
CHAPTER 14 : PERSELISIHAN ANTAR DEWA
Ketika tombak itu meluncur dengan kecepatan cahaya, menuju ke permukaan tanah, atmosfer menjadi dingin di sekitar Asmothia, menciptakan es yang menjulang tinggi. Tombak bercahaya itu berhenti dan membeku, sedangkan es yang menjulang tinggi berubah menjadi pedang yang menyala. Muncullah lambang iblis yang mengungkapkan wujud asli es yang berhasil menghentikan tombak dewa, yakni sebuah pedang raksasa yang berkilauan, menancap di tanah. Bilah pedang itu memancarkan kekuatan iblis dan kekuatan dewa, dan terukir dengan cahaya merah dan biru terlihat sebuah tulisan: Zephyrion Frostblade von Hellbert.
Dewa cahaya berseru, " Dewa Pedang! " suaranya menggelegar bak jutaan petir yang menyambar di seluruh area.
Morgan takjub melihat kekuatan besar yang menyelubungi pedang itu. Saat ia menundukkan kepalanya, ia melihat Asmothia terbaring lemah di hadapannya, didepannya tampak kaki yang pernah dilihatnya sebelumnya. Pandangannya kemudian melihat ke atas, terlihat jelas Frost telah berdiri tegap. Tangan Frost tersembunyi di belakangnya, tangan kiri menggenggam pergelangan tangan kanan. Rambut panjangnya tertiup angin, dan pakaian perangnya memancarkan aura dewa.
" Morgan, ingatlah ini. Jadilah kuat, aku menantikanmu sebagai jenderal iblis yang baru " ucap Frost perlahan sambil melangkah maju.
Morgan menangis dan dengan lembut berkata, " Baik, Tuan Frost "
Frost tersenyum, lalu menatap pada dewa cahaya.
" Perang antara para dewa akan kembali terjadi jika kau ikut campur, Frost! " teriak dewa cahaya dengan suara guntur.
Tangan kanan Frost terangkat ke atas, jari telunjuk dan jari tengahnya berdiri tegak dengan penuh keangkuhan. Wajahnya tersenyum santai.
"Jika kau ingin mengeluh, sampaikan pada rajaku, jangan padaku. Semua ini tak akan pernah terjadi jika putri mahkota tidak terluka "
Lanjutnya, " Dewa Pedang: Pedang Takdir! "
__ADS_1
Lingkaran sihir yang megah terbentuk di sekeliling Frost, dengan tiga lapisan lingkaran sihir yang berputar pada arah yang berbeda. Setiap baris lingkaran sihir dihiasi dengan simbol pedang yang menyala-nyala, sementara simbol pedang berwarna biru terbentuk di bawah kakinya. Angin yang tenang berubah menjadi badai yang mengamuk, awan yang menutupi langit mulai berputar searah jarum jam. Di tengah kegelapan awan, muncul sebuah pedang raksasa yang akan menghunus dewa cahaya.
Dewa cahaya tak tinggal diam, dia mencabut pedangnya dari cahaya yang memancar, dan dengan suara keras ia berkata,
" Dewa Cahaya: Manifestasi Pedang! "
Lingkaran sihir raksasa terbentuk dengan empat lapisan, masing-masing lapisan dihiasi dengan simbol cahaya yang berkilauan di ujung lingkaran. Awan yang berputar penuh dengan kilat dan gemuruh, petir menyambar dengan ganas di mana-mana. Pedang yang dipegang oleh dewa cahaya berubah bentuk menjadi pedang berkilauan emas, dan serbuk emas berjatuhan membakar segala yang ada di sekitarnya. Dewa cahaya menyerang pedang Frost dengan pedang cahayanya, dan saat kedua pedang itu bersentuhan, terjadi ledakan dahsyat di langit. Seluruh awan tiba-tiba menghilang dan langit menjadi retak, membentuk celah besar yang mengungkapkan kegelapan yang misterius di dalamnya. Pertempuran tak terhindarkan, pedang Frost dan pedang dewa cahaya saling beradu. Setiap tebasan mereka meninggalkan retakan pada langit, hingga langit di Luminos dipenuhi dengan retakan dan lubang yang menganga.
" Gawat, jika langit ini runtuh, seluruh Luminos akan binasa! " ucap Frost sambil dengan penuh konsentrasi mengendalikan pedangnya.
