
CHAPTER 10 : MIMPI MORGAN
“ Wahai pelayanku! sekarang akan ku ajari kamu tentang sihir “
“ Sihir? maksudmu aku yang tanpa mana ini belajar sihir? “ jawab Morgan bingung.
“ Tentu saja, ikatan kita sebagai tuan dan pelayan bukanlah perjanjian biasa. Sebagian dari kemampuan telah diturunkan kepadamu, jadi kamu yang tanpa sekalipun akan berhasil mempelajari sihir "
" Mana itu ada di dalam roh, dan apakah rohku diberkahi oleh mana darimu, Putri Thia? " ucap Morgan dengan sedikit keraguan.
Asmothia pun menantang Morgan, dengan penuh keseriusan.
" Baiklah, hari ini kubiarkan kamu berkata seperti itu. Tetapi, besok pagi kamu akan merasakan rasanya mana yang kuat melebihi manusia di kerajaan ini "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Asmothia meninggalkan Morgan untuk memeriksa hutan tempat mereka akan berlatih. Dengan menggunakan kekuatan teleportasinya, dia menghilang dari pandangan. Morgan akhirnya ditinggalkan sendirian di rumah Duma. Merasa bosan, dia memutuskan untuk pindah ke tempat yang lebih sepi dan tenang.
Morgan duduk sendirian di halaman belakang rumah Duma, bersandar di kursi sambil memejamkan mata. Pikirannya mulai melayang dan membayangkan segala hal. Dia membayangkan dirinya berdiri di medan pertempuran, dengan pakaian gagah dan pedang yang kuat tergantung di pinggangnya.
Dengan tangan diangkat ke atas, pedang yang tersemat dalam sarungnya keluar dengan sendirinya, dan Morgan menggenggamnya erat. Merasakan getaran energi kegelapan yang memancar dari dalam dirinya, mengalir melalui setiap urat dan serat tubuhnya. Dalam khayalannya, Morgan memimpin pasukan yang kuat, memanfaatkan kekuatannya yang luar biasa.
__ADS_1
Dia membayangkan dirinya mengayunkan pedangnya, dan tiba-tiba langit terbelah dan memancarkan cahaya hitam pekat. Ia menghentakkan kakinya ke tanah dengan keras, dan sebuah lingkaran sihir besar muncul di langit, memancarkan ribuan tombak. Tombak-tombak itu menghujani musuh-musuhnya di medan perang.s
Tidak puas dengan itu, Morgan melanjutkan khayalannya. Kali ini, ia membayangkan dirinya melayang di udara dengan kekuatan sihirnya. Ia bergerak dengan kecepatan kilat, turun ke medan perang dan menciptakan ledakan besar seperti meteor jatuh.
Dalam imajinasinya, Morgan bisa merasakan kekuatan sihir yang memancar dari setiap pori-porinya. Ia bisa mengubah bentuk dan melebihi batas-batas manusia biasa. Morgan membayangkan dirinya mengalahkan musuh-musuhnya dengan kekuatannya yang dahsyat, menghancurkan dengan berbagai sihir yang kuat.
Saat mulai melangkah maju, dia dihadapkan pada musuh yang kuat. Udara di sekitarnya berubah menjadi racun mematikan. Medan perang itu menjadi kacau balau.
Dalam khayalannya, Morgan melihat pasukannya menderita kekalahan akibat racun yang melanda wilayah itu. Dia membayangkan dirinya menjadi iblis kuat, menggunakan sihirnya untuk mengeluarkan pedang yang tersegel di dimensi lain. Pedang itu memiliki kekuatan tak terbatas, dan ketika segelnya terlepas, seluruh wilayah terkunci oleh kekuatan pedang tersebut.
Morgan melangkah maju dengan pedang kuat di tangan, dan ia mengayunkan pedang itu sehingga menciptakan bencana dahsyat. Langit menjadi gelap gulita, dan racun yang meliputi medan perang perlahan menghilang. Dalam kekuatan gelapnya, muncul raksasa kuat dari dalam awan yang gelap.
Kemampuan sihirnya tak terbatas. Dalam menghadapi musuh-musuhnya, ia menguasai elemen api, air, tanah, angin, kegelapan, dan cahaya. Dia Bahkan bisa memanggil petir dan menciptakan jutaan pasukan abadi. Ditambah juga mampu menghilang dan muncul kembali dengan cepat, seperti bayangan yang tidak terlihat.
