan hasrat untuk melapukkan
papan-papan tua itu hingga tergerus oleh sembilu deburan ombak.
Aona menutup surat itu sesaat. Apakah ini adalah surat antar
kedua orang tuaku dulu? Aona menatap langit-langit malam sambil membaringkan tubuhnya
di tepian perahu dengan sesekali ombak malam yang kecil yang cukup
mengombang-ambingkan perahunya, ia buka kembali surat berikutnya.
Surat
keduaku terpaksa aku kirimkan kembali, kenapa kau tak menemuiku? aku menunggu sangat
lama, bahkan sang surya terbenam aku masih menunggumu tapi kau tak kunjung
datang.
Alunan
langkah mengitari bibir pantai. Sepanjang sosokmu belum nampak dari keramaian
dan merahnya senja saat kupejamkan mataku ingin kau hadir, kau muncul di hadapanku.
Dan kuberharap kau adalah takdirku. Teduh matamu dari balik kerudun. Air
perjumpaan menyatu dalam bayangan wajahmu. Gemericik lantunan deru ombak
menjadi saksi dalam beningnya sapuan bulir-bulir pasir. Yang masih setia menunggumu di sore ini.
Ini adalah surat ketigaku, terpaksa aku kirimkan kembali,
kenapa kau tak menemuiku lagi? aku menunggumu sangat lama, apa aku tak pantas
untuk kau temui? aku mengharapkan pertemuan denganmu? apa kau sudah memiliki
pemilik hati yang lain? balaslah suratku.
Bersambung...
__ADS_1