
CHAPTER 12 : BELAJAR SIHIR
Morgan pun memujinya terus, hal itu membuat kesombongan Asmothia memuncak. Ia berdiri tegak, tangannya diletakkan di pinggang. Kemudian, ia menutup matanya, menikmati setiap pujian yang dilontarkan oleh Morgan..
Tak berselang lama, suara keras menggema di telinga Morgan.
" Kruuuuuk.... " suara perut lapar Asmothia bergema dengan keras, membuat Morgan tak bisa menahan tawa yang meledak.
Asmothia sangat kesal dengan tawaan Morgan yang sangat lepas, wajahnya cemberut dan menggembungkan pipinya.
Tanpa menunggu lama, Morgan segera mempersiapkan makanan untuk keduanya, dengan semua bahan yang telah disiapkan dengan cepat. Asmothia duduk di meja makan sambil memperhatikan Morgan yang sibuk memasak. Ketika aroma bumbu mulai tercium, mengisi seluruh dapur dengan keharumannya, perut Asmothia kembali bergemuruh dengan suara yang lebih keras. Morgan jelas-jelas mendengarnya, tetapi ia dengan susah payah menahan tawa yang terus ingin keluar. Akhirnya, hidangan sudah siap disajikan di atas meja, terdiri dari tiga piring ikan besar, dua piring daging sapi, satu mangkuk besar sayur berkuah, dan dua roti bundar.
Tanpa berlama-lama, Asmothia langsung meraih tiga piring ikan besar itu dan memakannya seolah-olah ia makan roti, semua habis tak bersisa. Kemudian, ia menyantap sepiring daging sapi dengan porsi yang begitu besar untuk satu orang. Namun, itu bukanlah masalah bagi Asmothia, ia melahapnya dengan cepat, bahkan dengan gigi tajamnya, ia bahkan mampu mengunyah tulang besar yang ada di dalamnya.
“ Krauukkk Krauuukk “ suara tulang hancur dengan gigi tajam Asmothia.
Saat Morgan melihatnya, ia tersedak terkejut. Ia tak bisa mempercayai betapa mudahnya tulang-tulang itu hancur di dalam mulut Asmothia yang kecil namun tajam. Di dalam hati, Morgan berpikir, " Beruntung Duma tidak melihat ini, dia pasti akan mematung "
Setelah itu, Asmothia tak ketinggalan menghabiskan mangkuk besar berisi sayur dan kuahnya yang melimpah, dalam waktu kurang dari dua menit, semuanya habis tak bersisa. Kemudian, roti bundar juga masuk dalam daftar santapannya, yang juga habis tak tersisa. Tak lupa, ia meminum dua gelas air putih dan segelas susu dengan cepat.
" Hffuuahhhh " Asmothia bersandar di kursi, wajahnya memancarkan kepuasan.
“ Apakah kamu sudah kenyang, Putri Thia? “ tanya Morgan.
__ADS_1
Wajahnya Asmothia berseri “ Aku merasa puas sekali. Karena aku sudah kenyang, nanti malam waktunya kamu belajar tentang sihir di dalam hutan “
“ malam hari? bagaimana jika ada monster buas, bukankah itu berbahaya? “ jawab Morgan yang penuh dengan keraguan.
Teriak Asmothia, “ Bicara apa kamu ini! monster di luminos bukanlah tandinganku. Jadi jangan khawatir tentang serangga-serangga itu. Kamu cukup fokus saja belajar sihir “
Mereka mengobrol hingga hari menjelang petang, Asmothia menggunakan sihir teleportasinya menuju ke hutan. Setibanya disana, suasana sangat gelap gulita. angin dingin menerpa mereka. Morgan membuat api unggun sebagai media penerangan, saking rimbunnya pohon seluruh tempat itu hanya terlihat kegelapan.
Api unggun sudah menyala, pandangan sudah terlihat jelas. Asmothia duduk di sebuah batu, menunggu semua nya selesai. Morgan mendekatinya dan bertanya,
“ Putri Thia, cahaya sudah tersedia. Apakah sekarang waktunya untuk berlatih? “
“ Sekarang kamu duduk bersila, kedua tangan diletakkan pada lutut, pejamkan mata dan rasakan energi angin “
Morgan menarik napas dalam-dalam, memaksakan dirinya melewati batasnya. Perlahan-lahan, sensasi hembusan angin mulai menyentuh setiap pori kulitnya. Angin yang begitu dingin merasuk ke dalam dirinya, mempengaruhi fokusnya yang semakin melemah, membuat hembusan angin yang kini semakin pudar. Namun, dia tak menyerah. Dengan memaksanya lebih, dia memusatkan pikirannya pada satu titik, mencoba merasakan getaran energi yang melintas di sekitarnya. Angin mulai berhembus kembali, hembusannya makin kuat pada setiap detiknya. Tak lama jantungnya berdegup kencang, rasa sesak yang seakan ingin meledak. Dia tak bisa lagi mengontrol energi yang semakin liar di dalam dirinya.