Dalam khayalan lainnya, Morgan memiliki bawahan yang setia padanya. Mereka bekerja sama membantu Morgan dalam tugas-tugasnya dan dalam pertempuran. Bersama-sama, mereka mengalahkan setiap musuh yang ada di depan mereka. Musuh tersebut adalah kerajaan cahaya yang pernah menyiksa kehidupan Morgan. Dengan kekuatan yang dimilikinya, kehidupannya berubah drastis.
Ditengah-tengah khayalannya, suara seorang gadis menggema di telinganya.
“ Morgan! Morgan! Morgan! “
__ADS_1
Morgan membuka mata, melihat Asmothia berdiri di dekatnya. Telinganya ditarik membuatnya berteriak, “ Aduh…! “
“ Kamu ini… tidak bisa dengan mudah menjadi jenderal iblis begitu saja. Dibutuhkan usaha yang keras untuk menjadi salah satu jenderal, bukan hanya sekadar bermimpi seperti itu! “
Dengan kebingungan penuh kebingungan Morgan bertanya, “ Putri Thia, sejak kapan anda disini? “
“ Hahaha. Sejak kamu bermimpi tentang berdiri di medan perang dengan pedang membelah langit “ sambil kedua tangannya mencubit pipi Morgan.
Lalu tangannya di taruh di pinggang, dengan penuh kepercayaan diri berteriak keras
“ Dalam kondisi sekarang, kamu tidak akan bisa mengendalikan sihir sekuat dalam mimpi, kondisi fisikmu harus dilatih keras agar mampu menopang tekanan mana yang memenuhi seluruh tubuh. Oleh karena itu, besok waktunya latihan memperkuat fisikmu dahulu “
Akhirnya, pada siang itu, Morgan menerima teguran dari hingga sore. Asmothia tahu bahwa mimpi-mimpi yang tinggi seringkali menjadi motivasi seseorang untuk menjadi lebih baik. Namun, terkadang keasyikan dalam bermimpi bisa membuat seseorang lupa akan tanggung jawabnya dan menjadi pemalas. Asmothia dengan bijaksana, bertanggung jawab dalam membuat Morgan menjadi lebih kuat.
Hari semakin beranjak menuju senja, dan mereka semua merasa butuh istirahat di kamar masing-masing. Di tengah ketenangan kamar, Morgan duduk sendiri, merenungkan segala kejadian yang terjadi hari ini, memeriksa setiap kesalahan yang dilakukannya dengan teliti. Sementara itu, Asmothia masih terjaga, memperhatikan Morgan yang tengah terbenam dalam pemikirannya.
Tiba-tiba, Asmothia dengan lembut memecah keheningan, suaranya melambung dengan kata-kata bijak, " Jangan biarkan dirimu terlalu terhanyut dalam keraguan. Teguran yang kuberikan tidaklah untuk meruntuhkan semangatmu, sebaliknya, itu adalah sebuah motivasi. Namun, jika kamu menganggapnya sebagai sebuah kesalahan, itu artinya kamu belum benar-benar siap menerima pelatihan sihir "
Ketika ucapan itu terlontar, kelelahan akhirnya menguasai Asmothia, dan dia pun tertidur dengan lelap, meninggalkan Morgan dengan kata-kata bijak itu menggema di ruangan. Dalam keheningan malam, Morgan merenungkan pesan Asmothia, menghela nafas lega, dan memutuskan untuk menjadikan teguran tersebut sebagai tonggak awal untuk perubahan dan pertumbuhan yang lebih baik di masa depan.
__ADS_1
Morgan akhirnya merasa mengantuk, ia menyusun tempat tidurnya dengan rapi sebelum akhirnya terlelap. Waktu bergulir dan pagi pun tiba, tanda bagi Morgan untuk bangun dan menyiapkan sarapan pagi. Seperti rutinitasnya, ia dengan teliti menyiapkan makanan dengan segala bumbu dan bahan yang ada, hingga semuanya sudah tersusun di atas meja dengan sempurna. Saat itu pula, Asmothia memasuki dapur dengan mata yang masih setengah terpejam, mencerminkan rasa kantuknya yang masih menyelimutinya.
Ketika pandangannya jatuh pada meja yang teratur dengan sempurna, kantuk Asmothia lenyap begitu saja. Matanya terbuka lebar, tak sabar ingin merasakan kelezatan hidangan yang menggoda itu. Dengan gesit, ia membalikkan piring-piringnya, mengambil setiap hidangan dengan porsi yang melimpah. Kejadian ini masih bisa membuat Morgan terkejut, meskipun sudah pernah ia saksikan sebelumnya.