
CHAPTER 32 : PELATIHAN KERAS
Asmothia meninggalkan Morgan sendirian di tempat yang sangat dingin. Saat berjalan pergi, ia bergumam pelan, " Maafkan aku, Morgan, tapi ini semua demi kebaikanmu juga "
Sebenarnya, Asmothia merasa tidak tega melihat Morgan menjalani pelatihan yang begitu keras, tetapi dia yakin bahwa itu akan memiliki dampak yang baik. Ketika Asmothia tiba di padang rumput, ia tidak kembali ke desa, melainkan menunggu hingga petang. Sementara itu, Morgan masih berusaha keras untuk bisa berdiri tegak di tengah dinginnya suhu. Tubuhnya masih terbaring akibat terjatuh sebelumnya, namun dengan sekuat tenaga untuk berusaha bangkit. Setiap kali hampir berhasil, ia jatuh kembali. Kekuatan Morgan semakin menipis, dan darahnya pun mendidih sebagai respons alami untuk menghangatkan tubuhnya. Sulit baginya untuk menahan dingin tersebut.
Tanpa kekuatan yang cukup untuk melanjutkan, Morgan merangkak menuju pintu keluar. Begitu keluar dari tempat tersebut, ia segera berbaring hingga suhu tubuhnya kembali normal. Napas Morgan masih terengah-engah saat ia tetap terbaring di rumput, memulihkan tenaganya. Saat ia berbaring, rasa kantuk mulai menghampiri hingga akhirnya ia terlelap. Asmothia memperhatikan dari kejauhan, sambil memegang sebatang ilalang di tangannya. Morgan tidur dengan nyenyak, bahkan hingga waktu hampir menjelang petang. Dengan menggunakan kekuatan sihirnya, Asmothia menciptakan sebuah bola air di atas kepala Morgan. Bola air itu terbentuk sempurna, kemudian pecah dan membasahi wajahnya. Morgan terbangun dari tidurnya, mengamati sekitarnya, dan menyadari bahwa hari sudah hampir petang. Tanpa banyak kata, Morgan langsung bangkit dan memulai perjalanan pulang.
Morgan tiba di desa dan segera mandi sebelum tidur. Keesokan harinya, masih di saat matahari belum terbit, Morgan berangkat menuju tempat latihannya. Ia melintasi padang rumput, masuk ke dalam hutan, dan akhirnya memasuki kawasan pepohonan es. Sebelum memasuki area es, Morgan mengambil napas dalam-dalam, mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan yang lebih sulit. Ia mulai melangkah maju dengan meneguhkan hatinya untuk menghadapi suhu -40 derajat yang menusuk tulang. Namun, hanya dalam beberapa detik, tubuhnya sudah menggigil kedinginan, kakinya gemetar dengan keras, dan akhirnya ia terjatuh. Dengan tekad yang kuat, ia mencoba untuk bangkit kembali.
" Dalam menghadapi rintangan ini, aku harus bisa. Namun, rasanya tubuhku tidak memiliki daya lagi " ucap Morgan dalam keheningan pikirannya.
__ADS_1
Berpikir keras, Morgan mencoba mempertimbangkan berbagai cara untuk mengatasi situasi ini. Ia merasa penasaran untuk menggunakan sihir yang dimilikinya. Namun, perasaan ragu dan pertimbangan tentang aturan-aturan yang ada membuatnya bimbang. Meskipun Asmothia tidak memberikan aturan khusus, hal itu semakin membuatnya ragu. Akhirnya, ia memutuskan untuk mencoba menggunakan sihir. Morgan merasakan kekuatan magis keluar dari tubuhnya, namun tiba-tiba kekuatan itu menghilang dan ia tidak dapat lagi mengakses kekuatan sihirnya.
