
CHAPTER 17 : PERJALANAN MENUJU PULAU MONSTER
" Maaf, Putri Thia. Telah membuatmu khawatir " ucap Morgan dengan suara yang penuh penyesalan.
" Seharusnya aku yang meminta maaf. Kekuatanku belum cukup kuat untuk melawan Dewa Cahaya " Asmothia sambil mengusap air matanya.
" Putri Thia, kau tidak perlu meminta maaf padaku. Semua ini terjadi karena kelemahanku sendiri. Aku bersedia mati jika itu diperlukan. Tenanglah "
Asmothia menundukkan kepalanya, rambutnya yang terurai menutupi wajahnya. Suara gemetar terdengar dari bibirnya yang penuh dengan air mata.
" Bodoh! Bagaimana aku bisa tenang jika pelayanku terluka? Ikatan kita sudah terjalin, rasa sakit yang dialami oleh pelayan adalah rasa sakitku juga. Jadi, jangan pernah mengucapkan kata-kata seperti itu lagi "
Morgan mengelus lembut kepalanya, lalu mengusap air mata yang terus mengalir.
" Raja Hellbert sudah mengakui keberadaanku sebagai pelayanmu. Untuk kedepannya, aku akan berjuang lebih keras lagi supaya dapat memenuhi harapanmu “
Keduanya saling menguatkan satu sama lain hingga akhirnya Asmothia berhenti menangis. Tiba-tiba, Duma masuk ke dalam kamar Morgan.
" Oh, ternyata sudah bangun. Aku sangat cemas. Kau dibawa kemari dalam keadaan yang memprihatinkan. Luka parah dan demam tinggi, semuanya bercampur menjadi satu. Untungnya, ada pacar kecilmu ini yang merawat semua luka-lukamu "
“ Dia bukan pacarku! “ Teriak mereka dengan kompak.
Asmothia bangkit dari duduknya, wajahnya terlihat kesal, dan ia meremas bantal dengan kuat, " Manusia tua! Sebaiknya jangan sembarangan bicara, atau aku akan mengubahmu menjadi manusia goreng! "
" Iya, iya, aku mengerti " kata Duma dengan cemas. Ketika hendak pergi, Duma mendekati Morgan. " Nanti malam, kalian datang ke ruang depan. Aku memiliki sesuatu yang ingin kusampaikan "
Morgan mengangguk mengerti, lalu Duma meninggalkan mereka. Hari berganti petang, suasana menjadi tidak biasa. Banyak ruangan yang gelap, sementara beberapa ruangan lainnya hanya terang dengan cahaya redup. Morgan dan Asmothia berjalan menuju ruangan depan, melewati lorong yang redup. Ketika mereka sampai di ruangan tersebut, Duma sudah duduk dengan santainya, disertai beberapa gelas minuman keras di atas meja.
__ADS_1
" Kemarilah dan duduklah, nikmati waktumu selagi masih bisa " ajak Duma sambil menunjukkan kursi kosong di sebelahnya. Morgan duduk di sampingnya, penuh dengan rasa penasaran. " Apa maksudmu? "
" Besok pagi, kalian harus meninggalkan tempat ini. Kematian salah satu dari pasukan legenda telah menyebar ke seluruh penjuru negeri. Setiap orang di kerajaan ini akan diperiksa secara individu oleh prajurit terpilih, aksi ini dipimpin oleh kedua pasukan legenda Richard dan Sins. Dalam pemeriksaaan ini, semua orang wajib bersumpah untuk menyembah Dewa Cahaya di hadapan patung dewa. Jika ada yang menolak bersumpah, mereka akan dihukum mati "
Asmothia bergumam, " Manusia memang sudah gila "
Duma menuangkan susu ke dalam gelas dan memberikannya pada Asmothia. " Memang benar, manusia terkadang gila. Namun, akibat pertempuran antara Dewa Cahaya dan Dewa Pedang, manusia di negeri ini semakin kehilangan akal. Mengapa repot-repot menyembah dewa namun hidup dalam kegilaan? Lebih baik mengandalkan iblis yang jelas-jelas membantu pengikutnya, termasuk manusia tua ini "
" Hah? " ucap Asmothia terkejut.
" Aku akan menjadi pengikutmu, Putri Thia. Aku akan memenuhi segala kebutuhanmu di Luminos. Makanan, pakaian, pengetahuan, informasi, semuanya akan aku siapkan "
Asmothia memalingkan wajahnya. " Hmmph... Aku tidak seperti malaikat yang menolong manusia lemah, aku juga tidak sebaik yang kamu pikirkan, manusia tua. Tapi ingatlah, kamu harus mempersiapkan semuanya dengan baik, terutama makanan "
Duma tertawa lepas sambil menghentakkan gelasnya ke meja. Asmothia melanjutkan makan camilan dan minum susu. Morgan mengamati sekitarnya, ia merasa bahagia merasakan kehangatan suasana itu. Tiba-tiba, pintu terbuka. Mereka semua memandang ke arah pintu, dan ternyata Nenek Silva datang membawa sebuah kotak. Ia berjalan mendekati Asmothia dan membuka kotak tersebut. Di dalamnya terdapat banyak sekali kue kering cokelat.
