Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
Sumpah


__ADS_3

CHAPTER 7 : SUMPAH


Morgan melangkah masuk ke kamarnya dan menemui Asmothia yang sedang duduk di kasur. Suara lembutnya terdengar saat ia berkata, " Ada apa, Putri Thia? "


" Aku mencium aroma makanan yang lezat. Sekarang perutku terasa kosong. Berikanlah sesuatu yang bisa kumakan! Sekarang juga! " jawab Asmothia sambil meraih perutnya.


 " Aku tidak tahu pilihan makananmu. Kita sudah membahasnya di dapur sebelumnya. Di tempat ini, hanya tersedia daging hewan. Namun, daging manusia tidak mungkin"


Mengerutkan keningnya, Asmothia berdiri, dan berteriak, " Apakah kau menganggapku iblis rendahan? Aku tidak serendah itu untuk makan daging manusia! Segera berikan aku makanan! "


Morgan lalu mengajaknya ke dapur untuk sarapan bersama. Duma terkejut melihat Morgan sudah akrab dengannya. " Wah wah, ternyata kau bisa diandalkan, ya. Gadis kecil itu sekarang sudah menjadi anak yang baik "


Asmothia melontarkan teriakan, " Panggil aku Putri Thia! Jika kamu terus memanggilku 'gadis kecil', aku tak segan untuk mengubahmu menjadi abu, manusia tua! "


Duma tertawa mendengar ancaman itu, lalu mendekati Morgan dan berbisik, " Hei, tampaknya nasibmu tak begitu baik. Bagaimana bisa kau menemukan bocah sombong ini? "


Asmothia melempar pandangannya ke arah Duma dengan wajah cemberut, menyadari hal itu Morgan segera meletakkan makanan di atas meja. Ia bergegas agar tidak membuat gadis itu lebih marah lagi, kemudian menyediakan makanan di piring setiap orang. Semua hidangan dan sayuran diatur dengan penuh kesempurnaan, lalu mereka mulai makan.


Saat Duma dan Morgan hendak makan, mereka melihat dengan takjub bagaimana Asmothia menyantap hidangan dengan lahapnya. Gadis itu melahap tiga ekor ikan besar beserta tulangnya, satu mangkuk besar sayuran habis tersantap, dan roti bundar yang cukup besar lenyap dalam sekejap. Duma tak berkedip melihatnya makan dengan porsi yang tak wajar, seolah-olah makanan yang cukup untuk tiga orang dewasa dimakan sendirian olehnya. Asmothia dengan rakus menghabiskan satu mangkuk besar sayuran beserta kuahnya, empat piring hidangan, dua gelas air putih, dan satu gelas susu dengan cepat.


" Bocah ini benar-benar iblis, melahap semua makanan sudah sepertinya kerasukan. Tapi baguslah jika dia menyukai masakan ku, hehehe. " Dalam hati Duma.


Rasa kenyang sudah dirasakan Asmothia, kata-kata penuh kesombongan keluar dari mulutnya  " Aku mencium aroma pembalasan, sepertinya kalian memiliki tujuan yang sama "

__ADS_1


Asmothia mengambil napas dalam-dalam, " Dan aku melihat Tuan Hefei sudah menemuimu, Morgan. Ceritakan padaku apa yang dia sampaikan kepadamu "


" Ya, benar. Seorang pria bernama Hefei telah menemuiku. Dia hanya menyampaikan pesan dari Raja bahwa ia mengakuiku sebagai penyelamatmu, dan ia meminta aku untuk menjagamu dengan baik " Morgan terkejut.


" Jadi, ayah telah mengakui dirimu, " ucapnya penuh kepercayaan diri.


Setelah sarapan selesai, Duma berpamitan pada Morgan hendak pergi ke pusat perdagangan. Ia ingin menjual tumbuhan herbal yang telah dikumpulkannya. Sementara itu, Morgan menjaga Asmothia agar tidak meninggalkan tempat tersebut, mengingat orang-orang yang menyembah Dewa Cahaya berusaha membasmi iblis sesuai dengan ajaran mereka.


Beberapa saat setelah Duma pergi, Asmothia mengajak Morgan untuk duduk di ruang tamu. Mereka duduk berhadapan di meja, sementara Morgan tidak tahu apa yang akan dilakukan olehnya.


Asmothia duduk dengan tegap dan mengacungkan telunjuknya, " Morgan, kamu telah diakui oleh ayahku dan ditugaskan untuk menjagaku. Ini berarti kamu juga harus melindungiku jika ada bahaya yang mengancam. Pertanyaannya, apakah kekuatanmu cukup untuk melindungiku dari bahaya? "


" Meskipun aku tidak memiliki kekuatan magis, aku akan tetap berusaha. Banyak orang di kerajaan ini memiliki kemampuan sihir, tetapi karena aku lahir sebagai manusia biasa dan tidak menyembah Dewa Cahaya, rohku tidak diberkahi. Namun, aku selalu berusaha melakukan yang terbaik "


Sambil menghela nafas panjang, ia merenung sejenak.


“  Jangan bodoh! “ Dipukulnya meja dengan tangannya yang kecil.


