
Berjuta
kata bercampur dari gugurnya lantunan gesekan dawai tanpa irama. Masih tetap
diam tanpa ada jawaban berat kakimu untuk datang. Tertindih dinginnya hawa, semudah
daun gugur tanpa ranting. Lonceng kini tanpa irama tetap menunggu jawaban dari
bibir mungilmu.
Ini adalah surat keempatku terpaksa aku mengirimimu
kembali, kenapa kau lagi-lagi tak menemuiku? aku menunggumu sangat lama, atau
memang kau sudah dimiliki oleh orang lain? balaslah suratku.
Batu kerikil pecah saat kau luncurkan utara hatimu. Daun gugur
tak beranting aku terdiam.
Kau diam dengan musimmu.
Tak ada jawaban saat nafasmu meluncur dengan dingin hawa.
Masih tak ada jawaban.
Lonceng hatiku kini berhenti.
Ini adalah surat kelimaku terpaksa akan terus mengirimimu
surat kembali, sampai kau mau menjawab suratku. Kenapa kau lagi-lagi masih tak
__ADS_1
menemuiku? paling tidak balaslah
suratku, jika kau tak mau menemui diriku.
Kuntum melati dengan sepasang
merpati. Terdiam dalam telepati ada
jarak saatku belajar melepaskanmu tak
mampuku kenali dirimu. Aku menjauh dan menjauh saat kutitipkan perasaanku.
Kuberharap dapat melihatmu walau hanya lewat mimpi.
Ini adalah surat keenamku, tak akan pernah aku berhenti untuk mengirimimu surat, sampai kau mau menjawab suratku. Balaslah suratku.
Lonceng hatiku mulai enggan berirama. Tak ada waktu kau masih diam. Meski waktu datang. Kau masih beku. Hanya dirimu yang pernah buatku menunggu. Entah kumasih menunggumu. Walau kau enggan pilar-pilar kesabaran runtuh. Hingga jatuh namun selamanya kau tak akan terganti.
Ini adalah surat ketujuhku. Balaslah suratku.
pulang dari menolong proses melahirkan di pulau. Dengan rapi Nishain susun
kembali urutan surat tersebut, ia masih penasaran dengan buku biru tersebut.
Namun ia tak ingin Emak Japo memergoki perbuatannya kali ini.
******
Azan subuh tak bisa terdengar lagi setelah beberapa tahun langgar itu ditutup.
Wanita tua berkerudung itu mulai menepikan perahunya, ketepian tangga langgar
__ADS_1
terapung yang sunyi sudah lama tak terpakai lagi.
Wanita berkerudung itu membangunkan cucu perempuannya yang masih tertidur pulas di pondok
perahu. Orang-orang disekitar sering
memanggilnya Emak Japo, dia adalah dukun beranak apung yang senantiasa menolong
proses melahirkan di pulau. Jika ada proses melahirkan di pulau, orang-orang memanggilnya.
Pulau yang tidak memiliki nama pasti. Banyak perumpamaan nama di pulau tersebut yang terpencil dan tak
tercantum di sejarah ataupun peta. Namun orang-orang pulau
sering menyebutnya pulau Namo.
Pulau itu muncul saat air laut pasang surut. Pulau itu merupakan penjelasan bagi penduduk
tentang teka-teki sejarah asal mereka. Seratus lima puluh tahun yang lalu
berdirilah penduduk pulau yang menurut penduduk sekitar.
Namo berasal dari angka sembilan yang diberikan oleh orang-orang petua pulau dulu karna pulau
ini merupakan pulau kesembilan di sebelah utara. Di sana juga terdapat mata air, yang berkhasiat dapat memperpanjang umur. Namun tak seorang pun pernah berhasil menemukan mata air tersebut. Cerita ini didengar
dari orang-orang tua di pulau Namo.
Pulau Namo berada disepanjang pesisir pantai
itu. Rumah-rumah dari papan atau bambu, yang
__ADS_1
didirikan diatas air, berderet di kedua sisi jalan utama. Di antara rumah-rumah yang terletak
ditepi laut, ada beberapa yang sama sekali berada di laut.