Asmothia mencicipi kue tersebut, dan ketika satu gigitan masuk ke dalam mulutnya, ia berteriak kegirangan. Semangatnya membara, membuatnya langsung menghabiskan kue itu dalam hitungan detik.
" Aku sudah tahu bahwa kamu bukan pengkhianat, tapi setidaknya buatkan lebih banyak lagi kue ini! "
Semua orang berkumpul di dalam toko Duma, mereka menikmati waktu bersama sebelum meninggalkan tempat itu. Duma memasak banyak makanan dan camilan, dan Asmothia sangat menikmati hidangan tersebut. Morgan dan Nenek Silva bermain permainan papan, semuanya menikmati suasana hangat yang tercipta di antara mereka. Akhirnya mereka semua tertidur, tidak terasa hari itu begitu cepat. Bunyi jam dinding berdentang keras menunjukkan waktu sudah subuh. Duma terbangun dari tidurnya, dengan segera membangunkan semua orang yang sedang tertidur.
Morgan yang baru saja terbangun langsung bergegas mengemasi barang-barang, hingga semuanya sudah lengkap dalam beberapa jam. Dalam perjalanan yang mereka tempuh, mereka memilih untuk berpisah demi menghindari pengejaran. Duma dan Nenek Silva bergerak menuju hutan, sementara Morgan dan Asmothia menuju ke laut.
" Pada kali ini, kerajaan benar-benar memburu Morgan dan Putri Thia, tanpa mempedulikan hidup atau mati. Bagaimanapun caranya, kalian harus segera meninggalkan tempat ini. Aku dan Nenek Silva akan menuju hutan untuk mengalihkan perhatian mereka. Tugasmu, bawalah Putri Thia ke halaman belakang toko, di situ terdapat sebuah gua yang akan membawa kalian langsung ke pantai " ujar Duma.
Morgan memasang tas besar di punggungnya, " Baiklah, aku mengerti… "
__ADS_1
Asmothia menyela pembicaraan dengan nada sombong, " Kali ini, kami akan pergi ke pulau monster! "
Sambil mengamati mereka, Duma menggaruk kepalanya. " Semoga bocah itu tidak kehilangan nyawanya terlalu cepat "
Morgan dan Asmothia tiba di belakang toko, di mana tersembunyi sebuah gua di balik dedaunan yang lebat. Mereka memasuki gua tersebut, tanpa ada cahaya sama sekali di dalamnya. Kegelapan melingkupi seluruh jalan, sehingga Morgan beberapa kali tersandung dan tergelincir di dalam gua.
“ Sepertinya kamu belum berpengalaman dalam menjelajahi tempat gelap “
" Sepertinya kamu belum berpengalaman menjelajahi tempat gelap seperti ini " sindir Asmothia dengan sombongnya. Namun, sebelum ia sempat mengucapkan sesuatu, tiba-tiba...
" Bruukk! "
Kepalanya membentur stalaktit yang menggantung hingga ke tanah, dan ia terjatuh. Asmothia merasa kesal dan berguling-guling tak teratur. Lalu, dipanggilnya roh api untuk menerangi setiap sudut gua. Roh itu muncul dengan api yang berkobar besar. Asmothia berdiri tegak, menyilangkan lengan, dan wajahnya penuh kepercayaan diri. Namun, api yang sebelumnya berkobar besar tiba-tiba menyusut menjadi cahaya lilin. Api tersebut juga memiliki kaki kecil dan melompat-lompat.
" Hah? " terkejut Asmothia, tercengang dengan raut wajah datar.
Morgan ingin tertawa, tapi ia menahannya. Api kecil tersebut diam sejenak lalu berbaring dan tertidur. Rasa frustrasi Asmothia semakin memuncak, sehingga ia langsung berteriak keras.
" Haaaa! Bangunlah, api kecil sialan! Terangi segera seluruh jalan di dalam gua ini! "
Dengan cepat, api kecil itu berlari masuk ke dalam gua dengan kecepatan kilat. Setiap tempat yang dilaluinya menyala dengan api di dinding gua. Gua yang awalnya gelap menjadi terang, dan seluruh ruang terlihat dengan jelas. Mereka melanjutkan perjalanan melintasi lorong gua yang panjang. Saat mereka telah mencapai seperempat perjalanan, tetesan air dari stalaktit di atas mereka mulai mengalir deras. Air membanjiri jalur mereka, hingga mencapai lutut mereka. Asmothia akhirnya duduk di pundak Morgan, karena saat berjalan air telah mencapai dadanya.
" Hei, pelayanku. Hati-hati agar tidak terpeleset, ya " kata Asmothia sambil berusaha menenangkan dirinya.
" Tenanglah, Putri Thia, semuanya aman " jawab Morgan dengan penuh keyakinan.
Merupakan pengalaman pertama bagi Asmothia duduk di pundak seseorang. Tangannya gemetar ketika memegang kepala Morgan . Perjalanan mereka berlanjut jauh, hampir sepanjang hari, hingga akhirnya mereka tiba di daratan yang kering.
__ADS_1