“ Itu mustahil dilakukan oleh manusia biasa, karena pada dasarnya manusia adalah makhluk yang lemah. Tubuh mereka rentan terhadap penyakit, pemulihan dirinya sangat lambat, mudah lelah, dan mudah mati. Meskipun ada yang disebut manusia super, kekuatan super tersebut hanya sebatas mengalahkan ratusan prajurit atau mengangkat benda-benda kecil. Mereka bahkan tidak mampu mengangkat kastil mereka sendiri dengan tangan kosong. Itulah sebabnya manusia meminjam kekuatan yang diberikan oleh makhluk abadi untuk memperoleh kekuatan lebih. Apakah kamu ingin mengulang masa lalumu? "


Kata-kata yang menusuk hati terus dilontarkannya, sementara ia memperhatikan semangat yang kuat yang masih terpancar dari Morgan. Menggunakan setiap kata yang diucapkannya berusaha menghancurkan semangat itu.


Rasa percaya diri yang selalu menyala di dalam diri Morgan seketika berubah menjadi keputusasaan. Ia menyadari seberapa lemahnya dirinya dibandingkan dengan pahlawan legenda yang memiliki kekuatan yang luar biasa.

__ADS_1


Asmothia memegang tangan Morgan, " Aku tadi hanya menguji hatimu. Kelemahan manusia bukanlah terletak pada kekuatan, melainkan pada hati. Meskipun begitu, jangan khawatir. Ayahku telah mempercayaimu. Kamu pasti akan dilindungi, namun aku punya saran yang lebih baik. Bagaimana jika kamu menjadi pelayanku? Dengan cara itu, keinginanmu untuk menguasai sihir akan terwujud. " ujarnya dengan penuh perhatian.


" Tapi, Duma sudah berjanji untuk melatihku dalam menguasai sihir "


" Hahahaha " Asmothia tertawa dengan kerasnya.


Lanjutnya, " Orang tua itu mungkin jenius, tapi mempelajari sihir membutuhkan waktu yang lama. Aku pernah melihat manusia yang menjual nyawa mereka kepada Ayahku hanya untuk mendapatkan kekuatan sihir. Mereka berlatih sendiri selama puluhan tahun namun usaha itu sia-sia. Akhirnya, mereka menjual nyawanya sendiri sebagai ganti kekuatan yang dahsyat "


Dengan suara yang keras, “ Lihatlah ini dan perhatikanlah “


Asmothia mengangkat jari telunjuknya, tiba-tiba api berwarna hitam keluar dari ujung jarinya. Api itu berwarna gelap, namun mampu menerangi ruangan tersebut. Api itu lebih terang daripada lilin-lilin yang ada di sekitar ruangan. Kemudian, berubah menjadi warna biru. Saat itu juga, Morgan tidak bisa menggerakkan tubuhnya. Ia menjadi lumpuh, semua anggota tubuhnya lemas dan tak berdaya. Api itu berubah lagi menjadi warna abu-abu, dan tubuh Morgan dapat digerakkan kembali. Namun, semua inderanya tidak berfungsi. Saat api padam, semuanya kembali normal.


Asmothia tersenyum dengan penuh kesombongan berkata, " Lihatlah betapa lemahnya dirimu. Hanya dengan api kecil ini saja, efeknya begitu kuat. Namun, beruntungnya bagimu, Ayahku telah menunjukmu sebagai penjagaku. Jika tidak, kamu pasti akan dipaksa menjadi budak, dan sebagai gantinya, kekuatanmu akan meningkat pesat "


(Asmothia memegang kedua tangan Morgan)


" Sekali lagi, apakah kamu bersedia menjadi pelayanku? Aku akan melindungimu dan membangkitkan potensi sihir di dalam rohmu. Aku akan melatihmu menjadi manusia terkuat di antara manusia, dan manusia terkuat di antara iblis "


Morgan merasakan peluang yang langka ini. Hatinya terasa ingin menangis, tetapi ia menahan diri. Dengan tekad yang bulat, ia spontan melepaskan tangannya dari genggaman Asmothia. Lalu, ia berlutut di hadapannya dan mengucapkan sumpahnya dengan penuh keyakinan, " Aku bersumpah akan menjadi pelayanmu dan melindungimu. Tetapi, jadikanlah aku kuat seperti yang telah kau janjikan "


Asmothia bangkit berdiri dan berseru, " Salv orbe! "


Ruangan yang tadinya terang seketika menjadi gelap gulita. Kemudian, kata-kata yang penuh dengan kekuatan memenuhi seluruh ruangan.

__ADS_1


" Dengan kekuasaanku, Asmothia Draconius Vortigern Infernus Rex Morbithorn Drakarion, Putri dari Raja Iblis Hellbert Draconius Vortigern Infernus Rex Morbithorn Drakarion II, aku mengangkatmu, Morgan Wolfe, sebagai pelayanku "


Keadaan yang gelap gulita berubah menjadi merah darah, sebuah lingkaran sihir muncul di bawah kaki Morgan. Jantungnya berdegup kencang, dan akhirnya, ia tidak tahan dan pingsan di tempat.


__ADS_2