
"Berilah rasa kasihanmu pada nyawa yang tak pernah berhenti untuk bertahan." bisik Sekar pada dirinya sendiri.
Sama sekali tak ada berita tentang keberadaan suaminya. Sekar akhirnya bisa pulang dari rumah sakit. Di bantu Dira mengurus biaya administrasinya.
"Kau tinggal untuk sementara waktu di rumahku saja. Rumahmu masih dalam perbaikan." jelas Dira.
Sekar mengangguk.
"Apa kita butuh detektif untuk mencari keberadaan suamiku saat ini, meskipun tinggal hanya mayat abunya saja, paling tidak ada kabar kepastian tentangnya."
"Kita pulang saja dulu, setelah istirahat kita pikirkan lagi rencana selanjutnya."
.....
"Istirahatlah sebentar, jika Kau perlu apa-apa panggil saja, jangan sungkan." Dira menutup kembali pintu kamarnya.
"Terimakasih Dira, Kau mau membantuku itu lebih dari sekedar cukup." Sekar tersenyum kembali.
Sekar kali ini di kamar seorang diri. Hanya sendiri menatap gerimis di luar jendela kamar.
Bagaimana nasib suamiku? belum ada kabar, tak ada berita. Selamat atau tidak? belum ada yang dapat memastikannya.
Sekar masih setia menunggu kabar itu, meski sampai kapanpun tak ada kejelasan.
Apakah Aku bisa menerima takdir ini, yang pada akhirnya akan membesarkan anak seorang diri?
Sekar sangat lelah memikirkan itu semua.
Apakah Aku tak akan bertemu dengan suamiku lagi? meski terakhir kalinya. Sekar memilih berbaring.
Air matanya mengalir tanpa aba-aba, meluncur begitu saja.
__ADS_1
.......
Saat malam tiba, bayangan hitam itu masuk perlahan menyelinap dari sela-sela jendela yang tak rapat.
Ia menutupi tubuh Sekar dengan hangat dan nyaman.
Dira mengetuk pintu beberapa kali. Sekar terbangun. Bayangan hitam itu menghilang dalam sekejap.
"Apa ketukanku membangunkanmu? bangunlah, makan! Kau belum memakan apapun dari siang tadi."
Dira meletakkan air hangat dan makan malam di samping meja tempat tidur Sekar.
"Makanlah!"
Sekar mengangguk.
"Cepat atau lambat keberadaan suamimu akan di ketahui, jangan cemaskan lagi. Kau harus menjaga janin yang ada di dalam perutmu."
"Kau pasti bisa membesarkannya seorang diri, percayalah. Aku siap membantumu."
"Dira, Kau sudah terlalu banyak berkorban untukku, Aku tak ingin terlalu banyak merepotkanmu."
Dira menggeleng.
"Dulu Aku berhutang budi padamu, sudah saatnya Aku bisa membalas kebaikanmu selama ini."
"Tapi..."
"Kau tak boleh menolaknya."
"Kau sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri."
__ADS_1
"Makanlah! biar kau bisa ada tenaga untuk bertahan. Percayalah Aku tak akan meninggalkanmu seorang diri, apa lagi kondisimu seperti ini."
Sekar memeluk Dira sesaat dan lama sekali.
"Jangan merasa merepotkan ya, sungguh jangan beranggapan seperti itu lagi." Dira kali ini menyuapi Sekar dengan pelan.
"Sahabat sepertimu tak akan pernah terlupakan, meski Aku berhutang apapun padamu."
"Bersikaplah dewasa menghadapi semua ini, berjanjilah Kau harus cerita apapun yang Kau hadapi, jangan biarkan kau terpuruk."
Sekar melahap cepat makan malam yang di buatkan Dira.
Tiba-tiba terdengar deru mesin mobil berhenti di depan rumah mereka.
"Sepertinya ada tamu malam-malam begini. Aku turun dulu ingin melihatnya. Kau habiskanlah makan malammu!"
Derap langkah Dira menuruni anak tangga, hawa malam ini sangat dingin dan tak bersahabat.
"Tamu tak diundang masih bisa menemukan kami tempat ini."
Dira membukakan pintu. Betapa terkejutnya Dira kali ini, dua laki-laki bertopeng hitam yang menakutkan sudah menodongkan pisau ke leher Dira.
"Bawa kami menemui wanita yang Kau selamatkan kemarin." ucapnya mengancam Dira.
Bersambung...
Jangan lupa vote koin/poin, like 5 boom rate, komentar positif tiap episode.
follow ig zuzanaoktober
salam JM
__ADS_1