JELMAAN

JELMAAN
Episode 34


__ADS_3

Sekar mengirimkan sebuah pesan pada sahabat lamanya yang pernah tinggal di kota itu.


Namun belum ada respon sama sekali. Malam itu juga dengan segala keterbatasannya Sekar mengisi tenaga terlebih dahulu, makan seadanya dengan stok yang di belinya di super market. Hanya membersihkan yang masih ia jangkau dan sesuai kemampuannya. Nyamannya rumah Neneknya dulu agak jauh dari pemukiman lain. Masih harus melewati beberapa perkebunan.


Inilah tempat yang tepat bagi dirinya untuk saat ini.


 


 


     Sebuah pesan yang jarang terbaca dan di mengerti. Sekar kali ini tidur di ranjang peninggalan Neneknya. Kamar itu dingin dan lembab, sengaja ia mematikan seluruh lampu rumah itu agar keberadaannya tak terdeteksi jika rumah itu kembali di huni. Atau ada sekedar orang yang melewati rumah tersebut.


Dulu sekali Sekar dan Ibunya sempat tinggal di tempat itu selama lima tahun. Menginjak usia Sekar enam tahun Neneknya sakit keras  dan akhirnya meninggal. Ibunya dan Sekar ingin pergi dari tempat itu karna tak tahan atas gunjingan warga tentang asal-usul Neneknya dulu.


Sekar tak ingin mengingat kejadian itu lagi, kenangan itu telah ia kubur dalam-dalam tak ingin ia mengingatnya kembali.


.....


"Benarkah Kau Sekar dulu?  Aku Aldi, apa Kau masih mengingat kita kecil dulu?" laki-laki itu mengulurkan tangannya. Sekar menatapnya singkat. Tetangga kecilnya dulu meski hanya dia yang masih ingin berteman dengannya, namun Ibu Sekar melarang Sekar untuk dekat-dekat atau sekedar berteman dengannya. Keluarga anak laki-laki itu yang telah mengumbar tentang aib Neneknya Sekar. Dari situlah Ibunya tak menyukai keluarga mereka.


Sewaktu kecil Sekar dan Aldi bermain sepeda sembunyi-sembunyi di perkebunan jeruk dan padang rumput yang liar sebelum akhirnya Ibunya membawa Sekar berpindah ke tempat lain.


Aldi, ya mungkin itu hanya cerita masa kecil Sekar di kota ini. Sekar memejamkan matanya sesaat menarik selimut dan mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian lebih melewati kelelahan di perjalanan.


.....


Pagi itu gerimis namun tak cukup deras hanya membasahi tanah menjadi lembab dan mengeluarkan aroma dari dedauan yang membusuk menumpuk cukup lama.


Rumah itu sudah sesak di tumbuhi ilalang dan rumput liar, pepohonan yang menjulang kacau dan berantakan. Sekar sengaja membiarkannya supaya keberadaannya di rumah itu tak banyak yang mengetahuinya.


Bangun pagi ini membuat tubuh Sekar menikmati susu hangat dan roti yang di oleh selai almond. Sekar begitu menikmati tiap sudut ruangan rumah peninggalan Neneknya dulu.


Tiba-tiba ada yang mengetuk pintu depan, Sekar turun menuruni anak tangga sebelum itu ia mengintip dari kaca untuk memastikan siapa yang datang. Seorang wanita  menunggu di depan pintu depan.


Sekar membukakan pintu dengan santai.


Wanita itu tiba-tiba menawarkan diri untuk membantu Sekar membersihkan di dalam rumah. Karna memang  sebelumnya wanita itu pernah menjadi asisten rumah tangga Neneknya sewaktu beliau masih hidup.


Wanita itu semalam menceritakan jika ia di datangi Neneknya, menyuruhnya untuk membersihkan rumahnya. Begitulah cerita wanita tua itu tergopoh-gopoh.


Sekar menyuruh wanita itu masuk perlahan. Namun ia memberitahukan jika ia tidak boleh cerita ke siapapun tentang keberadaannya di rumah itu.


"Jangan khawatir, Nenekmu sudah banyak membantu keluarga. Panggil saja saya Mbah Suti."

__ADS_1


"Tapi untuk saat ini belum bisa membayar Mbah Suti, karna kondisi keuangan yang belum memungkinkan." jelas Sekar.


"Mbah, ikhlas membersihkan rumah ini, jangan memikirkan upah." jelas Mbah Suti.


"Tapi Mbah mana mungkin Aku hanya membuatmu mengeluarkan keringat dan kelelahan dalam sia-sia."


Kali ini Mbah Suti menggeleng kuat, memegang tangan Sekar.


"Jika pun Kau masih beranggapan demikian, arwah Nenekmu pasti akan memarahi Mbah."


Sekar menghembuskan nafasnya perlahan.


"Kau sedang hamil? dimana suamimu?"