Tangannya gemetar, keringat mengalir di sekujur tubuhnya, dan kakinya terasa kram. Morgan telah melampaui kapasitasnya, tak mampu lagi mengendalikan energi yang meluap-luap. Pada saat yang genting itu, Asmothia, dengan cepat menghampirinya. Dia menepuk punggung Morgan dengan kekuatan sihir, membebaskannya dari belenggu energi tak teratur yang mengancam nyawanya.
Angin yang kencang mulai mereda, meninggalkan Morgan dalam keadaan yang terlepas dari bahaya. Napasnya terengah-engah, dan air mata mengalir dari matanya, mencerminkan kesesakan yang hampir merenggut nyawanya. Asmothia mengerutkan keningnya, suaranya tinggi saat berteriak padanya.
" Kamu tidak mengikuti semua perintahku. Aku sudah bilang padamu untuk merasakan angin. Tapi yang kamu lakukan hanyalah memaksa angin datang. Itu adalah kesalahan fatal! "
Morgan hanya menundukkan kepala, merenungkan kesalahan yang dilakukannya.
__ADS_1
" Memang benar, sihir memiliki manfaat dan kegunaan yang besar. Namun, dibalik itu semua, sihir juga memiliki sisi gelapnya. Seperti dua sisi mata uang yang sama, sihir memiliki potensi untuk membawa kekuatan sekaligus merusak dan menghancurkan. Kekuatan sihir membutuhkan pemahaman yang mendalam, penguasaan diri, latihan keras, dan pengalaman, karena begitu dilepaskan, ia sulit dikendalikan sepenuhnya. Ingatlah! Sihir yang gagal dapat menciptakan kondisi di mana energi berputar balik melalui aliran darah kita, yang pada akhirnya menyebabkan ledakan energi dalam organ-organ internal kita dan berujung pada kematian " ucap Asmothia lagi menggunakan nada lembut.
Morgan menganggukkan kepalanya, memohon petunjuk tentang sihir yang benar. Asmothia mengambil selembar daun dan menempatkannya di telapak tangan Morgan,
" Pusatkan pikiranmu pada daun ini, bayangkan angin yang melanda. Biarkan dirimu menjadi angin, dan angin akan membimbingmu "
Dengan hati-hati mengikuti petunjuk, Morgan memejamkan matanya. Berusaha melakukannya tanpa mengulangi kesalahan yang sama. Pikirannya terpusat pada daun yang ada di tangannya, berusaha mengikuti aliran angin yang membawa daun itu. Perlahan, tekanan ringan membebani tubuhnya, sementara angin berhembus lembut mengangkat daun yang kering. Morgan membuka matanya secara perlahan, dan benar saja, ia berhasil. Rasa senang yang meluap tak dapat ditahan.
" Berhasil! " serunya sambil melompat kegirangan.
" Hmm hmm. Jangan terlalu senang dulu, ini hanyalah permulaan. Kamu harus belajar mengendalikan angin untuk mengawasi sekitarmu, mendengarkan suara dari kejauhan, dan menjadikannya sebagai senjata " ucap Asmothia sambil menyilangkan tangannya di dadanya.
Saat mereka hendak melanjutkan,
“ Sssstttt… “
Asmothia memberi isyarat pada Morgan untuk diam. Mereka berdiri tanpa suara, heningnya hutan membuat suasana semakin menegangkan. Tiba-tiba, cahaya menyambar mereka dengan sangat cepat.
" Blarrrr! "
suara ledakan dahsyat mengguncang hutan, membuat semua binatang berhamburan dalam kepanikan. Pedang raksasa yang tertancap di tanah, diselimuti oleh cahaya yang menyilaukan, menjulang tinggi di tempat mereka berlatih.
Perisai sihir bersinar terang melingkupi mereka berdua, namun pedang itu telah retak di sisinya akibat benturan dengan perisai yang kuat. Dengan wajah penuh kemarahan, Asmothia berdiri di depan Morgan, memandang ke dalam kabut asap yang tebal. Perlahan-lahan, asap dan debu mulai memudar, mengungkap sosok seorang pria yang menunggangi kuda. Ia mengenakan jubah putih, dengan simbol cahaya yang tersemat di dahinya. Pedang cahaya berkilauan tergenggam erat di tangan kanannya.
__ADS_1
Morgan terdiam, bibirnya bergerak dengan lemah, " Kesatria legenda? Mengapa dia di sini? "