
CHAPTER 16 : UNDANGAN YANG BERAT 2
“ Oh, bagus, untuk membuktikan semua yang kau katakan benar, hadapilah aku dengan segala tekadmu " jawab Raja Hellbert.
Morgan belum sempat menjawab perkataan Raja, seluruh tempat itu berubah menjadi koloseum. Raja Hellbert dan Morgan berhadapan pada jarak yang jauh, hanya mereka berdua yang berdiri di tengah, sedangkan para jenderal duduk di tempat penonton. Debu pasir terbang menghiasi tanah yang mereka pijak, tempat itu sangat luas untuk mereka berdua.
" Morgan, sekarang kuberi pilihan padamu. Bertarung atau mati " ucap Raja Hellbert.
Morgan menutup matanya, berusaha menenangkan diri. Dengan segala yang telah dipelajarinya dari buku dan arahan Asmothia, Morgan berkata dengan lantang, " Aku tidak bisa mengingkari janjiku pada Putri Thia. Meskipun harus bertarung sampai mati, bahkan melawan Raja Iblis sekalipun, aku akan tetap bertarung! "
" Bagus. Dan satu lagi, pilihlah senjata yang paling kau kuasai. Namun, sekali senjata itu tersentuh, pertarungan akan dimulai "
Kemudian, beberapa senjata tingkat tinggi muncul di depan Morgan. Terhampar di hadapannya pedang, tombak, busur, crossbow, kapak, palu, dan tongkat sihir yang semuanya ditempa dengan batu topaz. Morgan memperhatikan dengan semua pilihan senjata yang ada, mengingat segala ilmu yang telah dipelajarinya. Dari buku-buku yang pernah ia baca serta arahan dari Asmothia, Morgan juga memiliki keahlian dalam menggunakan pedang dan mengendalikan kekuatan tongkat sihir, meskipun pada saat itu Morgan masih belum memutuskan kekuatan mana yang akan digunakannya. Akhirnya, dengan penuh keyakinan dua senjata dipilih, yaitu pedang dan tongkat sihir. Ketika jari-jarinya menyentuh kedua senjata tersebut, semua senjata lainnya menghilang seketika. Tiba-tiba, Raja Hellbert sudah berada di depannya dengan gerakan yang cepat, dan Morgan dengan refleks segera melompat mundur. Namun, satu pukulan yang kuat mengenainya menghasilkan ledakan dahsyat yang menghantam Morgan, melemparkannya dengan ganas hingga terhempas ke ujung dinding arena.
Morgan menahan serangan itu dengan menggunakan pedang serta sihir dari tongkat sihirnya, dan ia berhasil berdiri tanpa luka serius. Tongkat sihir yang ada pada tangan kirinya diangkat ke atas, menyebabkan kristal cahaya bersinar di ujungnya. Angin di sekitar mereka berubah menjadi badai yang mengamuk, dan Morgan langsung melangkah maju di atas angin. Pedang di tangannya yang kanan diayunkan ke arah Raja Hellbert, sementara tongkat sihir di tangan kirinya mengendalikan angin menjadi serangan berupa sayatan angin yang tajam. Namun, semua serangan itu ternyata hanya melewati Raja Hellbert. Morgan terkejut karena tak pernah membayangkan bahwa serangannya tak mampu mengenai lawannya. Raja Hellbert menjentikkan jari, dan waktu di sekitar arena berhenti. Morgan yang baru saja menyerang di udara terapung di tempat tanpa bisa bergerak.
__ADS_1
Raja Hellbert mendekati Morgan, lalu mencekik lehernya sambil berkata, "Jauh dari ekspetasi. Sepertinya harapanku padamu terlalu tinggi "
Morgan tak bisa bergerak, seluruh tubuhnya terhenti. Ia berusaha dengan segala cara untuk melepaskan diri, namun sia-sia semuanya. Napasnya tersengal-sengal, kesulitan menghirup udara ke paru-parunya. Meskipun demikian, Morgan tidak ingin mati dengan mudah; tekadnya masih menyala kuat untuk tetap melawan.
