
CHAPTER 5 : PERTEMUAN DENGAN GADIS MISTERIUS
Morgan berencana pulang setelah memeriksa hasil yang ada di dalam keranjang. Ia memilih hasil yang terbaik dan membawanya pulang. Tiba-tiba, di tengah perjalanan, Morgan mendengar suara auman monster yang ramai di sebelah timur.
“ Apakah itu suara monster? jarang sekali ada monster yang berkelompok, kecuali jika ada mangsa “ pikir Morgan dengan rasa penasaran.
Maka, ia memutuskan untuk melihat sebentar, apa yang sedang terjadi di sana. Suara itu terdengar seperti berada di sela-sela tebing, jadi Morgan lewat semak-semak yang lebat untuk mempersingkat jalan. Setibanya di sana, terlihat empat monster langka—naga elemen cahaya—berukuran raksasa dengan kulit berkilauan.
Morgan berkata pelan, “ Kenapa naga itu bisa ada disini, apakah ada mangsa atau hanya kebetulan? “. Lalu Morgan berjalan ke depan secara perlahan, melihat dengan lebih jelas apa yang sedang terjadi. Ketika jaraknya sudah cukup dekat, Morgan terkejut. Ternyata ada seorang gadis yang dikepung oleh kawanan naga.
" Gadis itu dalam bahaya. Mengapa dia tidak lari? " ucap Morgan sambil mendekat perlahan.
" Ah, dia pingsan dan kakinya terluka, pantas dia tidak bergerak dari tadi. "
Morgan sangat khawatir akan keadaan gadis itu dan ingin menolongnya. Namun, ia menyadari bahwa kawanan naga tersebut bukanlah musuh yang bisa di lawannya seorang diri. Bahkan pahlawan legenda pun akan kesulitan melawan naga-naga yang berkelompok tersebut. Tapi Morgan tidak menyerah, ia memikirkan rencana untuk mengusir naga-naga itu. Setelah beberapa saat berpikir, ia menemukan cara, meskipun dengan risiko yang tinggi.
Dengan hati-hati, Morgan berkata, "Jika aku membuat suara yang keras, kemungkinan besar naga-naga itu akan teralihkan. Namun, jika rencana ini gagal, aku akan mati konyol bersama gadis ini, dan namaku akan menjadi bahan tertawaan bagi banyak orang. "
Tanpa membuang waktu, Morgan segera mencari sebuah batu. Di sebelah kiri Morgan, terdapat tebing yang rentan longsor, dan ia melihat ada batu besar yang menyangga sela-sela tebing tersebut. Morgan berusaha mencari tempat yang aman, tetapi tidak jauh dengan gadis itu. Setelah menemukan batu yang cocok, ia mengikatnya dengan tali yang terbuat dari akar pohon.
Dengan sekuat tenaga, Morgan mengayunkan batu tersebut dengan tali, memberikan ayunan yang keras sehingga batu itu terlempar tepat ke arah batu besar yang menyangga tebing. Morgan melihat batu yang dilemparnya mengenai target dengan tepat, tetapi awalnya tidak terjadi apa-apa. Namun, tiba-tiba terdengar suara retakan keras dari tebing itu. Batu besar tersebut jatuh ke bawah, berguling ke arah kawanan naga, dan mengenai salah satu dari mereka. Kawanan naga itu terbang ke arah tebing tersebut, menyerang dengan membabi buta.
__ADS_1
Morgan segera berlari ke arah gadis itu dengan semua kekuatan yang dimilikinya. Ia mengangkat gadis itu dan meletakkannya di punggungnya, lalu berlari sekuat tenaga.
Meskipun tenaganya mulai habis, Morgan tetap memaksakan diri untuk berlari masuk ke dalam hutan. Akhirnya, ia tiba di tempat di mana sebelumnya ia memetik tumbuhan herbal. Ia meletakkan gadis itu di bawah pohon besar. Gadis itu masih dalam keadaan pingsan, dan kakinya terluka parah di bagian betis.
Morgan mengingat bahwa tumbuhan herbal itu dapat menyembuhkan luka dengan cepat. Tanpa banyak waktu yang terbuang, ia segera membuat obat oles dari tumbuhan herbal tersebut. Ia mengambil segenggam daun herbal dan menumbuknya dengan batu. Kemudian, hasil tumbukan itu ditaruh di atas selembar daun. Dengan hati-hati, ia mengoleskan obat tersebut pada luka gadis itu. Morgan juga mengambil kain yang digunakan untuk membungkus belatinya, merobeknya, dan mengikatkannya pada betis gadis itu.
