Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Ritual Pembangkitan 2


__ADS_3

CHAPTER 25 : RITUAL PEMBANGKITAN 2


" Aku menunggu hasil yang memuaskan " ucap Tetua.


Tetua Iblis berdiri di dekat lubang raksasa, tangannya menepuk sekali. Delapan pelayan muncul melalui teleportasi, mereka berbaris rapi membawa mangkuk-mangkuk yang berisi darah. Para pelayan berdiri di hadapan delapan patung penyiksaan kekal tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Tetua Iblis memanggil Asmothia untuk berdiri di sisinya. Setelah Asmothia berdiri di samping Tetua, seorang pelayan muncul melalui teleportasi. Dengan kedua tangannya, pelayan itu membawa nampan yang dilapisi dengan kain putih. Di atas nampan tersebut terdapat sebuah pisau hitam yang dihiasi lambang Azazel. Tetua Iblis berkata pada Asmothia,


" Ambil pisau ini, sayatlah ujung jarimu. Setelah tersayat, teteskan darahmu pada mangkuk emas yang berisi darah tetua naga laut serta leluhur "


Asmothia melaksanakan perintahnya. Ia mengambil pisau tersebut dan menggoreskan pada jarinya. Ketika pisau itu menyentuh kulitnya, mata raksasa muncul di langit, dan energi gelap mulai bersinar. Salah seorang pelayan datang membawa mangkuk emas, dan darah kental memenuhi mangkuk tersebut.  Ketika Asmothia meneteskan darahnya, suasana berubah menjadi mencekam. Langit yang semula cerah menjadi gelap, ditutupi oleh awan hitam yang menggelapkan cahaya di langit. Angin bertiup dengan kencangnya, membawa aroma darah yang menusuk hidung. Gemuruh guntur bergema di kejauhan, mengiringi suara teriakan yang penuh dengan rasa sakit dan penderitaan. Api yang semula merah menyala berubah menjadi ungu yang membara, memancarkan panas di tingkat tertinggi. Suasana menjadi begitu panas sehingga besi pun menyala. Cahaya merah yang menyinari sekeliling berubah menjadi merah gelap, menciptakan aura kegelapan. Hujan es dan api turun dengan derasnya, mengguyur semua tempat. Tiap tetes hujan es menciptakan suhu dingin ekstrem dan membekukan apapun, sementara tetesan api menghanguskan segala yang ada di sekitarnya dan melelehkan es.

__ADS_1


Hujan es dan hujan api turun dengan intensitas tinggi membuat suasana di lapisan kedelapan neraka menjadi sangat tidak seimbang, menyebabkan bencana di seluruh wilayah. Badai api terbentuk dan melanda istana tempat ritual berlangsung, mengirimkan nyala api yang membara dan memercik ke segala arah. Kobaran api menjalar di sepanjang lorong-lorong istana, membakar dinding serta perabotan yang ada. Sementara itu, hujan badai berupa es yang deras dan tajam membekukan bagian dalam istana. Butiran-butiran es besar membentuk jarum-jarum besar, merobek atap-atap, membekukan patung-patung, dan segala yang ada di sekitarnya. Dingin yang menusuk tulang merasuki udara, membekukan udara yang tersisa dan mengubah setiap tetesan darah menjadi kristal yang rapuh. Di tengah keganasan bencana ini, Frost dan Hefei, dua jenderal yang setia melindungi Asmothia, berdiri di depannya. Frost, dengan kekuatan beku yang memadat di sekitarnya, membentuk perisai es yang kokoh di sekeliling Asmothia. Perisai tersebut memantulkan serangan-serangan hujan es dan menghancurkan mereka sebelum  bisa mencapai Asmothia. Sedangkan Hefei, dengan penguasaan peperangan menguatkan benteng pertahanan Asmothia menjadi lebih kuat. Semua yang ada disana berusaha melindungi diri dari bencana hebat itu, karena kekuatan dari bencana itu setara dengan kekuatan dewa.


Sementara itu, para pelayan yang membawa mangkuk, terperangkap dalam badai es dan terbakar oleh kobaran api yang membara. Mereka membeku di tempat, tubuh mereka terbungkus oleh lapisan es, sementara api bersuhu tinggi membuatnya menjadi butiran-butiran kristal. Tetua iblis, melihat kehancuran yang terjadi, merapalkan mantra dengan suara yang menggelegar,


" Perintah mutlak! Pelahap dunia! "


Saat mantra itu terucap, kekuatan hitam bangkit dari dalam dirinya. Langit yang tadinya berawan menjadi gelap gulita, menyelimuti seluruh dunia di neraka lapisan ke-8. Kemudian, dari langit yang gelap, muncul kepala raksasa berwarna hitam. Kepala tersebut membuka lebar mulutnya, menampilkan gigi-gigi tajam. Lalu, mulai menghisap dan melahap semua bencana yang terjadi. Seperti mesin penyerap, mulut raksasa tersebut menelan dengan rakusnya hujan es, kobaran api, dan bahkan awan yang menggelayuti langit. Semua bencana itu lenyap masuk ke dalam mulut kepala raksasa itu, semuanya terjadi secara cepat. Suara desingan dan hentakan dari serapannya memenuhi udara.


“ Perintah Yang Mulia adalah mutlak “ ucap pelayan Azazel.

__ADS_1


Ia menggigit bibirnya dengan kuat sehingga darah mengalir. Setelah darah mengalir cukup banyak, diludahkan darahnya ke arah mayat-mayat pelayan yang tewas. Darah yang keluar dari mulut pelayan itu terus bertambah, membentuk genangan darah yang mengelilingi mayat-mayat yang hancur. Darah itu meluas membentuk genangan, melahap kristal-kristal yang tertinggal dari tubuh yang hancur serta menelan mayat yang masih utuh. Tiba-tiba, dari dalam genangan darah. Satu per satu dari mereka muncul dari genangan itu, tubuh mereka bersih tanpa luka sedikitpun. Frost, yang berdiri di samping Asmothia, memahami betapa mengejutkannya kekuatan pelayan Azazel. Dia mencoba untuk menjelaskan dengan suara yang pelan dan berbisik pada Asmothia, agar tidak terdengar oleh orang lain yang ada di sekitar mereka.


" Putri Thia " bisik Frost, " dia bukanlah pelayan biasa. Ada sesuatu yang berbeda tentangnya. Teknik penyamarannya begitu rapi, bahkan saya tidak dapat melihat lebih jauh ke dalam dirinya "


Asmothia mengerutkan kening, mencoba memahami apa yang dikatakan oleh Frost. Meski begitu, ia mencoba tetap tenang.


Tetua iblis pertama dengan hati yang penuh penyesalan mendekati Azazel. Melangkah pelan dan membungkukkan badannya sebagai tanda hormat.


" Demi Yang Mulia, saya dengan rendah hati memohon maaf atas kejadian yang tidak pantas ini," ucapnya dengan suara yang tulus. " Namun, bencana yang kita alami ini terjadi akibat benturan yang tak terduga antara ritual pembangkitan dan berkah yang diberikan oleh roh Morgan. Berkah itu berasal dari dewi kemalangan, Griva "

__ADS_1


" Dewi kemalangan, Griva " gumam Azazel dengan suara yang penuh pertimbangan.


Tetua iblis pertama menatap Azazel. " Ya, Yang Mulia. Dewi kemalangan Griva. Kemungkinan besar dia sudah tahu bahwa Morgan akan dibangkitkan, jadi sengaja mengirimkan benturan untuk mengacaukan ritual "


__ADS_2