"Suamiku kecelakaan, Aku berpindah ke rumah ini untuk membesarkan anakku seorang diri. Di luar sangat berbahaya bagi keselamatannya nanti. Maka dari itu, Mbah harus menyembunyikan keberadaanku dari pengetahuan warga di sekitar sini. Jangan ada yang tahu mengenai kepulanganku di rumah Nenek ini."


Mbah Suti mengangguk mengiyakan, dengan lantang ia dapat memegang janji untuk Sekar.


"Kau harus menjaga bayimu, beberapa waktu ini sudah ada dua janin yang menghilang secara tiba-tiba dari perut Ibunya. Kau sebaiknya jangan keluar rumah dahulu." saran Mbah Suti mengelus perut Sekar.


Sekar tiba-tiba merinding tanpa di suruh bulu romanya langsung berdiri, memperjelas cerita Mbah Suti barusan.


"Ada yang mengambilnya?" tanya Sekar gugup.


"Sebaiknya jangan pernah keluar rumah."


Mbah Suti menggeleng pelan.


"Istirahatlah, Mbah akan menyapu dan membersihkan rumah ini. Jika perlu apa-apa panggil saja Mbah. Kau tak perlu memikirkan hal-hal yang aneh untuk saat ini. Jika terlalu ku ceritakan sekarang Kau akan menjadi bebanmu."


Mbah Suti berlalu dari hadapan Sekar dan menuju ruang dapur dan belakang memulai membersihkan ruangan.


Sekar kembali ke kamar dengan di ikuti perasaan yang curiga sekaligus waspada. Kata hatinya kali ini tak tenang, ia merasakan ada seseorang yang telah memasuki dan mengawasi rumah itu dari jauh.


Hingga keberadaannya kali ini mulai tak tenang dan selalu was-was.


Mbah Suti membawa buntalan kain, ia mengeluarkannya dari dalam bajunya. Ia selipkan pada laci lemari sendok dengan cekatan ia menutup rapat laci itu pelan-pelan. Matanya awas mengawasi jika ada yang melihat gerak-geriknya kali ini. Mbah Suti mengambil kembali sapu dan lap kain ia seperti biasa melap kembali meja, kursi dan perlengkapan masak di tempat semula.


Mbah Suti kembali menyapu ruang tengah ia mulai menyelipkan buntalan kain di dalam laci lemari televisi, sorot matanya kesana-kemari memantau jika ada seseorang yang melihatnya. Mbah Suti kembali merapikan bajunya. Ia mulai menyapu di bawah kursi, bufet tua dan lemari kuno yang telah melewati dua generasi, jika Sekar melahirkan di rumah itu maka tiga generasi telah di lewati lemari kuno polos itu.


Mbah Suti melap lantai dengan kain pel, namun ia menemukan sebuah gulungan foto buram di belakangnya tertera tanggal dan jam. Cepat-cepat Mbah Suti memasukkannya ke dalam saku celananya.


Rumah itu memiliki sawang yang sangat tebal, beberapa kali Sekar bersin-bersin, ia masih memakai masker. Meski di dalam kamarnya. Sekar mengintip pergerakan aktifitas Mbah Suti dari lantai atas.

__ADS_1


"Apa yang di sembunyikan Mbah Suti sebenarnya? buntalan kain apa barusan?"


Sekar menatapnya namun membiarkan hal itu untuk sementara waktu, karna ia mencoba menebak, pasti ada maksud dan niat Mbah Suti melakukan hal tersebut.


Sekar mencoba memanggil Mbah Suti.


"Bisakah, Mbah ke pasar, membelikan perlengkapan bahan-bahan memasak di dapur."


Sekar memberikan uang ke pada Mbah Suti.


Mbah Suti mengangguk.


"Tapi setelah saya membersihkan ini semua." jelas Mbah Suti sesaat memotong pembicaraan Sekar.


"Nanti bisa menyapu dan mengepel di lanjutkan setelah pulang dari pasar, Saya lapar." jelas Sekar.


Mbah Suti menuruti kemauan Sekar.


Setelah di pastikannya Mbah Suti keluar rumah dan melewati pagar depan. Sekar dengan cepat membuka laci yang berisi buntalan kain yang di sembunyikan Mbah Suti.


Tangan Sekar kali ini meraba, ternyata benar ada buntalan kain kecil berwarna merah, di dalamnya begitu keras.


Sekar membongkar buntalan kain tersebut ia terkejut setelah membukan ikatan tali buntalan kain merah itu.


Nampak di sana silet, gunting, gunting kuku dan pisau kecil.


"Untuk apa ini? kenapa Mbah Suti melakukan ini?"


 


 


 


 


 


Jangan lupa vote koin/poin, like 5 boom rate, komentar tiap episodenya.


Jadikan favorite, follow ig: zuzanaoktober


Salam JM

__ADS_1


 


 


__ADS_2