
Pulau ini sungguh sulit untuk mendapat signal, aku kewalahan mencari signal. Maafkan aku Ibu sepertinya besok aku harus mencari dataran tinggi, atau bahkan harus memanjat pohon sekali pun hanya untuk memberi kabar
tentang keberadaanku disini.
17 Januari 1997
Tubuhku
sebenarnya masih lelah untuk bangun, namun malam ini ada proses melahirkan di rumah
penduduk pulau ini. Sangat sia-sia jika aku melewatkan prosesi acara tersebut,
untuk menambah dokumentasiku saat ini. Aku menginap di rumah petua pulau, dia
mengizinkan aku tinggal di sana, seperti biasa aku memakai kemeja dan jeans,
namun Petua Pulau menyuruhku memakai kain atau sarung, itulah adat mereka.
Terbayang olehku begitu repotnya mengenakan sarung. Aku hanya mengikuti tradisi
tersebut.
Tiba di rumah penduduk tersebut, sebagai tamu aku disuruh menerima sirih dan pinang sebagai
salam pembuka dari mereka, bukti mereka menghargai keberadaanku. Entah rasanya
begitu aneh, tapi aku harus menelannya. Anak-anak yang melihat reaksi wajahku
menelan sirih dan pinang tersebut tersenyum atau bahkan ada yang tertawa.
Seperti biasa aku mendokumentasikan tiap prosesinya, namun laki-laki tak diperbolehkan
masuk ke kamar wanita yang sedang melahirkan hanya suami dan ayah kandungnya
saja yang boleh masuk. Kami menunggu di luar dengan suasana tegang.
20 Januari 1997
__ADS_1
Aku memeriksa kembali foto-foto yang sempat aku ambil beberapa waktu lalu, namun aku tertegun
seketika kameraku menangkap sosok wanita berkerudung menggendong bayi yang
semalam baru lahir. Kuperbesar bahkan kumenatap wajahnya lama-lama. Aku
mengabaikannya kembali, namun entah kenapa aku tertarik lagi untuk melihat
wajahnya. Aku melihat kembali foto
wanita itu. Apa mungkin dia sudah bersuami? tapi? kenapa aku sempat berpikir
seperti itu. Cepat-cepat aku menyimpan kameraku ke dalam tas.
21 Januari 1997
Petua pulau mengajakku berjalan-jalan kepelosok pulau, berkeliling sekedar hanya menyapa
penduduk pulau yang sebagian besar adalah nelayan.
banyak kepada mereka tentang tradisi, upacara adat dan kegiatan-kegiatan sosial.
Anak-anak di pulau itu mengikuti langkahku kemanapun pergi, aku pun sesekali mengambil foto
mereka. Ternyata mereka mulai akrab dengan keberadaanku di sini, hingga aku
pulang pun anak-anak itu masih mengikutiku.
25 Januari 1997
Entah kupikir aku mulai menjadi detektif dengan kameraku, malam ini ada penduduk
pulau yang melahirkan. Aku diajak oleh
petua pulau untuk menghadirinya. Aku melihat wanita itu lagi, berkerudung
coklat begitu santun, hangat dan bersih wajahnya. Tampak ia berbincang-bincang
__ADS_1
dengan wanita yang lebih tua darinya. Tanpa sepengetahuannya aku mengambil fotonya
dengan diam-diam, bahkan ku ambil dari jarak dekat. Namun akhirnya aku ketahuan
juga, akhirnya ia menghilang masuk ke kamar.
Entah kenapa aku iseng seperti ini kepada dirinya?
sepertinya dia tidak suka dengan sikapku. Tapi biarlah, aku menunggu dia keluar
kamar itu, kuhitung mundur. Namun tak ada tanda-tanda ia akan keluar. Aku masih
menunggu.
Beberapa wanita yang duduk dihadapanku berbisik-bisik, tak
lama mereka tersenyum dan bersikap manis. Aku hanya membalas sekedarnya saja,
sungguh aku menunggu wanita itu keluar dari
kamar, jika benar dia sudah menjadi istri seseorang? entah kenapa pertanyaan
itu kembali muncul dibenakku?oh Tuhan sebenarnya kenapa dengan diriku? sejak
saat itu aku tak pernah berjumpa lagi dengan wanita itu.
5 Februari 1997
Aku berkeliling dengan anak-anak pulau, aku harus memanjat pohon kelapa agar dapat
mendengar suara Ibuku. Anak-anak pulau membantuku, namun karna keseimbangan
tubuhku yang goyah. Aku terjatuh kelaut, karna pohon kelapa yang menjorok ke laut
menyelamatkanku. Anak-anak menertawaiku.
Bersambung...
__ADS_1