
Setiap memasuki waktu untuk solat, Emak Japo menyuruh Aona untuk menepikan perahunya di tepian tangga langgar.
Emak Japo, wanita tua yang tinggal bersama Aona cucunya di dalam perahu yang berpindah-pindah. Nama Aona berbeda dari nama orang-orang di pulau ini. Nama Aona diambil dari nama belakang orang
datangan baru, yang sempat meneliti pulau Namo dan kehidupan Emak Japo yang
sebagian hidupnya di abdikan untuk menolong ibu-ibu dalam melahirkan, tinggal
di perahu dan mengarungi laut, itulah yang Emak Japo ceritakan kepada Aona.
Walau umurnya sudah tak muda lagi, Emak Japomasih kuat mengarungi laut. Di sana
ada juga sebagian penduduk yang memilih tinggal di atas air atau rumah apung
yang dibawah rumah terdapat air, untuk keluar dari rumah orang harus melompat kedalam perahu yang biasanya di
tambatkan pada tangga rumah.
Untuk tinggal di atas air orang-orang pulau Namo perlu memahami dan menyesuaikan diri
dengan lingkungan. Tak jarang rumah-rumah ini bergerak, sehingga kestabilan
tubuh, kepekaan kaki terhadap lantai harus dipelajari, saat tidur siang dengan
berbaring di tempat tidur dari celah-celah papan orang-orang pulau dapat
menyaksikan ikan-ikan, bulu-bulu ****, kepiting, dan hewan laut lainnya yang
berenang ke sana ke mari, sungguh sangat terkesan suasana bagaikan akuarium
raksasa.
__ADS_1
Ketika malam tiba, orang-orang tak berjalan-jalan lagi di lorong-lorong pulau Namo.
Kadang-kadang kepala pulau bersama penduduk pulau lainnya yang turun sendiri untuk berkeliling
melalui liku-liku jalan yang gelap dan
tak habis-habisnya. Karna beberapa hari yang lalu salah satu penduduk suku Maja sempat melihat bola api yang merendah menuju rumah petua pulau.
Isu-isu tersebut berlanjut, bola api tersebut
merupakan kiriman suku Sanir karna petua pulau tidak menyetujui kesepakatan di balai
pulau beberapa waktu lalu. Suku Sanir menginginkan agar petua pulau diganti,
harus berasal dari suku mereka. Karna selama ini, petua pulau yang menjabat
berasal dari suku Maja.
pulau Namo memiliki dua orang yang menjabat petua pulau. Karna akan menimbulkan
perpecahan dua suku.
******
Lampu minyak pondok perahu yang di huni Aona bersama Emak Japo sayup-sayup
menerang. Kadang perahu bergerak kekanan dan kekiri. Tergantung deburan ombak
kecil yang sesekali mengombang-ambingkan perahu. Bulan malam ini meninggi
terang, pohon-pohon kelapa hanya memantulkan bayangan melambai dipinggiran
__ADS_1
pantai. Butiran-butiran pasir yang tersapu angin turut mengikuti perputaran malam.
“Ada yang ingin kutanyakan emak.”
Aonamenoleh ke arah Emak Japo.
“Pejamkan matamu, sudah malam.”
Emak Japo menjawab pelan, sambil menyelimuti Aona. Sepertinya Emak Japo tahu hal
yang akan ditanyakan Aona. Namun kali ini Emak Japo tidak ingin membahasnya.
Mata Aona masih menerawang, entah ucapan laki-laki yang ada di seberang dengan perahu mereka tadi siang sangat mengusik pikirannya, ia seperti kehilangan semangat di dalam hidupnya, jika apa yang
diucapkan laki-laki itu terbukti. Entah siapa yang harus dipercaya ucapan laki-laki itu atau Emak Japo, yang telah hidup bersamanya selama lima belastahun.
Emak mendekatkan kembali lampu minyaknya, seperti biasanya Emak sebelum tidur membaca Al-qur’an,
walau hanya diterangi lampu minyak, sambil tangannya bertasbih, bibirnya terus
berucap. Hembusan nafasnya terus melantunkan dan sepertiga malam ia membasuh
anggota tubuhnya, memakai pakaian yang menutupi seluruh tubuhnya, hingga hanya
terlihat wajahnya saja.
Gerakannya, berdiri, menunduk, dan sujud. Aona hanya mengintip dari selimut kumalnya.
Beberapa kali Emak mengajak Aona, bahkan Aona masih mengabaikannya ia
memilih tidur di bawah selimutnya.
__ADS_1
Bersambung...