
CHAPTER 34 : PERTEMPURAN
Asmothia melihat dengan tajam ke arah pasukan api yang membawa palu warna merah, emas, biru, dan putih. Kelebihan dari masing-masing pasukan itu dapat melengkapi kekurangan mereka, hal itu tentu membuat Asmothia harus berusaha lebih keras. Sekali lagi, dia mengangkat tangannya dan memanggil kekuatan sihirnya. Api biru mulai membara di sekitar tangan Asmothia, menciptakan lingkaran energi yang memancarkan kekuatan yang lebih mematikan dari sebelumnya. Dalam sekejap, dia melakukan teleportasi ke hadapan pasukan api yang membawa palu warna merah. Asmothia bergerak dengan cepat, memanfaatkan kecepatan dan ketangkasannya untuk menghindari serangan mereka.
Dalam ketegangan pertempuran, Asmothia merenung dalam pikirannya, “ Aku mengulangi lagi serangan awal, tapi, kali ini harus berhasil “
__ADS_1
Pasukan api yang membawa palu warna merah itu menerjang dengan marah, mengayunkan palu dengan kekuatan yang menghancurkan. Namun, Asmothia dengan lihai menghindari serangan itu dengan gerakan yang lincah dan gesit. Dengan tangannya yang dilapisi api biru, dia mengirimkan serangan balasan dengan daya hancur tinggi. Api biru membelah udara, menghantam pasukan merah dengan kekuatan yang luar biasa. Namun, serangan itu tidak berjalan mulus. Pasukan yang membawa palu emas teleportasi ke depan, mencoba mengatasi serangan mematikan dari Asmothia. Palunya terayun dengan cepat, serangan api dan palu emas itu berbenturan dan menciptakan gelombang kejut yang membuat serangan api itu terpantul kembali. Asmothia menghindari serangan pantulan dengan berlompatan di udara, tetapi beberapa serangan itu masih menggores tubuhnya, meninggalkan luka cukup dalam. Luka itu tepat berada di paha sebelah kanan, darah mengalir perlahan. Tanpa kepanikan, luka itu itu disembuhkannya menggunakan sihir. Setelah mengalami luka tersebut, Asmothia tidak mundur, dia semakin fokus dan memulai menyerang balik. Dengan gerakan yang anggun dan tepat, dia memanfaatkan kekuatan api birunya untuk menghancurkan pasukan yang membawa palu merah dan emas. Gelombang api dengan suhu tertinggi mengalir melalui udara, Palu emas itu ditegakkan untuk membuat perlindungan. Api itu tidak terpengaruh oleh lapisan perlindungan, sebaliknya api biru membelah palu mereka dan melelehkan lapisan api yang melindungi mereka.
Sementara itu, pasukan api yang membawa palu biru dan putih juga tidak tinggal diam. Mereka memanfaatkan kemampuan mereka dan berusaha mengatasi serangan api tersebut. Palu putih melancarkan serangan yang memancarkan sinar cahaya pemusnah, sementara palu biru menghantam dengan gelombang es yang membekukan udara di sekitarnya. Asmothia menghadapi serangan dari berbagai arah. Dia mengelak, berputar, dan bergerak dengan kecepatan kilat, menggunakan kemampuan sihirnya untuk menghadapi semua semua serangan. Api biru dari tangannya digunakan untuk membakar serangan sinar cahaya, sementara angin panas dari api melawan kekuatan beku dari serangan es. Namun, kedua pasukan itu tidak begitu saja mudah dikalahkan. Mereka memiliki kerja sama yang luar biasa, palu putih digunakan untuk melindungi dan memulihkan sementara palu biru menahan api dan angin panas. Asmothia terpaksa mengeluarkan sihir kuatnya, “ Wahai roh api dan roh angin, jadilah sesuai keinginanku dan dengarkan perintahku! “
Asmothia menggabungkan sihir api dan sihir angin untuk menciptakan badai api yang melahap segala sesuatu di sekitarnya. Gelombang panas yang bersuhu tinggi dan pusaran angin yang kuat membuat mereka terdesak. Sementara itu, pasukan yang membawa palu warna putih tetap diam di tempatnya, memperhatikan pertarungan dengan tatapan yang tajam. Ketika gelombang panas dan pusaran angin itu menerpa mereka, palu putih diayunkan dan serangan Asmothia terbakar api putih hingga menjadi netral. Meskipun pasukan palu putih itu sangat lemah dalam pertahanan tubuh namun dialah yang terkuat dari keempat pasukan, memiliki kekuatan yang paling mematikan. Asmothia mulai merasakan tekanan dan intimidasi dari pasukan palu putih tersebut. Menyadari bahwa harus bertindak dengan cepat. Asmothia menambahkan daya pada roh api, menyebabkan suhu di gurun batu itu semakin meningkat pesat. Tanah mulai menghitam, batu pun turut berasap diterpa suhu tinggi. Tubuh Morgan tidak mendapatkan luka akibat suhu panas itu, karena kekuatannya yang lepas kendali membuat perlindungannya juga demikian. Dengan mata yang berbinar-binar, Asmothia mengarahkan serangannya ke arah pasukan yang membawa palu warna putih.
