
CHAPTER 20 : KEMUNCULAN AZAZEL
Morgan tidak dapat menggerakkan tubuhnya sama sekali, tangan dan kakinya sudah tidak utuh lagi. Sihir penyembuhan tidak berguna, sihir angin tidak berfungsi, anggota tubuhnya sudah tidak lengkap lagi. Tidak ada hal yang dapat dilakukan lagi oleh Morgan, hanya ajal yang menantinya di depan. Kedua naga itu mendekat, berkata padanya,
“ Manusia lemah, Apakah kau punya kata-kata terakhir sebelum kusantap? “
“ Hahaha.. “ Morgan tertawa pelan.
“ Kenapa tertawa? Ingin cepat mati, ha! “
Morgan menggerakkan bibirnya yang sudah hampir mati rasa, “ Mengatakan aku manusia lemah, tapi membunuhku saja tidak bisa. Dasar naga lemah! “
Naga yang lain mendekat juga, wajahnya sangat murka,
“ Banyak bicara! “
Dengan taringnya yang kuat, di gigitnya tubuh Morgan tepat mengenai jantungnya. Asmothia dari kejauhan merasakan jantungnya juga kesakitan, rasa sakit yang diderita Morgan juga ikut dirasakannya.
__ADS_1
“ Morgan! Morgan! Jangan mati! “ teriaknya keras sambil menahan sakit di jantungnya.
Tidak berselang lama, rasa sakit itu menghilang. Tangan Asmothia yang menggenggam erat, lemas tak berdaya. Air matanya keluar dengan derasnya, ikatan sumpah yang sudah menyatu terputus. Lalu, tangisnya langsung pecah pada saat itu juga, dengan rasa berat pada hatinya. Ia menarik tubuh Morgan yang masih mengapung di laut menggunakan sihirnya. Saat tubuh itu tiba di dekatnya, Asmothia meratap dalam keheningan yang menyayat hati. Tubuhnya terhuyung, kehilangan kekuatan saat menyaksikan Morgan tergeletak tak bernyawa di hadapannya. Air mata deras mengalir dari matanya yang penuh dengan rasa penyesalan.
" Dia sudah mati... Morgan… "
Gumam Asmothia dengan suara serak, suaranya terdengar rapuh dan penuh duka. Ia memegang jantungnya yang terasa berat, seolah-olah tangisan dalam dirinya tidak dapat membebaskan penderitaannya.
Batin Asmothia dipenuhi oleh rasa bersalah yang membakar hatinya. Merasa bahwa telah gagal melindungi pelayan yang setia, ia menyalahkan dirinya sendiri.
" Ini semua kesalahanku… Aku tahu ini adalah ujian, namun manusia tetaplah rapuh. Seharusnya dari awal aku membagi tugasnya agar bisa melindunginya, tapi apa boleh buat. Ujian kali ini mengalahkan dua naga air, yang dimana manusia bukanlah tandingannya. Seharusnya aku tahu itu… " lirih Asmothia, suaranya terdengar terputus-putus.
" Putri Thia, janganlah bersedih lagi. Aku akan selalu bersamamu, kapanpun dan dimanapun " ucap Nyx sambil memeluk Asmothia.
Asmothia membalas pelukan tersebut, dan ia menangis dengan semakin deras. " Nyx! Semua ini adalah salahku. Aku yang ceroboh " serunya. Nyx memeluknya dengan erat, memberikan jawaban lembut, " Putri, ini bukanlah kesalahanmu. Juga bukan kesalahan Morgan. Tetapi ini adalah ujian yang diberikan oleh para tetua leluhur kita. Seorang pelayan seperti Morgan pasti akan berjuang demi dirimu. Aku percaya bahwa dia belum menyerah "
Nyx terus memberikan semangat dan ketenangan pada Asmothia. Beberapa jam kemudian, Asmothia mulai merasa sedikit lebih tenang.
__ADS_1
Di sisi lain, setelah mati di dunia luminos, Morgan tiba-tiba terbangun di suatu tempat yang tidak dikenal baginya. Sejauh mata memandang, hanya ada batuan besar dan api yang melahap segalanya. Langit berwarna merah terbakar, menciptakan suasana yang suram. Namun, anehnya, tubuh Morgan tidak terluka meskipun terkena bara api. Kemudian, angin tiba-tiba bertiup dengan kencang, menyebabkan batuan-batuan meleleh menjadi magma cair. Dunia ini berubah dengan tiba-tiba menjadi sebuah ruangan yang luas, dengan dinding, lantai, dan atapnya terbuat dari pahatan batu. Di seluruh ruangan, baik di dinding, lantai, maupun atap, terukir gambar-gambar ritual yang menampilkan kambing yang dikorbankan oleh manusia. Patung-patung manusia berkepala kambing berdiri tegak di sepanjang dinding, masing-masing membawa senjata seperti pedang, tombak, dan kepala manusia. Ketika Morgan melihat ke belakang, ruangan tersebut berubah menjadi lorong yang panjang. Namun, ketika pandangannya kembali ke depan, di hadapannya ada seorang wanita yang mengenakan gaun hitam dengan kepala tertutup oleh kain hitam.