" Pasti ada jalan... Aku tidak bisa terus seperti ini. Semua harus berubah! " gumam Morgan dalam pikirannya. Kemudian, sebuah ingatan saat Asmothia memulai perjanjian sumpah antara tuan dan pelayan muncul di benaknya..
senyuman Asmothia terlintas di pikiran Morgan, senyuman yang begitu tulus dan penuh pengertian. Asmothia memegang erat kedua tangan Morgan sambil berkata dengan lembut, “ Sekali lagi, apakah kamu mau menjadi pelayanku? Aku akan melindungimu dan membangkitkan mana di dalam rohmu. Aku akan melatihmu menjadi manusia terkuat di antara manusia, dan manusia terkuat diantara para iblis “. Wajah Asmothia terpatri dengan jelas dalam ingatan Morgan, dan kata-katanya merasuki hatinya dengan begitu dalam. Di dalam kegelapan matanya, terang yang bercahaya muncul. Asmothia terlihat berdiri tegak, kedua tangannya menengadah. Di atas telapak tangannya, nyala api merah berlambangkan iblis kemarahan. Lalu, dengan suara yang lembut, ia berkata,
" Ikatan kita bukanlah sekadar sumpah belaka. Kekuatan sihirmu telah bangkit, maka gunakanlah semua pengetahuan yang selama ini terpendam "
“ Superpower “
Saat ini lehernya masih tercekik oleh Raja Hellbert, dan napasnya masih tidak teratur, mata Morgan berubah menjadi hitam dengan kornea yang berwarna merah. Lingkaran sihir berwarna putih muncul di sekitar tubuhnya, dan tangan Raja Hellbert mulai terbakar, asap keluar mengikis lapisan sarung tangan. Morgan melanjutkan membaca baris sihir tersebut,
“ Petir suci “
__ADS_1
Tangan Raja Hellbert semakin terbakar, hingga akhirnya ia melepaskan cengkeramannya dan Morgan terlempar jauh. Kemudian, sebuah petir besar menyambar Raja Hellbert, menyebabkan ledakan dahsyat. Arena sekitarnya hancur berantakan, para jenderal iblis dan pasukan yang menyaksikannya menjauh dari lokasi. Namun, tidak lama kemudian, petir yang lebih besar menyambar dengan kekuatan yang lebih dahsyat, menyebabkan ledakan yang tak terelakkan. Percikan api menjalar ke seluruh arena, merusak segala sesuatu yang terbuat dari sihir iblis, seolah mencair seperti besi yang meleleh.
Hefei menciptakan penghalang untuk melindungi semua orang yang menyaksikan pertarungan itu, sehingga tak ada yang terluka. Para iblis yang menyaksikan terpaku akan hebatnya sihir suci itu. Tidak ada kata-kata yang terucap dari mereka. Asap tebal menyelimuti arena pertarungan, dan mereka semua menanti dengan tegang keadaan Raja Hellbert. Lambat laun, asap tebal itu mulai menghilang, dan dengan samar-samar, bayangan Raja Hellbert muncul. Dan benar saja, ketika asap tebal itu menghilang sepenuhnya, Raja Hellbert tidak terluka sedikit pun, bahkan tidak bergerak dari tempatnya berdiri.
Raja Hellbert tersenyum, lalu meninggalkan arena tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Morgan telah menggunakan sihirnya yang menguras hampir semua mana yang ia miliki, sehingga tubuhnya terasa sangat lelah. Nyx beserta kedua gadis yang bersamanya segera melakukan teleportasi ke tempat Morgan yang tak mampu bergerak, memberikan pertolongan dengan cepat. Kedua tangan Nyx memegang pipi Morgan, sambil berkata,
" Yang Mulia telah mengakui keberadaanmu, sebaiknya segera kembali ke Luminos. Putri Mahkota pasti sangat khawatir akan keadaanmu "
Morgan sudah tidak sanggup lagi untuk berbicara, namun wajah Nyx tersenyum memahami maksud yang ingin disampaikan olehnya. Kekuatan iblis bersinar di permukaan tanah, dan semuanya menjadi gelap gulita. Morgan berdiri di tengah kegelapan itu, sendirian tanpa ada siapapun. Namun kedua gadis yang bersama Nyx menarik tangan Morgan dan berlari menuju cahaya, dan Morgan pun terbangun. Dengan melihat atap yang begitu akrab, Morgan mencoba perlahan menggerakkan tangannya. Ia merasakan ada sesuatu yang kuat yang menggenggam telapak tangan kirinya, dan saat menoleh, terlihatlah tangan kecil yang memegangnya erat. Saat melihat lebih jelas, di samping tempat tidur, tampak Asmothia duduk, dan di dekatnya terdapat sebuah ember dan kain bersih.
" Putri Thia, apa yang sedang kamu lakukan? " ucap Morgan dengan penuh keheranan.
Asmothia tersenyum, namun air matanya jatuh dengan deras. " Pelayan bodoh, sudah membuatku sangat khawatir, dan sekarang kamu bertanya tentang apa yang sedang kulakukan? "
Sambil mengusap air matanya, ia terus menangis. Morgan segera bangun dari tempat tidur dan mendekatinya, mencoba menenangkannya.
__ADS_1