
CHAPTER 13 : PERTARUNGAN TAK TERDUGA
Kesatria itu berkata, " Ternyata si Morgan sang pahlawan gagal telah bersekutu dengan iblis, dosa-dosamu sudah tidak bisa diampuni. Sekarang kupastikan kematianmu hari ini bersama iblismu ini "
" Tunggu dulu, sampah " Asmothia menjawabnya dengan wajah sombongnya serta mulutnya tersenyum menghina.
Kesatria itu menatap Asmothia dengan penuh kesal,
" Apa katamu? Apa derajatmu sampai bisa memanggilku sampah? Manusia telah dilahirkan dengan derajat lebih tinggi darimu, iblis! "
“ Hah? manusia lebih tinggi katamu? memangnya apa yang bisa dilakukan manusia sehingga bisa menyamakan kedudukan mereka denganku. Jika dibandingkan sesama manusia, derajatmu lebih rendah dari Morgan. Setidaknya dia tidak mengorbankan manusia lain demi kekuatan pribadi, hanya sampah yang membuat peraturannya sendiri lalu dilanggar sendiri “
“ Akulah Lause, sang kesatria legenda yang diwarisi kekuatan dewa cahaya. Sudah banyak iblis yang ku musnahkan, apalagi iblis kecil sepertimu menantangku. Jangankan iblis, raja iblis pun akan ku lenyapkan! “ ucap kesatria itu dengan penuh kekesalan.
Asmothia meletakkan tangannya di pinggangnya, “ Hahahaha. Baiklah, tapi ingatlah, sampah tetaplah sampah. Sampai kapanpun sampah tidak akan pernah menjadi lebih baik, karena sekuatnya sampah hanya akan berakhir membusuk “
Lause sangat kesal dengan kata-kata pedas yang dilontarkan padanya. Urat di keningnya menonjol, tangannya gemetar ingin segera menebas. Lalu berteriak,
" Dari tadi hanya sampah yang terucap dari mulutmu! Kau pikir aku siapa! "
“ Tentu saja, kau adalah sampah “ ucap Asmothia dengan nada menyepelekan Lause.
Teriakan keras terucap dari mulut Lause,
“ 7 pedang suci! “
__ADS_1
Awan hitam terbentuk dalam waktu singkat, petir menggelegar mewarnai langit yang tertutup oleh awan hitam. Secara cepat, tujuh pedang bercahaya emas turun dengan kecepatan tinggi. Pedang-pedang itu mengejar otomatis, langsung mengarah pada Asmothia. Lause tersenyum senang melihat sihirnya akan berhasil.
Asmothia tetap tak bergerak dari tempatnya berdiri, lalu ia melirik Morgan. " Wahai pelayanku, lihatlah caraku bertarung, simak dan amati " kata Asmothia dengan nada sombong.
Suara keras menggema di seluruh hutan.
" Asta igni! " seru Asmothia.
Tujuh pedang cahaya terbang cepat ke arah Asmothia. Saat mereka tepat di depan wajahnya, Lause tersenyum lebar, namun tiba-tiba...
“ Blarrr “
Cahaya merah darah menghantam ketujuh pedang itu, ledakan besar terjadi mengakibatkan tanah menjadi terbelah. Ledakan besar itu cukup luas sehingga membuat Lause terpental cukup jauh ke belakang, ketujuh pedang cahaya itu juga hancur berkeping-keping. Lause terkejut sehingga matanya melotot lebar, baju besi yang dipakainya juga mengalami kerusakan membuat perutnya tergores.
" Apa-apaan ini! Iblis ini meremehkanku, tidak akan kubiarkan! " seru Lause dengan amarah.
Asmothia mengerutkan keningnya, matanya penuh kemarahan. " Dia benar-benar ingin menjual nyawanya pada dewa cahaya " gumam Asmothia.
" Hah? " Morgan terkejut mendengar kata-kata Asmothia. Ia menoleh ke arah Lause, tangannya menggenggam erat.
Lause selesai menggambar lingkaran sihir, darah yang dioleskan memancarkan cahaya keemasan. Tubuhnya terangkat ke udara, dan cahaya terang turun dari langit, menghujani seluruh tubuhnya. Bayangan dewa cahaya muncul di langit, yang sebelumnya gelap berubah menjadi terang. Mata Lause memancarkan sinar emas, kekuatan yang dahsyat meliputi setiap anggota tubuhnya.
" Kalian para pendosa sudah tidak bisa diampuni, hari ini juga kalian akan dilenyapkan! " suara Lause berubah menjadi suara dewa yang sangat nyaring dan penuh kekuatan.