" Ikuti aku, Morgan Wolfe " ucap wanita itu sambil melangkah ke depan.
Morgan mengikutinya sambil bertanya, " Di mana aku berada? Dan mengapa kamu tahu namaku? " Sepanjang perjalanan, Morgan tak henti-hentinya bertanya, " Kenapa aku berada di sini? Di mana Asmothia? Apakah aku sudah mati? Siapa kamu? Dan mengapa pakaianku berubah menjadi jubah hitam? " Namun, tiba-tiba Morgan tidak bisa berbicara lagi, suaranya hilang dan mulutnya terkunci rapat.
" Kita akan segera memasuki ruangan yang sakral, di sana suara selain Yang Mulia dilarang " ucap wanita itu, lalu melanjutkan langkahnya menuju gerbang raksasa di depan. Di kedua sisi gerbang, ada penjaga yang sama besarnya dengan gerbang itu sendiri, berwujud manusia berkepala banteng. Wanita itu mengangkat tangan kirinya, dan kedua penjaga membuka gerbang tersebut. Suara deru keras terdengar saat gerbang terbuka perlahan, menampakkan apa yang ada di dalamnya. Dan di depan mata terbuka ruangan yang sangat luas. Di setiap sisi ruangan, terdapat prajurit bertanduk dengan sayap hitam. Namun, yang paling mencolok adalah sosok yang duduk di ujung ruangan tersebut. Sosok itu merupakan manusia berkepala kambing yang sangat besar, dengan kedua tangannya menyangga kursi singgasana. Sayapnya yang besar terbentang di belakangnya. Di sisi kanan dan kiri singgasana, terdapat tujuh iblis, termasuk malaikat jatuh.
Wanita itu berlutut dan menyembah sosok yang duduk di singgasana, sedangkan malaikat jatuh yang berdiri di dekatnya mengarahkan tangannya ke arah Morgan. Tubuh Morgan bergerak bukan atas kemauannya sendiri, berjalan melangkah maju tepat di depan singgasana itu. Morgan berlutut dan menyembah sosok tersebut. Seorang iblis berzirah besi mendekati Morgan, memegang dagunya dan memaksanya untuk menatap ke arah singgasana. Morgan melihat sosok itu dengan jelas, tubuhnya terasa seperti ingin meledak. Matanya mulai menghitam, dan muncul ingatan tentang kematian Morgan di sana. Ingatan itu berubah menjadi penglihatan tentang dua naga laut yang merenggut nyawanya. Dalam penglihatan tersebut, kedua naga itu berkumpul di tengah laut bersama naga-naga lain yang lebih kuat, merayakan kemenangan mereka atas manusia sambil menghina para iblis.
Sosok itu bertanya pada Morgan dengan suara yang terdengar seperti jutaan orang berbicara bersamaan, " Apa penyesalan terbesarmu? "
" Saya melanggar sumpah pada Putri Thia " jawab Morgan tanpa menyembunyikan apapun.
Penglihatan berlanjut, menunjukkan Asmothia memeluk jasad Morgan, menangis sedih di pelukan Nyx, dan mengungkapkan penyesalannya berulang kali. Sosok itu berdiri dari singgasananya, kemudian berjalan ke arah Morgan yang masih berlutut. Tangan sosok itu memegang kepala Morgan sambil berkata, " Ingatlah namaku, Azazel. Kau akan hidup kembali dengan tubuh yang baru, kekuatan yang baru, dan ikatan yang baru. Bersumpahlah untuk selalu setia padaku, Azazel, Raja Iblis Hellbert, dan kepada Putri Mahkota kita "
" Aku bersumpah " jawab Morgan.
__ADS_1
Tubuh Morgan mulai bersinar, lalu pecah menjadi butiran cahaya terang. Cahaya tersebut perlahan-lahan berubah menjadi bola api yang membara dan naik ke atas dengan cepat seperti kilat.
Sementara itu, Asmothia masih memeluk jasad Morgan yang telah meninggal, terus menangis dalam kepedihan. Tiba-tiba, langit ditutupi oleh awan gelap dan petir yang menyambar di dalamnya. Cahaya yang menyinari wilayah laut berubah menjadi merah, dan air laut berombak hebat seolah terjadi getaran dahsyat. Angin kencang mulai berputar di tengah laut, membentuk pusaran air raksasa. Awan hitam yang pekat berputar searah jarum jam, sementara cahaya merah memancar melalui awan, mengungkapkan sosok manusia raksasa berkepala kambing yang memantau lautan. Suhu yang sejuk berubah menjadi panas yang menyengat, hampir membuat air laut mendidih. Para naga yang berkumpul melihat langit yang aneh itu, sisik mereka tak mampu menahan panas yang membakar kulit mereka.