
Aryo meninggalkan kamera tersembunyi di beberapa titik rumahnya.
Ia ingin mengetahui setiap kejadian di rumah itu jika selama ia tak berada di rumah.
Sepulang dari laboratorium Aryo ingin bermaksud berkunjung ke rumahnya yang lama, namun rumahnya kini sudah bersegel terjual.
"Wanita tua itu yang melakukannya. Pergerakannya cepat sekali? apa dia bermaksud membeliku? dengan membarter kebebasanku dengan menjual segala yang Aku punya?" gerutuk Aryo melemparkan pandangannya dari dalam mobil.
Kini ia hanya melewati rumahnya saja.
Aryo menuju rumahnya yang baru, memasukkan mobil dalam garasi dan menggantikan pakaian, sudah tak sabar ia ingin mengecek kamera yang ia sembunyikan.
Aryo telah siap dengan rekaman. Namun kali ini kecewa tak ada apapun yang tertangkap kamera. Semuanya sunyi, sepi dan tak ada siapapun.
Tak lama bel teras depan berbunyi.
Aryo melangkahkan kaki dari ruang kerjanya.
Membuka hordeng sesaat, pengantar makanan sudah berdiri di depan pintu.
"Ada yang bisa di bantu?"
laki-laki muda itu memberikan beberapa kotak makanan
"Ini pesanan makan siang dan malam, sesuai pesanan kemarin malam. Saya hanya pengantar. Semuanya sudah di bayar." pamitnya permisi meninggalkan Aryo yang masih mematung.
"Apa istrinya semalam telah memesankannya untuknya kali ini?" Aryo menutup kembali pintu depan.
"Aku telah di dahului istriku, tapi sebenarnya apa yang ia kerjakan di luar sana? Aryo meletakkan semuanya di atas meja makan.
__ADS_1
Aryo mengambil ponselnya ia menelpon seseorang.
"Bisakah kita bicara diluar sore ini? Aku butuh pemikiranmu."
Aryo menutup kembali ponselnya.
.....
Sore itu Aryo menemui rekan di laboratoriumnya.
Menghirup kopi hangat.
"Aku hampir gila di perlakukan oleh wanita tua itu, meski ia telah meninggal, tapi kehidupanku yang ia campuri setelah perjanjian itu membuatku kacau. Pernah terbesit apa istriku itu jelmaan?"
"Kenapa Kau berkata seperti itu?"
jawab Rey.
"Mungkin ada alasan tertentu Ibunya memilihmu."
"Aku belum sempat menanyakannya, tapi ia telah pergi meninggalkan kami, dan meninggalkan teka-teki yang sulit ku selidiki." Aryo kali ini menyeruput kopinya kedua kali.
"Selidiki istrimu? pekerjaan apa yang ia lakukan di luar sana? dan apa yang ia sembunyikan darimu."
"Dia tak pernah membahas apapun tentang itu, Aku harus menyelidikinya ke mana? ia terlalu berhati-hati dalam urusan pribadinya. Berbicara seperlunya saja."
"Jadi untuk apa ikatan pernikahan di antara kalian?"
"Tidak tahulah. Kamera yang sengaja Aku sembunyikan tak bisa merekam apapun? sepertinya ada yang mengontrol rumah itu dari jauh." jelas Aryo singkat.
__ADS_1
"Kau bisa menempelkan pelacak di barang-barang milik istrimu, kalau Kau mau."
"Tapi jika ketahuan akan membuat masalah baru dengan istriku di kemudian harinya."
"Dari pada Kau terus penasaran?"
Aryo mempertimbangkan baik-baik usul Rey tersebut.
"Jangan terlalu banyak pertimbangan."
"Entahlah, kadang ku pikir bersikap acuh saja, tapi batinku menolaknya."
"Pertimbangkanlah lagi keputusanmu." Rey menepuk pindak Aryo.
"Aku juga tak ingin selamanya seperti ini?"
"Justru itu."
"Aku takut dia akan tersinggung, jika Aku sampai ketahuan memata-matainya."
"Jangan terlalu berpikir seperti, atau tanyakan pada istrimu dengan baik-baik saat dia telah pulang."
Aryo mengangguk menyetujui usul rey kali ini.
Untuk pembaca setia JM
Jangan lupa vote Koin/poin sebanyaknya, komentar positif tiap episode dan like 5 boom rate, masukan favorite.
follow ig: zuzanaoktober
__ADS_1
salam
JM