Lalu, Frost mengucapkan mantra sihirnya sekali lagi, dengan kekuatan dewa memancar dari dalam dirinya,
Lingkaran sihir yang sebelumnya terdiri dari tiga lapisan berubah menjadi satu lingkaran sihir yang maha kuat, dengan ukuran yang begitu besar sehingga mengelilingi Frost sepenuhnya. Dalam kekuatan dewa yang kuat, Frost terbang di langit, tangan kanannya teracung tegak pada dewa cahaya. Aura dewa pedang mendominasi seluruh area, dan dengan kecepatan yang melebihi cahaya, dua pedang terbentuk dari sihir dan membesar secara drastis. Kedua pedang itu meluncur dengan kecepatan kilat, sementara dewa cahaya masih berusaha keras untuk melawan serangan pedang takdir Frost. Ke dua pedang menusuk perut dan dada dewa cahaya, membuatnya terhenti dalam gerakannya. Dilanjutkan, pedang takdir membelah tubuhnya menjadi dua, dan dewa cahaya perlahan lenyap dalam sinar yang memudar.
Setelah lenyap sepenuhnya muncul gemuruh langit berkata, " Altar dewa cahaya segera mengambil tindakan atas perbuatanmu, Frost! "
Morgan terkejut saat melihat pertempuran singkat antara dua dewa, kekuatan mereka begitu menakutkan. Ketika pertempuran itu sudah selesai, Kejadian yang tak terduga terjadi. Tiba-tiba, darah mulai keluar dari mulutnya. Ia berusaha menahan darah, tetapi semakin banyak darah yang mengalir. Pandangannya mulai kabur, dan segalanya berubah menjadi kegelapan.
Namun, kesadarannya masih terjaga. Ia berada dalam kegelapan total tanpa adanya cahaya sedikit pun. Morgan mencoba berjalan perlahan dan menyadari bahwa tubuhnya masih bisa bergerak. Dalam kebingungan, ia memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. Langkahnya terus berjalan tanpa henti, tetapi kegelapan tak kunjung berakhir. Saat mencoba melanjutkan langkahnya, terlihat secercah cahaya kecil di kejauhan. Tanpa berpikir panjang, Morgan berlari menuju arah cahaya tersebut. Namun, meskipun ia berlari sejauh mungkin, cahaya tersebut tetap tak terjangkau. Perlahan-lahan langkahnya mulai berhenti. Hatinya mulai goyah dan keraguan merasuki hatinya. Pikirannya menjadi kacau dan sulit untuk berpikir jernih. Saat langkahnya berhenti cukup lama, tiba-tiba suara bisikan yang keras terdengar dari arah kanan.
“ Hei!, Hei! “
__ADS_1
Morgan menoleh ke kanan, tetapi tak ada apa pun selain kegelapan. Tanpa ada kehadiran siapa pun, ia menundukkan kepalanya. Kemudian, suara tawa dan candaan memanggilnya.
“ Hei.. Hei.. Ahahaha “
Sekali lagi, Morgan menoleh ke arah suara tersebut, tetapi tetap saja tak ada yang terlihat. Ia mencoba melanjutkan perjalanannya, namun suara candaan dan tawa memanggilnya lagi. Kali ini, ada dua suara gadis.
“ Hei.. Hei.. Ahahaha.. Kemarilah “
“ Siapa disana? “ teriak Morgan.
“ Hei.. Kemarilah.. Ahahaha.. “
Morgan mulai kesal dan berteriak, " Siapa kamu? Tunjukkan dirimu, jangan bersembunyi! "
Tawa dan candaan tiba-tiba berhenti. Suara bisikan yang keras terdengar di dekat telinga Morgan.
" Di belakangmu! "
Morgan segera berbalik ke arah yang disebutkan. Ia melihat dua gadis dengan tinggi yang sama dengan Asmothia. Mereka tampak dalam bayangan, salah satunya berambut panjang dan yang lainnya berambut pendek. Namun, Morgan tidak menyadari identitas mereka. Ketika kedua gadis itu menoleh ke arahnya, mereka langsung berlari. Morgan pun ikut berlari mengejar mereka, dan tampak cahaya kecil terpancar dari kejauhan. Morgan masuk ke dalam cahaya tersebut, dan suasana gelap gulita berubah menjadi tempat yang megah dan luas.
Di dalam ruangan yang misterius itu, lampu-lampu kristal yang elegan dan indah tergantung di setiap sisi dengan gemerlap yang memikat. Lantai marmer yang terpasang dengan sempurna memberikan kesan mewah, sementara dinding-dindingnya terpancar cahaya yang merah. Di hadapan Morgan, dua gadis muncul dari kegelapan, berdiri di depan pintu besar yang terbuat dari emas berkilauan. Kedua gadis itu memiliki perbedaan pada rambutnya. Gadis pertama memiliki rambut panjang dengan warna biru, sementara gadis kedua memiliki rambut pendek dengan rambut warna merah muda. Saat melihat Morgan dari kejauhan, kedua gadis itu membuka pintu tersebut dan masuk ke dalamnya, tanpa berpikir panjang Morgan juga mengikuti jejak mereka.
__ADS_1