Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia

Jenderal Iblis Adalah Seorang Manusia
CHAPTER 35


__ADS_3

Palu tersebut terayun dengan kecepatan yang sangat tinggi dan menghantam tepat pada perisai suci. Benturan keduanya menghasilkan ledakan yang kuat. Namun, ledakan tersebut bukan semata-mata karena kekuatan palu, melainkan juga karena pantulan serangan balik dari efek perisai suci. Kekuatan tersebut berlipat ganda, dua kali lebih kuat dari kekuatan aslinya. Dampak ledakan tersebut menerjang pasukan api yang membawa palu warna putih, menyebabkan tubuh pasukan api itu terlempar ke belakang dan tercabik-cabik. Serangan balik yang tak terduga membuat pasukan api tersebut menjadi tidak berdaya, dan Asmothia terkejut melihat perisai yang kuat mampu membalikkan serangan. Kemudian, Dewi Zera tiba-tiba muncul di samping Asmothia dengan membawa perisai emas bercahaya di tangan kirinya dan pedang emas di tangan kanannya. Asmothia heran melihat kehadiran Dewi Zera dan bertanya “ Mengapa kamu disini? “. Dewi Zera menjawab dengan santai “  Aku disini untuk menolongmu, Putri Mahkota. Tapi jangan salah paham, apa yang kulakukan ini bukanlah untuk mengabdi kepadamu melainkan membalas budi “


Saat mereka masih berbicara, tubuh api hitam yang tersebar bergerak dan membentuk tubuh baru. Pasukan api tersebut bangkit kembali, dengan tubuh dan palunya pulih seperti semula. Dewi Zera memberikan perintah kepada Asmothia untuk mundur karena kekuatan suci tersebut dapat melukai iblis. Asmothia mengikuti perintah tersebut dan menjauh dari area pertempuran. Dewi Zera mengumpulkan kekuatannya dan mulai mengerahkan kekuatannya, " Perintah Suci! Segel langit! ".

__ADS_1


Langit terbuka, mengeluarkan suara mendesing yang keras. Cahaya terang memancar dan menerangi tempat di mana pasukan api berada. Kemudian, tulisan-tulisan emas turun dari langit yang terbuka. Seperti hujan, semua tulisan tersebut menyelimuti tubuh api dan palunya. Tulisan-tulisan tersebut mengikat semua yang ada di sekitarnya, termasuk aura leluhur yang api itu miliki. Palu yang teraliri oleh aura leluhur dihentakkan ke tanah dalam upaya untuk menghilangkan efek dari kekuatan suci tersebut. Namun, usaha itu tidak berhasil. Tulisan-tulisan mulai bersinar dan mengikat dengan lebih kuat lagi. Kekuatan ikatannya terus bertambah hingga tubuh api itu hancur berkeping-keping. Bagian-bagian api yang hancur berubah menjadi cahaya yang memancar. Palu itu juga hancur bersama dengan tubuh api tersebut. Setelah semua berubah menjadi cahaya, sebuah tulisan bercahaya yang lebih terang muncul dari langit.


Asmothia, yang telah menjauh, merasakan perubahan aneh dalam tubuhnya. Kulitnya perlahan-lahan rontok seperti serpihan. Dewi Zera melemparkan perisainya dekat dengan Asmothia, dan perlindungan emas muncul, menghalangi efek suci tersebut. Serpihan yang telah jatuh dari kulit Asmothia perlahan kembali ke tubuhnya yang rusak.

__ADS_1


Tulisan suci itu mengikat serpihan cahaya yang telah terikat sebelumnya, dan energi yang kuat masuk ke dalam tubuh Morgan. Semua serpihan cahaya itu terserap sepenuhnya oleh tubuhnya. Akibatnya, semua kekacauan itu menghilang. Dewi Zera mengambil kembali perisainya sambil Asmothia memperhatikannya. Asmothia kemudian mengajukan pertanyaan, " Tunggu, mengapa kekuatan suci dari perisai itu tidak bisa melukai saya? "


Setelah memberikan penjelasan tersebut, Dewi Zera melangkah dengan hati-hati menuju Morgan, kemudian mengangkatnya dengan penuh perhatian. Asmothia, yang merasa kebingungan dan cemas, berlari mendekat dan bertanya, " Tunggu! Mengapa kamu yang membawanya? "

__ADS_1


Asmothia berusaha menahan Dewi Zera agar tidak masuk ke desa. Namun, upayanya diabaikan oleh Dewi Zera yang tetap melangkah maju menuju desa. Asmothia berteriak dengan keras, " Tunggu! " Dewi Zera menoleh ke arahnya, dan Asmothia melanjutkan, " Kenapa kamu begitu keras kepala ingin membawa Morgan? Apa rencanamu kali ini? " Tatapan Asmothia mencerminkan rasa kesalnya. Suasana menjadi tegang, dan Dewi Zera menjawab dengan sikap santai, " Rencanaku hanya untuk menolong bocah ini. Karena permintaan ini datang dari Ayahmu sendiri, maka saya tidak dapat menolaknya "


Asmothia hanya bisa terdiam, menyadari bahwa ayahnya telah memerintahkan seorang dewi langit untuk membantunya. Dalam pengetahuannya, ranah iblis dan langit selalu terlibat dalam pertempuran tanpa henti, para dewa dan dewi dikenal sangat setia kepada raja langit. Namun kini, dewi langit tersebut membantu Asmothia, yang sejatinya adalah musuhnya sendiri. Hal ini menciptakan kebingungan dan kekhawatiran yang sulit dipahami dalam dirinya.

__ADS_1


__ADS_2