JELMAAN

JELMAAN
Episode 11


__ADS_3

Pulau ini sungguh sulit untuk mendapat signal, aku kewalahan mencari signal. Maafkan aku Ibu sepertinya besok aku harus mencari dataran tinggi, atau bahkan harus memanjat pohon sekali pun hanya untuk memberi kabar


tentang keberadaanku disini.


17 Januari 1997


 Tubuhku


sebenarnya masih lelah untuk bangun, namun malam ini ada proses melahirkan di rumah


penduduk pulau ini. Sangat sia-sia jika aku melewatkan prosesi acara tersebut,


untuk menambah dokumentasiku saat ini. Aku menginap di rumah petua pulau, dia


mengizinkan aku tinggal di sana, seperti biasa aku memakai kemeja dan jeans,


namun Petua Pulau menyuruhku memakai kain atau sarung, itulah adat mereka.


Terbayang olehku begitu repotnya mengenakan sarung. Aku hanya mengikuti tradisi


tersebut.


Tiba di rumah penduduk tersebut, sebagai tamu aku disuruh menerima sirih dan pinang sebagai


salam pembuka dari mereka, bukti mereka menghargai keberadaanku. Entah rasanya


begitu aneh, tapi aku harus menelannya. Anak-anak yang melihat reaksi wajahku


menelan sirih dan pinang tersebut tersenyum atau bahkan ada yang tertawa.


Seperti biasa aku mendokumentasikan tiap prosesinya, namun laki-laki tak diperbolehkan


masuk ke kamar wanita yang sedang melahirkan hanya suami dan ayah kandungnya


saja yang boleh masuk. Kami menunggu di luar dengan suasana tegang.


20  Januari 1997

__ADS_1


 Aku memeriksa kembali foto-foto yang sempat aku ambil beberapa waktu lalu, namun aku tertegun


seketika kameraku menangkap sosok wanita berkerudung menggendong bayi yang


semalam baru lahir. Kuperbesar bahkan kumenatap wajahnya lama-lama. Aku


mengabaikannya kembali, namun entah kenapa aku tertarik lagi untuk melihat


wajahnya.  Aku melihat kembali foto


wanita itu. Apa mungkin dia sudah bersuami? tapi? kenapa aku sempat berpikir


seperti itu. Cepat-cepat aku menyimpan kameraku ke dalam tas.


21  Januari 1997


 Petua pulau mengajakku berjalan-jalan kepelosok pulau, berkeliling sekedar hanya menyapa


penduduk pulau yang sebagian besar adalah nelayan.


banyak kepada mereka tentang tradisi, upacara adat dan kegiatan-kegiatan sosial.


Anak-anak di pulau itu mengikuti langkahku kemanapun  pergi, aku pun sesekali mengambil foto


mereka. Ternyata mereka mulai akrab dengan keberadaanku di sini, hingga aku


pulang pun anak-anak itu masih mengikutiku.


25  Januari 1997


Entah kupikir aku mulai menjadi detektif dengan kameraku, malam ini ada penduduk


pulau yang melahirkan.  Aku diajak oleh


petua pulau untuk menghadirinya. Aku melihat wanita itu lagi, berkerudung


coklat begitu santun, hangat dan bersih wajahnya. Tampak ia berbincang-bincang

__ADS_1


dengan wanita yang lebih tua darinya. Tanpa sepengetahuannya aku mengambil fotonya


dengan diam-diam, bahkan ku ambil dari jarak dekat. Namun akhirnya aku ketahuan


juga, akhirnya ia menghilang masuk ke kamar.


Entah kenapa aku iseng seperti ini kepada dirinya?


sepertinya dia tidak suka dengan sikapku. Tapi biarlah, aku menunggu dia keluar


kamar itu, kuhitung mundur. Namun tak ada tanda-tanda ia akan keluar. Aku masih


menunggu.


Beberapa wanita yang duduk dihadapanku berbisik-bisik, tak


lama mereka tersenyum dan bersikap manis. Aku hanya membalas sekedarnya saja,


sungguh  aku menunggu wanita itu keluar dari


kamar, jika benar dia sudah menjadi istri seseorang? entah kenapa pertanyaan


itu kembali muncul dibenakku?oh Tuhan sebenarnya kenapa dengan diriku? sejak


saat itu aku tak pernah berjumpa lagi dengan wanita itu.


5  Februari 1997


Aku berkeliling dengan anak-anak pulau, aku harus memanjat pohon kelapa agar dapat


mendengar suara Ibuku. Anak-anak pulau membantuku, namun karna keseimbangan


tubuhku yang goyah. Aku terjatuh kelaut, karna pohon kelapa yang menjorok ke laut


menyelamatkanku. Anak-anak menertawaiku.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2