Morgan terkejut ketika tidak dapat menggunakan sihirnya, merasa tubuhnya terkekang oleh sesuatu. Ia menyadari bahwa penggunaan sihir tidak diizinkan, sehingga satu-satunya cara yang tersisa adalah mengandalkan kemampuannya sendiri. Ia mencoba lagi untuk berdiri, namun upayanya sia-sia. Meskipun begitu, Morgan tidak menyerah, ia terus mencoba berulang kali, bahkan puluhan kali, sampai tenaganya benar-benar terkuras. Tanpa sarapan pagi atau makan siang, latihannya terus berlanjut hingga petang. Merasa belum mencapai hasil yang diinginkan, Morgan keluar dari tempat tersebut dan segera pulang. Seperti hari sebelumnya, ia mandi dan berusaha tidur dengan cepat.
Ketika memasuki kamarnya, Morgan melihat sebuah keranjang yang terbuat dari rajutan serat pohon diletakkan di meja kecil dekat tempat tidurnya. Ia mendekat dan terkejut melihat isi keranjang berisi roti bundar, potongan daging, sebotol minuman, dan roti selai. Di samping keranjang, terdapat catatan yang mengatakan, " Habiskan makanan ini atau akan dihukum! "
Morgan tersenyum senang, dalam hatinya berkata, " Aku akan berjuang lebih keras lagi untuk besok "
Morgan berusaha bertahan lebih lama lagi, meskipun rasa dingin tetap dirasakannya, tubuhnya tetap tegar. Perasaannya menjadi senang karena berhasil bertahan lebih lama dari yang ia harapkan. Namun, di tengah kegembiraannya, kepala Morgan mulai terasa berat. Pandangannya menjadi kabur, otot-otot tubuhnya menjadi lemas. Meskipun masih sadar, ia merasakan dirinya jatuh ke belakang dengan samar-samar. Tiba-tiba, tubuhnya dipegang dari belakang oleh seseorang. Dalam keadaan pandangan yang kurang jelas, Morgan melihat cahaya terang dan seorang wanita cantik menopang tubuhnya. Rambut wanita itu bersinar seperti kilauan cahaya dan dihiasi dengan mahkota emas, di samping mahkota itu dihiasi bulu angsa putih seperti salju. Kemudian, mata Morgan perlahan tertutup dan ia kehilangan kesadaran.
Beberapa saat kemudian, Morgan terbangun dan menyadari bahwa ia sudah berada di hutan. Mengingat kejadian sebelumnya, sosok yang menolongnya agar tidak jatuh di kawasan es.
__ADS_1
" Siapa wanita itu? " gumam Morgan.
Banyak pertanyaan muncul di benaknya. Setelah merenung sejenak, “ Kesalahanku kali ini cukup fatal, jika wanita itu tidak menolongku pastinya aku sudah tewas membeku disana. kesalahan yang sama tidak boleh sampai terulang kembali "
Morgan duduk cukup lama di tempat itu, memandang langit yang mulai senja. Akhirnya, diputuskannya untuk berdiri dan pulang menuju desa. Begitu tiba di sana, ia segera mandi dan pergi ke kamarnya. Di depan pintu kamar, Asmothia sudah menunggu dengan tatapan yang tidak senang. " Sepertinya kamu hampir mengalami kematian. Beruntung masih bisa selamat " kata Asmothia.
" Maafkan saya, Putri Thia. Saya begitu bersemangat sehingga lupa akan keselamatan diri sendiri. Kedepannya, saya tidak akan mengulangi kesalahan tersebut " jawab Morgan dengan perasaan bersalah.
Asmothia tersenyum lega, " Bagus kalau begitu. Tetapi ingatlah, wanita yang menolongmu tidak akan menyelamatkanmu lagi jika kamu mati dengan cara yang konyol "
Setelah mengucapkan kata-kata itu, Asmothia pergi. Morgan tetap penasaran, " Lalu, siapa wanita itu? ". Namun, Asmothia hanya melambaikan tangannya sambil melanjutkan perjalanan. Morgan pasrah dengan kejadian tersebut. Ia masuk ke kamarnya dan segera tidur.
__ADS_1