Asmothia berteriak keras, " Kau mengatakan orang lain berdosa, sedangkan dirimu menjual jiwamu kepada dewa. Manusia munafik! "
__ADS_1
" Superpower: Cahaya penghakiman " ucap Lause dengan penuh kekuatan cahaya.
Cahaya menyinari dan langit terbelah, membentuk lubang raksasa. Lause mengangkat pedangnya ke atas menggunakan tangan kanannya, lalu mengarahkannya pada mereka berdua. Cahaya besar turun dengan suara gemuruh yang mirip seperti gejolak magma di kawah gunung.
Morgan melihat cahaya raksasa yang akan menghantam mereka, ia terjatuh ke tanah karena gemetar oleh kekuatan yang dahsyat itu. Suara gemuruh yang keras semakin menambah kengerian cahaya tersebut.
Asmothia juga mengacungkan tangannya ke arah Lause, matanya berubah menjadi hitam dengan kornea berwarna merah darah.
" God Command: Lubang Hitam! " suara Asmothia menggema keras, lebih keras daripada suara gemuruh cahaya tersebut.
Sebuah lubang hitam muncul di langit, suara nyaring yang tak beraturan mewarnai kemunculannya. Cahaya raksasa yang akan menghantam langsung terhisap ke dalam lubang itu, seluruh awan dan segala cahaya terserap dengan kuat. Langit yang tadinya terang seperti siang berubah menjadi gelap seperti malam. Waktu di dunia Luminos yang seharusnya sudah pagi kembali berubah menjadi malam. Kekuatan Lause juga terserap habis, ia terjatuh ke tanah dengan keras, sehingga tulang rusuknya patah. Lubang hitam itu perlahan menghilang, dan akhirnya semuanya kembali seperti semula.
Asmothia mendekati Lause, ia meraih rambutnya dan menariknya ke atas dengan kuat hingga mendongak ke atas.
" Kau adalah manusia paling rendah di Luminos ini, kekuatanmu membawa kehancuran bagi dirimu sendiri. Keberanianmu melawanku adalah sebuah kesalahan besar, maka aku akan mengirimkanmu ke kerajaanku, tempat di mana kamu akan menjadi budak " kata Asmothia dengan nada menghina.
Setelah mengatakan itu, Asmothia berdiri. Ia menghentakkan kakinya sehingga tanah terbelah, lalu tangan-tangan merah iblis menarik Lause masuk ke dalam lubang tersebut. Semua sudah kembali normal, Namun tiba-tiba langit berubah menjadi keemasan. Cahaya itu lebih kuat dari milik Lause, datangnya cahaya membakar hutan hampir setengahnya. Munculah sesosok raksasa dengan rambut panjang, setengah badannya tertutup oleh terangnya cahaya. Sosok itu adalah dewa cahaya, kekuatannya membuat Asmothia cukup tertekan.
" Putri mahkota iblis! " ucap dewa cahaya dengan suara yang berat dan menggelegar di langit, membuat semua kerajaan cahaya berhamburan membunyikan lonceng tanda bahaya. Beberapa pasukan juga sujud pada sosok dewa cahaya.
Lalu dewa cahaya menggenggam tangannya, sihir besar dan kuat mengguncang seluruh dataran kerajaan cahaya, getarannya bahkan sampai ke kerajaan naga dan kerajaan laut di utara.
“ Arrghh… Aku tak bisa bernapas “ ucap Asmothia dengan suara yang tercekik, ia pun sambil memegang lehernya.
Karena tekanan yang makin kuat itu, tubuhnya menjadi lemah dan membuatnya jatuh tersungkur. Morgan segera menangkap Asmothia yang hampir tak sadarkan diri, meski Morgan sendiri juga menahan tekanan yang luar biasa kuat. Dewa cahaya menarik sebuah tombak, langit seakan menjadi sangat gelap. Hanya cahaya dari dewa cahaya yang bersinar terang, lalu dengan kekuatan yang dahsyat, ia melemparkan tombak itu tepat menuju Asmothia yang sudah lemah akibat tekanan yang begitu kuat.
__ADS_1
Cahaya yang menyilaukan membuat tombak itu semakin kuat, sementara Morgan melindungi Asmothia dengan tubuhnya. Ia sudah pasrah dengan keadaan yang melampaui batasnya, air matanya mengalir deras, berharap ada keajaiban yang akan melindungi mereka berdua.
Morgan menangis sambil memeluk Asmothia, suaranya penuh dengan keputusasaan, " Tolong... Tolonglah, siapapun, selamatkan Putri Thia! "