
17 Februari 1997
Terus aku mengiriminya surat sampai ia mau membalas dan menemuiku, setiap kali kubertanya
pada anak-anak, bagaimana respon wanita tersebut jika ditanya saat menerima surat dari diriku. Wanita tersebut tidak menjawab semakin anak-anak itu bertanya, semakin wanita tersebut menambah satu juz untuk dibaca tiap
pertemuan, bahkan ada yang dua juz dan tiga juz. Akhirnya anak-anak tak ada lagi yang berani bertanya. Karna mereka tak ingin pulang malam jika harus membaca dua sampai tiga juz tiap pertemuan.
18 Februari 1997
Aku menatap Ahmad yang masih beribadah, temanku ini sudah tiga tahun menjadi mualaf. hingga
ia memutuskan menikah dengan wanita yang berkerudung dan telah dikaruniai dua
orang anak. Aku ingin bertanya namun entah terasa berat lidahku. Hingga
akhirnya kubiarkan dia menyelesaikan ibadahnya terlebih dahulu.
Ahmad tersenyum menatapaku, setelah ia menyelesaikan salamnya. Dan merapikan kopiah
dan sajadah yang habis ia pakai. Ahmad
menepuk bahuku. Dan aku masih ingat kata-katanya. Biarkan hidayah yang
__ADS_1
membukakan jalan untukmu, jika dirimu sudah siap menerima hidayah itu jangan
kau tunda untuk meyakininya. Itulah yang diucapkan Ahmad.
28 Februari 1997
Sungguh dari sekian banyaknya surat yang aku kirim tak ada satupun yang dibalasnya. Aku
terus merangkai kata-kata untuknya. Namun tanganku terhenti saat petua pulau mengajak kami untuk menghadiri acara lamaran di rumah apung. Sungguh rasanya melemas syaraf-syaraf tubuhku. Tanganku tak bisa bergerak. Wanita yang ingin kudekati selama ini ada yang akan melamarnya.
Aku tak sanggup menghadirinya, kakiku tiba-tiba keram. Ahmad menatapku kuat, dia
meyakinkanku untuk jangan berlari dari kenyataan ini semua. Aku harus kuat menghadapinya.
Aku tak keluar dari kamar malam itu. Hanya Ahmad dan petua pulau yang datang hadir.
2 Maret 1997
Tak pernah aku menanyakan ataupun mencari tahu hasil pertemuan lamaran tersebut. Aku duduk
di dermaga dengan sesekali memotret burung-burung. Aku menatap rumah apung tersebut dari jauh. Sesekali
__ADS_1
aku menatap foto wajah wanita tersebut yang kuperbesar. Hingga aku puas menatapnya.
Tanpa kusadari Ahmad sudah duduk di sampingku, ia memberi tahu jika wanita itu menolak lamaran
laki-lakinya. Aku menatap Ahmad tak percaya.
Tapi tak bisa kupungkiri aku berbisik begitu bahagianya aku mendengar kabar tersebut. Bukankan aku memiliki kesempatan? namun dari sorot mata terdalam Ahmad, ada satu alasan yang ia sembunyikan. penolakan
tersebut karna Ibu wanita tersebut menolak lamaran dari laki-laki yang
berlainan keyakinan. Aku hanya terdiam beku.
5 Maret 1997
Hampir seminggu kejadian tersebut, muncul laki-laki dari suku Sanir mencoba kembali melamar wanita tersebut, namun penolakan pun masih sama. Suasana pulau mencekam baru kali ini terjadi hal tersebut. Penolakan
berturut-turut berarti perang yang akan dikobarkan antar dua suku yang berbeda keyakinan.
Dari penolakan lamaran tersebut tiap kali penduduk suku Sanir berpapasan dengan penduduk suku Maja, tiap itu juga tatapan kebencian mulai beradu.
17 Maret 1997
Ini ketiga kalinya laki-laki tersebut mendatangi wanita itu seorang diri, dengan niat yang masih sama namun lagi-lagi penolakan pun diterimanya. Api kemarahan seakan berkobar menyulut pandangannya kali ini.
__ADS_1
Petua pulau dari pagi hingga malam masih berada di balai menyendiri, tak ada yang berani keluar dari rumah penduduk suku Maja saat itu, seakan mereka diteror dan diusik akibat penolakan tersebut.
Bersambung...