Sambil memastikan bahwa naga-naga tidak mengejarnya, Morgan mengambil air dari sungai. Ketika kembali ke tempat gadis tersebut, ia menemukan bahwa gadis itu sudah sadar. Morgan memberikan air itu kepadanya dan berkata, " Minumlah sedikit, ini hanya air biasa. "
Gadis itu membuka matanya dalam keadaan lemas dan berkata, " Tuan Frost, Tuan Hefei, Ayah. " Air mata mengalir dari matanya, dan kemudian ia kehilangan kesadaran. Tubuhnya mengalami demam tinggi, dan Morgan merasa tidak tega melihatnya seperti itu. Tanpa berpikir panjang, ia segera membawanya pulang, sambil membawa keranjang berisi daun herbal dan menggendong gadis tersebut.
Morgan memasuki gua yang dingin dan gelap dengan hati-hati, kakinya sudah lelah tapi tetap menggendong gadis itu. Ia melangkah mengikuti lorong gua yang panjang, selalu menjaga langkahnya melewati tanah lembap.
“ Hei Morgan, siapa yang kau bawa itu? “ tanya Duma
Dengan napas terengah-engah, Morgan menjawab, " Aku akan menjelaskannya nanti. Saat ini, dia sedang demam dan membutuhkan pertolongan segera. "
Duma langsung bangkit dari tempat duduknya dan segera mengambil obat-obatan. Sementara itu, Morgan dengan hati-hati membaringkan gadis itu di tempat tidur, kemudian memeriksa luka di betisnya. Dia terkejut melihat betapa efektifnya obat herbal yang telah dioleskan, karena luka yang cukup dalam itu tidak mengalami infeksi. Namun, saat Morgan hendak mengganti obat oles itu.
Dengan suara yang cukup keras, Duma berkata, " Tunggu! "
Morgan segera menghentikan apa yang sedang dilakukannya, kemudian bertanya, " Ada apa, Duma? Apakah ada yang salah? "
__ADS_1
Duma menjawab dengan lantang, " Luka ini tidak akan sembuh hanya dengan obat oles. Lukanya harus tertutup, jadi harus ada tindakan lebih lanjut. Mungkin dia terjatuh dan terluka oleh batu yang tajam. Aku akan segera melakukan operasi kecil. Persiapkan saja air dingin dan kain bersih untuk mengompres kepalanya. "
Morgan segera bergegas mengambil barang-barang yang dibutuhkan, sementara Duma dengan hati-hati menjahit luka gadis itu. Mereka bekerja sama untuk merawat gadis tersebut, sehingga pada sore hari semua proses perawatan selesai. Tampak baju gadis itu sangat kotor dan Duma menyadari bahwa ia tidak bisa mengganti pakaian seorang gadis meskipun ia punya pakaian wanita. Namun, Duma memiliki sebuah ide. Ia mengambil kucing peliharaannya, menulis surat di selembar kertas, lalu memasukkannya ke dalam kotak kecil yang terdapat di kalung kucing tersebut. Dengan memberikan isyarat kepada kucing itu, Duma membiarkannya pergi.
Morgan penasaran dan bertanya, " Kucing itu pergi ke mana? "
Duma menjawab, " Aku memberi perintah kepada kucing itu untuk pergi ke rumah nenek Silva. Kita tidak pantas mengganti baju gadis ini, jadi aku meminta tolong nenek Silva untuk datang kemari. "
Morgan mengangguk mengerti, mereka pun menunggu kedatangan nenek Silva. Tidak lama kemudian, pintu terbuka dan nenek Silva muncul.
" Oh, Morgan juga ada di sini. Tidak heran aku mencarimu di desa dan tidak menemukanmu, " kata nenek Silva sambil tersenyum kepadanya.
Duma segera mendekati nenek Silva dan menuntunnya ke kamar gadis itu, sementara baju ganti sudah tersedia di atas meja. Dengan ramah, Duma mempersilahkan nenek Silva masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya. Morgan dan Duma kembali duduk di ruang depan, melanjutkan obrolan tentang pertemuan Morgan dengan gadis itu. Namun, tiba-tiba...
" Duma! Morgan! Cepat kemari! " teriak nenek Silva dengan suara keras.
Dengan segera, mereka berdua berlari menuju ke kamar, membuka pintu, dan menemui nenek Silva di sana.
" Apa yang terjadi, Nek? " tanya Morgan dengan kekhawatiran.
Nenek Silva menjawab, " Lihatlah gadis ini. Ketika aku selesai mengganti bajunya, dia tiba-tiba menjadi seperti ini. "
__ADS_1