
CHAPTER 8 : TUAN DAN PELAYAN
Beberapa saat kemudian, Morgan sadar kembali. Ia merasakan kepala yang pusing dan tubuhnya terasa lemas. Detak jantungnya telah kembali normal. Ketika melihat sekeliling, ia menyadari bahwa ia berada di tempat tidurnya. Asmothia duduk di sampingnya, tampak senang melihatnya. Morgan segera bangkit dan bertanya,
" Apa yang terjadi? Kepalaku sangat pusing " Ia memegang kepalanya yang masih terasa pening.
Dengan senyuman sombongnya, Asmothia menjawab, " Sepertinya ikatan kita berhasil, untunglah kamu masih hidup "
" Apa maksudmu, Putri Thia? " jawab Morgan yang masih lemas.
Asmothia berdiri dan berkata dengan keras,
" Morgan, kamu telah terikat oleh sumpah mutlak antara ‘Tuan dan Pelayan’. Ikatan ini memiliki risiko tinggi bagi mereka yang tidak memiliki pertahanan diri, contoh mudahnya adalah manusia sepertimu. Makhluk tanpa kekuatan dan perlindungan. Proses ini mengikat roh tuan, yaitu aku, dan mengambil 35% energi kehidupan dari pelayan sebagai tanda tangan. Pada momen ini, peluang bertahan bagi yang tidak memiliki mana adalah 90%. Untunglah kamu selamat, wahai pelayanku "
Morgan menjawab, " Apakah aku akan selamanya merasa pusing seperti ini? "
Mendengar itu, Asmothia menggigit ujung jari telunjuknya, lalu memerintahkan Morgan dengan tegas untuk membuka mulutnya. Awalnya Morgan merasa ragu. Namun, ketika melihat wajah Asmothia yang tersenyum, ia merasa tidak enak hati sehingga memberanikan diri untuk membuka mulutnya. Asmothia mengulurkan tangan kanannya ke depan, menekan ujung jari telunjuknya sehingga tetesan darah mulai mengalir.
__ADS_1
Dengan suara Asmothia bergema di seluruh ruangan kamar,
" Akulah tuanmu, akulah penguasa atas segala hidupmu. Dengan ikatan ini, sebagai tuan, aku mengembalikan keadaanmu seperti semula. Larv sal oulbe "
Tetesan darah jatuh ke dalam mulut Morgan, dan seketika itu angin kencang mengangkat tubuhnya sedikit. Rasa pusing yang melingkupi kepalanya menghilang seketika, dan tubuhnya yang lemas kembali normal. Morgan merasa senang dengan keadaannya saat ini, rasa sakit akibat luka yang sebelumnya ia rasakan telah sembuh dengan sempurna.
Asmothia tertawa keras, lalu menjelaskan, " Inilah yang disebut kekuatan 'Tuan dan Pelayan'. Kekuatan ikatan ini bergantung pada tingkatan tuannya. Aku sebagai Putri Mahkota memiliki tingkatan ke-10, sehingga kamu juga berhak mendapatkan 10 keuntungan yang sejalan dengan tingkatan tersebut. Keuntungan-keuntungan itu mencakup regenerasi, kekuatan fisik dan sihir, perlindungan mutlak, kebangkitan, kehidupan abadi, kekuatan dewa, anti-sihir, tak terbatas ruang dan waktu, peningkatan super, serta perintah mutlak. Namun, perlu diingat bahwa keuntungan-keuntungan itu tidak diperoleh dengan cuma-cuma. Kekuatan ini didapatkan melalui ujian yang berat, dan setelah mencapai tingkatan kesepuluh, kamu berhak menghadap Ayahku, Raja Iblis "
Kepercayaan diri Morgan mulai bangkit kembali, dan ia merasa bahwa kesempatan untuk mengalahkan mereka yang telah menyiksanya akan segera terwujud. Setelah kejadian tersebut, mereka melanjutkan mengobrol hingga petang tiba. Asmothia bercerita banyak hal yang meninggikan dirinya, namun Morgan sudah mulai menganggap itu sebagai bagian dari kehidupannya. Karena itu, ia tidak terganggu dengan kesombongan Asmothia.
Tiba-tiba, seekor burung masuk ke dalam toko Duma dan hinggap di meja dekat Morgan. Burung tersebut membawa gulungan kertas kecil yang diikat di kakinya. Morgan mengambil gulungan kertas itu dan membukanya. Ternyata, itu adalah surat dari Duma yang mengatakan bahwa ia tidak akan pulang dalam beberapa hari karena ada urusan bisnis yang sangat penting. Kali ini, Morgan benar-benar berdua dengan Asmothia, dan ia merasa bertanggung jawab untuk menjaganya agar tidak keluar dari gua tersebut.