__ADS_1
Pertarungan antara Asmothia dan keempat pasukan api berlangsung dengan intensitas tinggi. Ledakan, gelombang api, dan pusaran angin menciptakan pemandangan kekacauan. Asmothia melihat api yang membakar mulai mengarah ke arah hutan, dia membuat penghalang sihir untuk membatasi peperangan itu. Dengan adanya penghalang sihir itu, pertarungan dapat dilakukan tanpa perlu khawatir. Mereka saling serang dan bertahan, melepaskan kekuatan sihir dahsyat. Pertarungan itu terus berlanjut, menguras energi dan kekuatan mereka. Waktu terasa melambat, dan atmosfer dipenuhi dengan ketegangan.
“ Kekuatan ini hanya bayangan saja, namun kenapa bisa sekuat ini? Jika ini diteruskan lebih lama, kekuatan yang dilepaskan penggunanya akan lebih besar. Harus dihentikan “ gumam Asmothia.
Pertarungan sengit antara Asmothia dan empat pasukan api yang membawa palu warna merah, emas, biru, dan putih masih terus berlanjut. Setiap pihak saling mengadu kekuatan. Serangan dan pertahanan terus bergulir, menciptakan kilatan cahaya, dentuman ledakan, dan kekacauan di area itu. Pasukan yang membawa palu api merah, emas, biru, dan putih juga mulai meningkatkan kekuatannya. Mereka saling bekerja sama, melancarkan serangan beruntun dan menciptakan strategi untuk mengatasi Asmothia. Palu mereka terayun dengan kecepatan dan kekuatan melebihi sebelumnya, setiap palu memancarkan cahaya sesuai warnanya. Mereka menggabungkan kekuatannya dengan menyatu ke pasukan yang membawa palu warna putih, seketika aura yang dimiliki setara dengan leluhur. Asmothia mulai merasa ragu dalam hatinya. Dia mengucapkan dengan nada rendah, " Mustahil, tidak ada peluang untuk menang "
__ADS_1
Pasukan itu mengangkat palunya, lalu dengan pukulan keras, dipukulnya ke tanah. Sebuah gelombang kejut dahsyat merambat di tanah dan di udara, menghempaskan segala sesuatu di sekitarnya. Asmothia ikut terkena dampaknya, terpental ke belakang dengan kekuatan yang mendorongnya hingga terlempar sejauh sepuluh meter. Rasa sakit menjalar melalui tubuhnya, kekuatannya juga berkurang drastis. Palu itu kembali diangkat, tetapi kali ini terlihat lingkaran sihir yang terbentuk di sekitarnya. Tanah bergetar keras, angin berhembus kencang. Dengan kecepatan tinggi, pasukan itu meluncur menuju Asmothia, mengayunkan palu menggunakan kekuatan penuh. Asmothia merasa keterbatasan kekuatannya, tidak mampu melawan kekuatan leluhur yang pasukan itu miliki. Tanpa banyak pilihan, dia memejamkan matanya, menghadapi takdirnya.
Namun, tiba-tiba terdengar sebuah teriakan yang menggema, " Perintah Dewa! Perisai suci! " Dalam sekejap, sebuah perisai emas muncul di depan Asmothia. Perisai itu dilapisi oleh tulisan emas yang bersinar terang. Aura suci dari perisai tersebut menyembuhkan luka-luka Asmothia dan memulihkan tenaganya yang terkuras.