Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Desa Draconius Di Pulau Monster


__ADS_3

CHAPTER 28 : DESA DRACONIUS DI PULAU MONSTER


Di sisi yang lain, Asmothia dan rombongan pelayan masih terperangkap dalam aliran waktu. Ketika waktu terus berjalan tanpa henti, akhirnya mereka tiba di sebuah desa yang tampak sunyi. Dengan langkah hati-hati, mereka melintasi jalan berdebu menuju pusat desa. Morgan, yang masih tak sadarkan diri, dengan penuh perhatian dibopong oleh kedua pelayan.


Ketika mereka memasuki desa, pandangan mereka langsung tertuju pada seorang pria tua yang berdiri di tengah-tengah desa, dikelilingi oleh sekelompok orang lainnya. Pria tua itu dengan lembut menyambut kedatangan mereka, suara lembutnya berpadu dengan angin yang berhembus, " Selamat datang di desa Draconius. Saya telah merasakan kehadiran energi yang menggetarkan dari Putri Mahkota, dan dengan sabar saya menantikan kedatangannya "


Asmothia, yang dipenuhi semangat, tak bisa menahan diri untuk berseru, " Aku adalah Putri Mahkota yang kalian nantikan! "


Orang-orang di desa itu saling pandang dengan ekspresi kebingungan yang jelas terlihat di wajah mereka. Pria tua itu dengan penuh keraguan bertanya, " Maaf, kami menyadari bahwa energi yang memancar dari nona muda menyerupai sang Putri Mahkota, tetapi sosok yang kami kenal memiliki perawakan dewasa serta sangat cantik "


Asmothia merasa tersinggung oleh penampilannya yang saat ini hanya sebagai seorang anak berusia delapan tahun. Maka, ia memutuskan untuk mengaktifkan sihirnya guna mengubah wujudnya menjadi sosok dewasa yang sesuai dengan aslinya. Cahaya terang memancar dari tubuhnya, menyebar dan memenuhi sekelilingnya, sedangkan bayangannya mulai memperoleh bentuk yang lebih tinggi dan tegap. Dalam momen itu, cahaya itu menghilang dengan perlahan, dan dengan penuh kekuatan sihir, penampilan asli Asmothia terungkap di hadapan mereka.

__ADS_1


Kini, Asmothia telah bertransformasi menjadi sosok yang memikat, menggambarkan keanggunan dan pesona yang memukau. Rambut panjangnya berwarna putih, terurai lembut hingga sepinggang, bergerak seiring hembusan angin yang mengelusnya. Matanya memancarkan kilatan merah, tatapannya menunjukkan pandangan yang tajam. Kulitnya yang cerah dan halus, menambahkan aura keanggunan yang tak terhingga, sementara pakaian yang dikenakannya terlihat begitu elegan dan berkelas.


Orang-orang desa terpukau melihat transformasi Asmothia yang kini berwujud dewasa, dan langsung bersujud melihat Putri Mahkota benar-benar datang ke desa. Bahkan pria tua yang menjadi kepala desa turut bersujud di hadapan Asmothia, “ Putri Thia yang terhormat, maafkan kami yang telah meragukan kekuatanmu. Jika boleh bertanya, Ada keperluan apa sehingga anda datang kemari? “


Dengan raut wajah datar, Asmothia menjawab, “ Kepala desa, Berikan tempat yang layak bagiku dan bagi pria ini “


Kepala desa berlutut hormat, “ Baiklah, Putri Thia. Semuanya akan siap dalam beberapa menit ”. Dengan sangat antusias, para penduduk desa bekerja bersama untuk membersihkan rumah besar yang pernah menjadi tempat tinggal Asmothia. Mereka semua bergotong-royong, baik yang muda maupun yang tua saling berlomba untuk menyelesaikan tugas. Dalam waktu kurang dari sepuluh menit, segala persiapan pun selesai dilakukan. Kepala desa mendekati Asmothia dan memberitahukan bahwa semuanya sudah siap. Asmothia dan para pelayan segera memasuki rumah besar tersebut dengan cepat. Begitu masuk ke dalam rumah, mereka disambut oleh pemandangan yang teratur dan sempurna. Ruangan-ruangan terhias dengan kemewahan, dengan lantai-lantai terbuat dari batu marmer yang berkilauan. Disekitar tangga, terdapat patung Asmothia dan Ayahnya yang terbuat dari batu topaz. Pada tangga tersebut juga dihiasi dengan ornamen emas yang indah.


Tiba-tiba, terdengar ketukan di pintu yang membuat Asmothia terkejut dan bangkit berdiri. Dengan suara lantang, ia bertanya, " Siapa di sana? "


Seseorang di luar menjawab, “ Saya pembantu di rumah kepala desa. Maaf mengganggu waktu anda, Putri Thia, kepala desa memberi pesan bahwa makanan sudah siap. Silahkan menuju ke rumah kepala desa “

__ADS_1


Asmothia menjawab dengan sedikit kesal, " Aku akan datang sebentar lagi ". Ia menghela napas, momen terbaiknya hilang begitu saja.


Asmothia bergegas menuju rumah kepala desa, dan suasana disana begitu ramai dengan kehadiran penduduk desa. Lampu-lampu terang telah dipasang dengan indah, menciptakan suasana meriah. Ketika Asmothia tiba, penduduk desa langsung berdiri dan berseru bersama-sama, " Selamat datang kembali, Putri Thia! ". Pengiring musik pun memainkan alat musik mereka, menambah semarak suasana. Asmothia duduk di tempat yang telah disediakan, dan pada saat itu pintu dapur terbuka. Rombongan pembantu membawa berbagai hidangan lezat, diikuti dengan minuman beralkohol. Meja Asmothia dipenuhi dengan beragam makanan, satu teko susu dan roti manis. Asmothia tidak bisa menahan laparnya, dan dengan lahap ia langsung menyantap makanan tersebut. Tanpa ragu, ia menaruh tiga potong daging dalam satu wadah dan segera memakannya.


Kepala desa tertawa senang, dan ia memulai pesta makan bersama. Semua orang menikmati hidangan yang disajikan, bahkan ada yang berlomba dalam minum anggur. Asmothia merasa kenyang setelah memakan porsinya. Kepala desa mendekat dan bertanya, " Putri Thia, jika boleh saya tahu, siapakah pria yang tidak sadarkan diri itu? Ini pertama kalinya saya melihat Putri membawa seorang pria, bahkan menyentuhnya saja anda jijik "


Asmothia menjawab dengan tersenyum, mengingat kejadian pertemuannya dengan Morgan, " Ketika aku hampir mati, dialah yang menyelamatkanku. Dan dia bukanlah seorang manusia biasa. Kebaikan hatinya dalam menerima aku sebagai tuannya membuatku merasa bahwa dia adalah seseorang yang istimewa "


Kepala desa tersenyum puas mendengar alasan dari Asmothia, dan ia menjawab dengan lega, " Saya sangat senang kamu telah menemukan seorang rekan yang baik. Mungkin kakek ini hanya berharap kamu bisa menemukan pasangan hidup. Siapa tahu dia adalah jodohmu "


Asmothia menjawab sambil pergi, "Dasar kakek tua!"

__ADS_1


Kepala desa tertawa karena merasa seperti sedang bermain-main dengan cucunya sendiri, dan para penduduk desa tetap melanjutkan pesta dengan penuh semangat.


__ADS_2