Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Ritual Pembangkitan


__ADS_3

CHAPTER 24 : RITUAL PEMBANGKITAN


Setelah melewati barisan gargoyle, mereka melangkah masuk ke dalam istana. Saat pandangan tertuju ke dalam ruangan, terlihat di sisi istana, terdapat berbagai patung dari batu adamantite yang megah. Beberapa patung menggambarkan malaikat jatuh dengan sayap yang terlipat. Malaikat-malaikat itu digambarkan dengan wajah yang penuh kekecewaan dan penderitaan, serta tubuh yang terbungkus oleh kerusakan dan kehancuran. Sayap-sayap mereka yang dulunya elok dan indah, kini terlihat patah dan remuk. Di samping patung-patung malaikat jatuh, ada pula patung manusia setengah kambing yang menimbulkan rasa ketakutan dan keganjilan. Tubuh manusia yang kuat dipadukan dengan tanduk kambing yang menjulang, menciptakan perpaduan yang aneh dan menyeramkan. Wajah mereka tergambarkan dengan ekspresi kebencian dan kehausan akan darah. Setiap patung adamantite ini terlihat begitu realistis, dengan detail yang mencengangkan. Setiap lekukan pada batu adamantite menggambarkan tragedi di masa lalu. Keindahan yang dulu mereka miliki, kini berubah menjadi simbol kegelapan dan kehancuran. Mereka berjalan ke depan, tidak jauh dari depan pintu terdapat sebuah air mancur yang menghadirkan pemandangan berbeda. Namun, alih-alih memancarkan air jernih, air mancur ini mengeluarkan darah segar yang mengalir. Darah mengalir dari puncak air mancur dengan deras, membentuk percikan-percikan merah yang jatuh dengan berdentum ke kolam di bawahnya. Kolam tersebut penuh dengan darah yang mengumpul, menciptakan permukaan berkilauan dan berwarna merah gelap yang memantulkan cahaya remang-remang di dalam istana. Asmothia menghirup aroma dari air mancur, aroma yang dirasakannya bukanlah darah melainkan sesuatu yang berbeda.


“ Bau apa ini, belum pernah sekalipun aku mencium aroma ini “ ujar Asmothia.


Saat pelayan Azazel ingin menjelaskan, Hefei menyelanya, “ Putri Thia, inilah yang dinamakan aroma jiwa. Jiwa yang sudah tercatat dalam kontrak akan berakhir menjadi air ini. Hanya para iblis tingkat 13 ke atas saja yang dapat memasuki istana ini, itulah mengapa anda tidak pernah mengetahui hal seperti ini “


Lalu Asmothia memegang tangan Hefei, ia berkata “ Tuan Hefei, lain kali ceritakan kepadaku tentang kejadian masa lalu “


Hefei berlutut di depan Asmothia, memegang kedua lengannya, “ Jika sudah waktunya, kuceritakan itu semua. Ayo kita berjalan lagi “


Mereka melanjutkan perjalanan dengan hati-hati, menaiki tangga menuju ke atas hingga akhirnya mencapai persimpangan dua jalan yang bercabang. Pelayan Azazel memimpin rombongan ke arah cabang kedua, dan semua mengikutinya. Lorong panjang yang mereka lalui terang benderang oleh nyala api iblis yang terpampang di beberapa sisi. Cahaya yang memancar di ujung lorong menarik mereka ke depan. Saat mereka melangkah melewati cahaya api, mereka tiba di sebuah ruangan yang sangat luas. Di tengah ruangan tepatnya di lantai terdapat lingkaran besar yang terukir dengan tujuh lambang iblis yang melambangkan kekuasaan dan kegelapan. Lingkaran tersebut merupakan simbol kekuatan yang melingkupi seluruh ruangan itu. Namun, yang mencuri perhatian adalah lubang besar yang terletak di tengah lingkaran tersebut, lubang tanpa dasar yang dipenuhi api dan suara gemuruh seakan menjadi gerbang menuju titik pusat api di dunia itu. Disitu juga berdiri delapan patung mengelilingi lingkaran besar di lantai, masing-masing melambangkan salah satu dari delapan siksaan kekal. Setiap patung menghadirkan gambaran yang mengerikan tentang penyiksaan yang tak berkesudahan di lapisan ke-8. Di sisi lain, patung raksasa Azazel menjulang tinggi di dekat tembok, singgasananya ada di bawah kakinya.

__ADS_1


Pada sisi kanan patung Azazel, terdapat tujuh patung tetua iblis yang merupakan simbol penguasa tertinggi ranah iblis. Di sisi kiri patung Azazel, terdapat patung Raja Hellbert dan empat jenderal iblis, yang merupakan penguasa bagian tengah. Semua patung tersebut memancarkan aura dari masing-masing penguasa.


