
CHAPTER 2 : MATA UANG
Di dalam gang yang sempit, terdengar suara ramai para lelaki paruh baya yang berkumpul dengan sorakan dan tawaan. Morgan, yang tidak sengaja lewat gang itu, merasa hatinya berdegup kencang. Dia mengetahui betul apa yang menantinya di tengah kerumunan itu, tetapi keberaniannya tidak memudar.
Tidak ada jalan lain, selain melewati gang itu. Morgan melangkah maju, mencoba melewati mereka. Pandangannya fokus, menguatkan hatinya, seolah-olah tak akan terjadi hal yang buruk. Salah seorang dari mereka menatap Morgan dengan tajam, mata mereka penuh dengan ancaman yang tak terucapkan.
Saat tiba di depan mereka, tanpa kata-kata, para lelaki itu menyerbu Morgan dengan kejam. Tangan-tangan kasar mereka menerjang tubuhnya, memukul dan menghantamnya tanpa belas kasihan. Suara gemuruh pukulan dan jeritan sakit bergema di gang yang sunyi. Morgan terbanting dengan keras di atas meja yang sudah retak akibat kekuatan pukulan yang diterimanya.
Tubuhnya dipenuhi luka-luka, darah mengalir deras dari hidungnya yang patah, sementara mata yang dahulu penuh semangat kini penuh dengan kesakitan dan keputusasaan. Morgan telah menderita penganiayaan ini hampir setiap hari oleh penduduk desa tersebut, yang melihatnya sebagai sosok terkutuk yang menentang keyakinan mereka. Dalam serangkaian kejadian tragis, para pejuang yang dahulu berjuang bersama Morgan telah berbalik menyerangnya, dikuasai oleh rasa frustrasi dan dendam setelah kekalahan telak dalam pertempuran melawan pahlawan legenda.
Saat Morgan berusaha bangkit untuk melawan, tiba-tiba saja….
Gubrak!
Terdengar keras suara kayu yang patah, bersamaan dengan seruan keras ”Mampus!!!!”
Seorang lelaki paruh baya dengan kekuatan luar biasa menghantamnya dengan kursi hingga patah yang membuatnya terlempar jauh. Tubuh Morgan tergelincir di tanah, menghempaskan debu di udara. Melihat nya sudah tak bisa melawan, mereka semua pergi, meninggalkan Morgan yang terbaring lemah dan terluka di tengah kegelapan gang yang dingin.
Namun, di balik rasa sakit dan penderitaannya, Morgan merasakan api kemarahan membara di dalam dirinya. Morgan tahu bahwa dia tidak bisa terus hidup dalam siksaan dan perlakuan tidak adil ini.
“Sesuatu harus berubah.” ujarnya.
Morgan mengumpulkan sisa-sisa kekuatannya dan duduk bersandar di dinding. Di dalam hatinya dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa suatu hari akan dibuktikan bahwa manusia terendah bisa menjadi lebih dari sekadar sasaran penghinaan. Suatu hari, dia akan bangkit sebagai seorang yang menakutkan, seperti iblis yang tak tertandingi, dan membalas perlakuan yang mereka berikan kepadanya.
Dengan tekad yang terukir di dalam jiwanya, Morgan menutup matanya dan membiarkan gelap merajai pikirannya. Di balik kegelapan,dia sangat ingin membalaskan dendamnya pada kerajaan Cahaya. Hidupnya kini kian memburuk dari apa pun, pemuda dan prajurit yang ada di desa itu selalu menyerangnya tanpa sepatah kata pun.
Dengan sempoyongan Morgan memaksakan dirinya untuk bangun dan melangkah pulang ke rumah yang sudah reot. Rumah kecil nan kumuh itu hanya menyediakan air dingin sebagai satu-satunya obat bagi luka-lukanya. Dia tidak mampu membeli obat-obatan mahal yang dihargai dengan lima keping koin emas. Sebagai pencari rumput dan pembersih kotoran, Morgan hanya mendapatkan imbalan sepuluh koin perunggu. Namun, dengan semua kesengsaraan yang terjadi tidak membuatnya menyerah dengan keadaan.