Cahaya silau tiba-tiba muncul di depan Morgan, membentuk sebuah lingkaran biru yang berputar perlahan. Kemudian, muncul lapisan kedua lingkaran dengan simbol pedang terletak di tengahnya. Lingkaran sihir berwarna biru es terbentuk, menerangi seluruh ruangan. Lingkaran sihir itu mulai naik ke atas, dan dari bawah, mulai terlihat bentuk sepatu besi yang mengkilap. Ketika bentuknya telah terlihat sepenuhnya, terlihat jelas seorang pria tinggi dengan wajah tampan berdiri di sana. Rambutnya panjang berwarna putih salju, matanya berwarna biru es, dan pakaiannya berwarna biru dengan lapisan armor yang mengkilap. Pria tersebut tidak mengenakan pakaian perang seperti pria bernama Hefei yang pernah muncul dalam mimpi Morgan, melainkan memiliki pakaian yang tidak sepenuhnya berlapis armor.
Morgan terdiam kaku saat melihat pria itu, aura es yang kuat dari pria tersebut membuat tubuhnya kedinginan sehingga gerakannya terbatas. Pria itu berdiri dengan kedua tangannya di belakang punggungnya.
Pria itu menatap mata Morgan dengan tajam, kemudian berkata, " Jangan takut. Saya datang kemari hanya untuk melihat keadaan Putri Mahkota, dan sepertinya dia dalam keadaan baik. Rajaku sudah mengetahui bahwa kamu telah melakukan ikatan sebagai pelayan Putri Mahkota. Inilah pesan dari Rajaku: Mulai sekarang, kamu harus lulus dari ke-10 ujian yang telah dijelaskan oleh Putri Mahkota. Namun, hanya Raja yang dapat menentukan apakah kamu pantas mengikuti ujian tersebut. Dan, perjalanan panjangmu akan dituntun langsung oleh Putri Mahkota. Ingatlah itu, manusia "
__ADS_1
Suara pria itu mengandung energi sihir yang mengintimidasi, membuat Morgan merasa tertekan oleh kekuatan yang luar biasa tersebut. Namun, dengan mengerahkan seluruh kekuatan yang dimilikinya, ia memberanikan untuk bertanya,
" Maaf jika terlalu lancang, bolehkah saya mengetahui nama Anda? "
" Namaku Frost. Zephyrion Frostblade von Hellbert " jawabnya dengan tegas.
Setelah itu, Frost pergi dengan menggunakan teleportasinya yang melambangkan pedang. Ruangan yang sebelumnya diselimuti es kini kembali normal. Morgan bisa menggerakkan tubuhnya dengan bebas, ia sangat terkejut dengan apa yang baru saja terjadi. Dengan rasa ketakutannya masih terasa, Morgan pun pergi tidur.
Pagi harinya, Morgan bangun dan menyadari bahwa Asmothia sudah tidak ada di tempat tidur. Ia segera pergi ke dapur untuk mencari tahu, dan benar saja, Asmothia sedang sibuk memasak roti di atas tungku. Bajunya, pipinya, dan tangannya terlihat kotor karena bekas arang. Ia tampak sangat berusaha keras untuk menyalakan api dan memasak roti. Dari kejauhan, Morgan berlari mendekatinya dan bertanya,
" Putri Thia, apa yang sedang kamu lakukan? Mengapa kamu tidak membangunkanku? "
Asmothia dengan nada sombongnya, " Sejak melihat manusia tua itu membuat roti, aku jadi ingin mencobanya juga. Lihatlah, meskipun bentuknya hampir sempurna, tapi rasanya enak "
Morgan melihat roti tersebut. Bentuknya memang tidak menyerupai roti dan terlihat agak gosong, tetapi baunya cukup enak. Ketika Morgan mencicipi roti tersebut, ia merasa rasanya terlalu manis, meskipun begitu roti tersebut masih layak dimakan. " Hmm, enak juga roti ini " ujarnya.
Asmothia menjawab dengan penuh percaya diri, " Hahahaha, aku sudah tahu. Sebagai pelayan, kamu harus mengikuti resep ini, ya "
__ADS_1
Morgan tersenyum memaklumi sifat Asmothia yang terlalu percaya diri. Ia tidak berani mengatakan bahwa roti tersebut terlalu manis. Kemudian, mereka menikmati makanan yang telah disiapkan Morgan sejak malam sebelumnya, serta roti buatan Asmothia yang memiliki bentuk yang aneh.