Asmothia, dengan rasa ingin tahu, memalingkan pandangannya ke arah Pelayan Azazel.


" Dimana kita berada? "


Pelayan Azazel menatap Asmothia dengan penuh hormat dan menjawab, " Kita sekarang berada di Tempat Suci, tempat di mana jiwa-jiwa yang telah dimurnikan berada. Disinilah tempat di mana seorang pelayan akan dibangkitkan melalui ritual khusus oleh Tetua Pertama, sang Malaikat Terbuang "


Tetua Iblis Pertama mengarahkan pandangannya pada Asmothia, Hefei dan Frost, suaranya bergema di dalam ruangan yang luas. " Pelayanmu, Morgan, akan dibangkitkan dari keberadaannya sebagai manusia menjadi Iblis murni. Dalam melakukan ritual ini membutuhkan pengorbanan yang sangat besar dari jiwa-jiwa yang masih hidup " ucapnya dengan suara yang tegas.


Asmothia, dengan rendah hati, menjawab sambil membungkukkan tubuhnya, " Maaf, Tetua. Tetapi pengorbanan apa yang harus saya berikan? Saya siap untuk memberikan pengorbanan tersebut jika diperlukan "


Tetua Iblis tersenyum kecil, sorot matanya penuh dengan kebijaksanaan. " Tidak perlu merasa khawatir tentang pengorbananmu sendiri. Karena Yang Mulia Azazel telah memberikan pengorbanan tiga juta jiwa naga laut, dan seratus di antaranya adalah para tetua mereka. Hal ini jauh melebihi perkiraan awal. Setidaknya, tingkat keberhasilannya sebesar 1000%, dan kemungkinan Morgan akan menjadi lebih kuat "

__ADS_1


Tetua Iblis melanjutkan, " Namun, Putri Mahkota, ada dua pilihan yang harus kamu ambil. Yang Mulia Azazel menginginkan Morgan menjadi seorang Tetua Iblis, sementara ikatanmu dengannya hanya sebagai Tuan dan Pelayan. Sebelum ritual dilakukan, apakah ada yang ingin kamu sampaikan sehingga Morgan dapat berada di pihakmu? Buatlah aku puas dengan jawabanmu "


Asmothia mengucapkan kata-kata yang ada dihatinya. " Morgan adalah pelayanku yang setia. Hari-hariku bersamanya telah membentuk ikatan yang kuat di antara kami. Saya memberikan kepercayaan besar padanya, dan dia memberikan saya pengalaman-pengalaman menyenangkan dalam kehidupan di Luminos. Kekuatanku juga meningkat berkat kehadirannya, dan Ayah pun telah mengakuinya sebagai pelayanku "


Tetua Iblis mendengar kata-kata tersebut, lalu menjawab dengan nada keras. " Hanya itu saja? Jawaban seperti itu seharusnya keluar dari mulut seorang manusia, bukan dari iblis! Iblis sejati tidak mengenal kasih sayang atau kebahagiaan. Iblis juga tidak dapat hidup selamanya di dunia fana, apalagi untuk Putri Mahkota sepertimu. Hanya iblis kelas rendah yang hidup dalam dunia fana. Jawabanmu sungguh mengecewakan " Setelah berkata demikian, Tetua Iblis berjalan pergi.


Asmothia merenung sejenak, menyadari bahwa semua jawabannya tadi hanya berfokus pada dirinya sendiri, bukan pada kepentingan kerajaan. Ia mengumpulkan pikiran dan keberanian dalam hatinya, kemudian dengan suara yang keras, ia memanggil, " Tetua Iblis, tunggu! " Tetua itu berhenti dari langkahnya.


" Sebelum Morgan meninggal, saya selalu melatihnya untuk menjadi kuat. Rencana saya untuk menjadikannya kuat bukanlah omong kosong belaka. Aku berjanji dia akan menjadi sosok yang kuat di bawah pengawasanku, melayaniku, dan melindungiku " ucapnya.


Tetua Iblis memandang Putri dengan serius, " Jika dia benar-benar menjadi kuat, lalu apa yang akan kamu lakukan? Aku akan memberikanmu kesempatan ini sekali ini saja. Jika usahamu gagal, maka segalanya akan berakhir "


Asmothia menggenggam tangannya kuat, menatap Tetua Iblis. " Saya… akan menjadikannya... Jenderal Iblis keempat! " serunya dengan keras di hadapan Tetua Iblis.

__ADS_1


__ADS_2