__ADS_1
Morgan membasuh lukanya di teras depan rumahnya. Menggunakan baju yang sudah tak terpakai, dia membasuh lukanya dengan perlahan.
Tiba-tiba wanita tua datang menghampirinya dan memberikan obat dari daun herbal, “ Ini, oleskan pada lukamu. semakin kamu terluka, terlihat jelas betapa menyedihkannya dirimu “
Sahut Morgan. “ Terima kasih Nek, tapi mengapa? Kau bisa dihukum bila sering membantuku “ .
Jawab wanita tua itu, “ Aku bukan ingin membantumu, tapi aku ingin kamu membeli suatu barang yang ku butuhkan. Ini yang dinamakan balas budi, bukan? Jangan lupa antarkan ke rumahku“ sembari tertawa wanita tua itu memberikan koin bersimbol cahaya dan sebuah kertas kecil yang berisi petunjuk jalan menuju toko misterius.
Kemudian wanita tua itu pergi meninggalkannya, Morgan tidak bisa melawan kata-katanya karena lukanya langsung membaik setelah dioleskan dengan obat itu. Morgan selalu melihat wanita tua itu datang memberikan sesuatu seperti makanan, atau minuman kepadanya.
Kata nya sambil mengoleskan obat, “ Aku bahkan tidak mengenalnya, namanya saja tidak tahu. Tapi mengapa dia selalu membantuku? Meski begitu, aku harus tetap membalas kebaikannya “
Maka pergilah Morgan mengikuti instruksi dari peta kecil itu. Meski hatinya sangat tidak nyaman, dia tetap pergi untuk membalas kebaikan wanita tua tersebut. Setelah berjalan cukup jauh, ia melihat gerbang yang terbuka. Namun, di dalam instruksi terdapat gua kecil yang tertutup oleh bendera Kerajaan.
Morgan menemukan lokasinya, dia menarik bendera itu dan terlihat gua dengan lorong-lorong yang gelap. Di sisi kanan gua itu terdapat lilin yang terbuat dari lemak hewan, diambilnya lilin itu untuk menyusuri kedalam gua. Di dalam lorong gua sangat dingin, suara dari kakinya berjalan di tanah yang berlumpur terdengar sangat jelas.
Morgan menemukan tiga cabang, di dalam instruksi diharuskan untuk melewati cabang yang ke empat dengan batu berbentuk runcing sebagai tuas membuka pintu tersembunyi. Sesuai gambar di petunjuk, tuas itu ditemukan di antara sela-sela batu di cabang yang ke tiga, Ditariknya batu runcing itu dan terbukalah pintu batu itu. Lorong itu dipenuhi dengan banyak lilin di sisi kiri dan kanan sehingga terlihat jelas jalan yang dilewatinya. Setelah beberapa saat berjalan, Morgan menemukan toko kecil dengan banyak sekali tulang belulang menghiasi pintu serta jendela.
“ Ada yang bisa saya bantu? “ Ucap pria itu dengan tatapan tajam.
Morgan menjawab, “ Saya ke sini disuruh oleh seorang Nenek dari desa Kai untuk membeli pesanan nya. “ Lalu diberikannya koin itu kepada Pria tersebut.
Pria itu menatap koin tersebut dengan serius
“ Ohh, ternyata kau bocah menyedihkan bernama Morgan itu kan? Nenek Silva telah memberitahuku banyak hal tentangmu. “, Lalu dia tertawa dengan keras.
Morgan merasa heran ketika menyadari bahwa nenek itu memiliki hubungan dengan orang lain selain dirinya. Sebelumnya, Morgan tidak pernah melihat nenek tersebut berinteraksi dengan penduduk desa atau berbicara dengan mereka.
