
CHAPTER 31: KEHIDUPAN BARU
Setelah makan siang selesai Asmothia mendekati Morgan dengan serius. Dengan nada lembut, ia berkata, " Bisakah kamu ikut aku sebentar? Ada yang ingin kubicarakan "
Morgan, meskipun tidak sepenuhnya mengerti maksudnya, menanggapinya dengan serius, " Baiklah, Putri Thia "
Morgan mengambil waktu sebentar untuk berpamitan dengan kepala desa sebelum mengikuti Asmothia. Mereka meninggalkan rumah kepala desa dan menuju ke arah sungai. Asmothia melangkah ke kanan, membawa mereka ke jembatan yang menghubungkan daratan dengan sungai. Morgan yang penasaran bertanya, " Putri Thia, sebenarnya kita akan ke mana? "
" Kita akan berjalan-jalan sebentar dan melihat tempat di mana dulu aku sering bermain " Jawab Asmothia dengan tenang.
Tiba-tiba, Asmothia mendekati sebatang rumput ilalang dan memetik salah satu tangkainya. Dengan cepat, ia berlari menuju Morgan sambil menyembunyikan bunga ilalang di belakang punggungnya. Ketika sudah berada di depan Morgan, Asmothia bertanya dengan ceria, " Kamu ingin tahu bagaimana cara bermainku? "
Morgan, penuh keyakinan, mengira Asmothia akan bermain perang ilalang seperti anak-anak di desa. Dengan antusias, ia menjawab, " Tentu saja! "
Ekspektasi Morgan tidak terpenuhi saat Asmothia menunjukkan kepadanya bulu ilalang. Namun, Asmothia tetap tersenyum dan dengan usil mengarahkan bunga ilalang yang lembut itu ke telinga Morgan. Seketika itu, Morgan terkejut dan segera berlari menjauh. Namun, Asmothia mengejarnya sambil tertawa, dan Morgan terus berlari menuju padang rumput. Setibanya di rumput yang lembut, Asmothia melompat menangkap Morgan sehingga keduanya terjatuh bersama. Asmothia tertawa bahagia, " Sudah lama sekali aku tidak bermain seperti ini "
__ADS_1
Meskipun awalnya kesal, melihat wajah ceria Asmothia membuat Morgan ikut bahagia. Dia bertanya, " Apakah ini yang disebut bermain, Putri Thia? "
Asmothia, yang berbaring terlentang, memiringkan tubuhnya menghadap Morgan. Kemudian dia tersenyum dan menjawab, " Ya, bukankah menyenangkan? Biasanya aku bermain dengan Nyx dan kedua saudarinya. Tapi sekarang aku bersamamu sebagai pelayanku, seakan-akan aku ingin terus bermain seperti ini "
Morgan bangkit duduk dan memandang langit biru yang indah. " Ini juga pertama kalinya saya bermain seperti ini, ternyata menyenangkan. Jika Putri Thia ingin bermain lagi, bisakah saya diundang lagi? "
Ajakan Morgan membuat Asmothia merasa berbunga-bunga, hatinya seakan meledak. Dia bangkit duduk, merentangkan jari kelingkingnya ke depan, dan berteriak, " Janji, ya! "
Angin segar menerpa mereka di padang rumput, sementara cahaya matahari membuat pemandangan sekitar menjadi lebih cerah. Asmothia menanyakan dengan suara pelan, " Apakah kamu ingat apa yang terjadi sebelum kita berada di desa ini? "
Morgan memandang Asmothia yang juga melihat ke langit, merasa sedih dalam hati, ia menjawab, " Saya masih ingat saat menyelamatkanmu, juga saat saya tinggal di rumah Duma. Aku juga ingat saat kamu menyelamatkan saya dari kesatria legenda Kerajaan Cahaya, dan saat kita bertarung melawan naga laut. Namun, aku kehilangan ingatan setelahnya, tiba-tiba tersadar berbaring di tempat tidur "
Morgan duduk menghadap Asmothia, kepalanya menunduk, " Putri Thia, saya sangat berterima kasih atas segala yang telah Anda berikan kepada saya. Sebelumnya, saya hanyalah manusia biasa. Kehidupan yang saya alami selalu penuh dengan kesengsaraan. Kekuatan saya juga tidak seberapa, satu-satunya kelebihan hanyalah ingatan yang sangat baik. Tidak ada hal istimewa lainnya dalam diri saya. Namun, setelah bertemu dengan Putri Thia, kehidupan saya berubah. Dari kekuatan hingga kebahagiaan, semuanya berkat Anda "
