Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Siuman


__ADS_3

CHAPTER 29 


Asmothia kembali pulang dan mengunjungi Morgan. Saat masuk ke dalam ruangan, ia melihat Morgan sudah sadar. Asmothia segera mendekatinya dan bertanya, " Morgan, kamu sudah sadar? "


Morgan yang masih terbaring mencoba untuk duduk, kepala terasa pusing dan matanya berkunang-kunang. Asmothia melihat sekitar mencari sesuatu yang dapat digunakan, dan matanya tertuju pada teko dan gelas yang terletak di atas meja. Ia mengambil teko dan menuangkannya ke dalam gelas, air bening mengalir memenuhi gelas tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, Asmothia mengulurkan gelas kepada Morgan. Tatapan matanya penuh kepedulian kepadanya,


“ Kamu sudah tidur cukup lama, mungkin kamu haus “


Morgan, yang masih lemah, menerima gelas tersebut dengan tangan gemetar. ia menggenggam gelas itu, dan meminumnya dengan perlahan. Asmothia bertanya lagi, " Bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik? "


Morgan merenung sejenak sambil merasakan kesegaran air yang meluncur ke tenggorokannya, rasa hausnya kini sudah hilang. Pada saat melihat ke arah Asmothia, ia menatapnya penuh dengan ketidaktahuan, " Nona cantik ini, siapa ya? "


Asmothia, sedikit terkejut dengan fakta bahwa Morgan tidak mengenalinya, berusaha mengendalikan pikirannya yang melayang-layang. Dia merenung sejenak, mencari alasan di dalam benaknya yang dapat menjelaskan situasi ini. Kemudian, dia mengaitkan keadaan tersebut dengan fakta bahwa Morgan baru pertama kali melihat wujud aslinya.

__ADS_1


Dengan penuh keberanian, Asmothia kembali menjawab pertanyaan Morgan dengan penuh rasa ingin tahu, mencoba memahami bagaimana Morgan melihat dirinya. Suaranya dibuat lebih lembut saat ia bertanya, " Kamu, tidak tahu siapa aku? "


" Sungguh, saya tidak mengenalimu. Jika berkenan, bisakah nona cantik ini memberitahuku? " ucap Morgan, dengan wajah serius, memberikan jawabannya, menegaskan ketidaktahuannya.


Asmothia merasa hatinya melonjak kegirangan mendengar panggilan 'nona cantik' yang dilontarkan Morgan. Dia mencoba menenangkan dirinya dan tidak terjebak dalam pikiran yang berlebihan. Namun, di dalam benaknya, dia terus mempertanyakan apa yang membuatnya begitu menarik bagi Morgan. Dia tersenyum sendiri, dan dalam pikirannya yang penuh kegembiraan, dia bergumam dengan riang, " Aku dipanggil 'nona cantik' olehnya! Apakah ini berarti aku memang cantik? Atau mungkin aku adalah tipe wanita yang dia idamkan? Atau dia…! "


Tiba-tiba, suara memanggilnya,


“ Nona! Nona! “


Morgan, terlihat terkejut dan meragukan, mempertanyakan alasan di balik pertanyaan Asmothia, " Tentu saja, saya tahu. Asmothia adalah iblis kecil yang sombong, tetapi saya mengakui bahwa dia adalah tuan yang baik. Ngomong-ngomong, mengapa Anda menanyakan hal itu? "


Asmothia, dengan sikap yang sombong dan meletakkan kedua tangannya di pinggang, memancarkan kebanggaan. " Aku adalah Asmothia, wahai pelayanku! " jawabnya dengan lantang.

__ADS_1


Namun, Morgan tampaknya meragukan ucapan Asmothia. Dia tertawa dan menyebutkan bahwa Asmothia adalah seorang iblis kecil dengan tubuh yang mungil dan usianya mungkin hanya sekitar 8 tahun atau bahkan lebih muda. Dia juga menceritakan betapa besar porsi makanan yang dikonsumsi Asmothia, menyamakan kebiasaannya dengan monster.


Kata-kata itu mulai membuat Asmothia merasa muak. Rasa marah dan kesal memuncak di dalam dirinya. Dengan tiba-tiba, Asmothia berbalik membelakangi Morgan. Dalam sikap yang tegas, Asmothia membuka bajunya, mengungkapkan lambang iblis kemarahan yang terukir di punggungnya. Morgan, terkejut dengan pemandangan itu, ia segera menutup matanya dan berteriak, " Apa yang kamu lakukan! Wanita mana yang membuka bajunya di depan pria yang baru ditemuinya! "


Dengan penuh amarah, Asmothia menjawab dengan keras, " Bodoh! Lihat dan perhatikan lambang ini. Pasti kamu tahu siapa aku sebenarnya! "


Morgan membuka matanya perlahan, dan saat pandangannya tertuju ke depan, dia melihat punggung yang halus dengan jelas terpampang sebuah lambang iblis kemarahan. Lambang tersebut berwarna merah darah dan menyatu dengan kulit Asmothia. Saat Morgan melihat lambang itu, dia merasakan ikatan antara tuan dan pelayannya menyatu. Telapak tangannya juga mulai bergetar, dan saat dia melihat ke telapak tangannya, ia terkejut menemukan bahwa lambang iblis juga muncul di sana.


Asmothia mengenakan kembali pakaiannya, dan seiring dengan itu, getaran yang dirasakan Morgan pun menghilang. Morgan segera berbicara dengan tegas, " Maafkan saya, Putri Thia. Saya meragukan Anda sebelumnya, dan wujud Anda yang sekarang sangat berbeda dari sebelumnya "


Asmothia memberikan jawaban, " Wujud sebelumnya memang seperti anak kecil, tetapi itu sengaja untuk tidak menarik perhatian manusia. Dengan wujud yang sekarang, mungkin akan membuatku kerepotan jika harus pergi ke kota manusia ". Sambil bergumam pelan, Asmothia juga menambahkan, " Kau tidak tahu betapa beratnya perjuanganku menahan malu saat membuka bajuku, bodoh! ". Namun, suara tersebut tidak terdengar oleh Morgan karena sangat pelan.


Pada saat itu, Morgan tengah kebingungan mengenai lokasinya yang tidak pasti. Ia memutuskan untuk bertanya, " Putri Thia, sebenarnya kita berada di mana sekarang? "

__ADS_1


" Kita berada di desa Draconius, tempat tinggal para pemuja ku. Kamu bisa tinggal di sini sementara waktu, tempat ini juga cocok untuk melatih kemampuanmu " Jawab Asmothia.


Malam itu, mereka duduk berbincang di tengah malam hingga menjelang pagi. Asmothia kemudian mengusulkan agar Morgan beristirahat, dan ia pun juga akan beristirahat. Suasana di desa Draconius sangat damai, sehingga tidak ada kejadian buruk yang terjadi di malam tersebut.


__ADS_2