__ADS_1
Setelah beberapa saat, ekspresi pria itu berubah drastis, lalu dia bertanya dengan tatapan yang serius, " Apakah kau tahu, koin ini adalah apa? ".
Morgan yang gugup menjawab, " maaf, hanya kali ini aku melihatnya, jadi aku tidak tahu."
Jawab pria itu dengan senyuman lebar, “ Baiklah, aku jelaskan sedikit tentang keuangan di Kerajaan aneh ini. Dengarkan baik-baik!
Di dalam kerajaan Cahaya, sistem perekonomian dan perdagangan yang diterapkan menyebabkan harga barang sangat tinggi, sehingga masyarakat jelata merasa sangat terjepit. Namun, perlu dicatat bahwa kondisi ini hanya berlaku di wilayah Negeri Cahaya.
Dan eee …
Pengetahuan umum dalam sistem ekonomi yang ada di Luminos, didasarkan pada nilai-nilai koin yang berbeda. Ada koin perunggu, koin perak, koin emas dan koin lumina.
(Menunjukkan koin perunggu)
Yang pertama, koin perunggu memiliki nilai paling rendah dan sering digunakan oleh kalangan bawah. Koin perunggu ini tidak pernah berada di tangan para bangsawan, sebab dianggap tidak bernilai. Ketika seseorang mengumpulkan seratus keping koin perunggu, nilainya akan setara dengan satu koin perak.
(Menunjukkan koin perak)
Lalu, koin perak merupakan koin dengan nilai menengah yang umum digunakan oleh pedagang kecil hingga menengah. Koin perak ini menjadi lambang transaksi perdagangan yang lebih signifikan. Ketika seseorang berhasil mengumpulkan seratus koin perak, nilainya setara dengan satu koin emas.
(Menunjukkan koin emas)
Selanjutnya, adalah koin emas. Masuk dalam kategori koin bernilai tinggi yang menjadi simbol kemewahan dan kekayaan. Koin ini sering digunakan oleh pedagang kelas atas, bangsawan, dan kerajaan. Apabila koin emas ini sudah rusak atau bentuknya tidak utuh, dapat di daur ulang menjadi bahan baku dari benda-benda berharga. Akan tetapi, koin emas di Kerajaan Cahaya terlalu dibanggakan sehingga hampir di setiap transaksi selalu menggunakan koin emas. Inilah mengapa harga obat oles saja bisa mencapai 3 keping emas.
(Menunjukkan koin lumina bergambar Cahaya)
Terakhir, ada koin lumina yang merupakan koin tertinggi. Koin lumina berasal dari kata "Luminos" yang melambangkan simbol dunia. Gambar cahaya yang terdapat di koin tersebut melambangkan Dewa Cahaya yang pertama kali turun dan menjadi yang terkuat di Luminos. Koin lumina termasuk dalam kategori koin langka, karena biasanya hanya diberikan sebagai penghargaan oleh Raja, namun ada cara lain untuk mendapatkannya. Seseorang dapat mengumpulkan seratus juta keping emas dan menukarnya di pusat perdagangan atau menara kekayaan untuk mendapatkan satu koin lumina.
__ADS_1
Namun, koin lumina sangat langka dan eksklusif, hanya dimiliki oleh keturunan raja dan bangsawan yang sangat kaya. Nilainya yang sangat tinggi menjadikannya sebagai simbol kekuasaan dan prestise yang memikat. “
Setelah mendengar penjelasan pria itu, Morgan menyadari dengan tajam ketidakadilan yang melanda masyarakat di sekitarnya. Sistem ekonomi yang ada semakin memperlebar kesenjangan antara orang kaya dan miskin. Orang-orang seperti Morgan, yang hidup di desa terpencil dan dilupakan, terus menderita dalam kemiskinan yang tak berkesudahan. Namun, tekad untuk mengubah hidupnya tak padam begitu saja. Dia merasa harus bertahan dalam kesengsaraan demi mewujudkan impian nya itu