Asmothia terdiam, merenung. Morgan merasa khawatir, jadi dia mencoba menenangkannya. Namun, saat akan memberikannya semangat, Asmothia tiba-tiba berteriak keras, " Hahaha, akhirnya pelayanku mengakui kehebatanku! "
__ADS_1
Asmothia cepat berdiri, kedua tangannya diletakkan di pinggang. Dengan penuh kesombongan, dia berkata, " Wahai pelayanku, sekarang kamu telah menjadi iblis murni. Kekuatanmu juga meningkat. Sekarang, latihanmu akan menjadi lebih keras. Persiapkan dirimu! "
Setelah itu, mereka melanjutkan berjalan-jalan di sekitar padang rumput. Di sana, terdapat hutan yang masih terjaga dengan baik, penuh dengan keindahan dan keanekaragaman hewan. Bahkan, ada beberapa monster lucu yang berkeliling di sana. Di dalam hutan, terdapat sebuah kolam kecil yang airnya tidak pernah surut. Mereka terus menjelajahi dan melihat lebih jauh, hingga mereka bisa melihat pegunungan es yang terletak di kejauhan. Saat mereka berjalan cukup jauh, mereka tiba di sebuah tempat yang dipenuhi oleh pohon-pohon es. Setiap pohon di sekeliling tempat itu terbuat dari es, dengan suhu mencapai -40 derajat Celsius. Morgan mencoba memasuki wilayah es tersebut. Di dalamnya, udara begitu dingin sehingga menusuk kulit. Tumbuhan-tumbuhan dengan aura mengerikan juga tumbuh di sana, dan berbagai patung prajurit iblis membeku terlihat berbaris di setiap sudut. Tubuh Morgan mulai menggigil, nafasnya yang hangat berubah menjadi embun salju. Tangannya gemetar dengan keras, dan kakinya pun menjadi goyah. Asmothia mendekati Morgan dan berkata, " Bagaimana suhunya? Dingin ya? "
" Hah? Ini bukan sekadar dingin, tapi sangat dingin " jawab Morgan sambil menggigil.
Asmothia tersenyum sinis, " Di sinilah tempat latihanmu sekarang. Mulai besok pagi, datanglah ke sini untuk berlatih bersamaku "
" Apa?! Anda tidak bercanda, kan? Suhu di sini sangatlah dingin " ucap Morgan dengan ekspresi kaget.
Asmothia berjalan di depan Morgan sambil berkata, " Kamu beruntung dilatih olehku. Jika yang melatihmu adalah Tuan Frost, suhu ini bukan apa-apa baginya. Sebaiknya jangan banyak mengeluh, karena besok aku akan tidak akan menerima keluhanmu. Paham? "
Morgan mencoba bertahan dalam dingin yang membelenggu dirinya. Tiba-tiba, kakinya terasa lemas dan ia pun jatuh ke tanah. Rasa dingin tersebut merasuki tulang-tulangnya, membuat kepalanya terasa berat akibat suhu yang semakin meningkat. Di atas batu es, Asmothia duduk dengan santainya, tanpa merasakan efek dingin yang melanda. Morgan melihat hal tersebut dan menjadi penasaran, " Putri Thia, ba-bagaimana Anda bisa tetap bertahan? "
Asmothia menyuruhnya untuk diam dengan isyarat dari jari telunjuknya. Lalu, dengan tiupan lembut dari nafasnya yang hangat, Morgan dikelilingi oleh angin yang memberikan kehangatan. Rasa dingin itu sedikit mereda.
__ADS_1
" Wahai pelayanku, jika kamu saja tidak bisa menahan rasa dingin, bagaimana dengan hal-hal yang lebih besar, seperti api, petir, atau racun? Akan kupermudah sedikit, aku memberimu waktu sampai penduduk membunyikan lonceng yang pertama. Selama lonceng belum berbunyi, berusahalah untuk beradaptasi. Jika saat latihan kamu masih tidak dapat berdiri tegap, hukumanmu adalah tidur di sini semalam. Hukuman tersebut akan berlanjut jika kamu terus gagal untuk beradaptasi " kata Asmothia.
(Waktu yang dibutuhkan sebelum lonceng berbunyi adalah 7 hari 7 malam. Setelah hari itu selesai, penduduk akan membunyikan lonceng untuk memperingati hari suci leluhur iblis.)